Hari itu kantor pusat kembali dipenuhi cahaya lembut matahari sore yang menembus kaca tebal. Ruangan Josephine tampak lebih sunyi dari biasanya—hanya suara denting jam dinding dan langkah sepatu teratur dari asisten yang lalu-lalang di luar. Di depan meja besar dari marmer putih itu, Hyun berdiri dengan wajah yang tenang namun menyimpan semacam kegigihan yang membuat Josephine ingin menarik napas panjang. “Sekretaris pribadi?” Josephine mengulang pelan, menekankan setiap suku kata seperti menimbang apakah kata itu sungguh keluar dari mulut Hyun. Hyun mengangguk cepat tanpa ragu. “Saya mengajukan diri untuk posisi itu. Posisi Jeremi sudah kosong, dan saya memiliki pengalaman administratif dari rumah sakit. Saya juga memahami sistem kerja keseluruhan perusahaan Farmasi dan Senjata.” “Peng

