Malam itu seharusnya menjadi malam perayaan. Meja makan penuh dengan suara adu sendok garpu, aroma masakan Elara, dan percakapan yang mengalir seperti musik lembut. Namun, semua berubah ketika Rox menunduk sedikit, menghela napas panjang, lalu mengucap satu kalimat yang menembus udara. “Berapa lama kandungannya?” Josephine tidak mencerca. Dia hanya ingin tahu sejak kapan hubungan Rox dan Jeremi sudah sejauh itu. Bahkan dia sudah lama tidak menggoda Rox karena kesibukan mereka. “Trimester pertama,” Rox menambahkan. Josephine menatapnya seperti menatap orang asing. “Paman... tahu ini salah?" “Aku tahu.” Nada datarnya membuat ruangan terasa lebih dingin. Elizah menggenggam sendoknya erat, wajahnya menegang. “Ini gila.” Ia berbisik lebih pelan. Machi dan Hyun saling memandang karena

