Pagi itu, langit tampak bersih seolah menutupi semalaman badai kecil yang tak seorang pun tahu terjadi di hati masing-masing penghuni rumah keluarga Dev. Elizah duduk di meja makan sendirian, memainkan sendoknya dengan gelisah. Tatapan matanya kosong menatap secangkir teh yang mulai dingin. Langkah kaki lembut terdengar dari arah tangga. Josephine turun dengan kemeja putih dan blazer abu-abu, wajahnya tenang tapi matanya memancarkan lelah. Ia baru saja menyelesaikan laporan pagi ke Dewan Direktur cabang luar negeri—dan jelas belum tidur. “Kamu bangun lebih awal dari biasanya,” ucap Josephine sambil menuang teh baru untuk dirinya sendiri. Elizah mengangguk. “Aku nggak bisa tidur.” Josephine menatap adiknya sejenak, lalu menarik kursi duduk di seberang. “Karena Rox?” tanyanya langsung,

