Sore itu aroma tumisan daging dan saus bawang memenuhi rumah besar megah dihias gorden panjang menggantung seperti selimut hangat, siap menyambut siapa pun yang melangkah masuk. Untuk pertama kalinya setelah waktu terlalu panjang, ruang makan megah itu terisi suara hidup—krincing gelas, suara piring, langkah terburu-buru Elara, dan hembusan tawa kecil. Mama Elara berulang kali bolak-balik dari dapur meski dibantu sepuluh asisten rumah tangga Dev, wajahnya sedikit memerah. “Josephine, bisa bantu mama, ya. Ayam panggangnya harus matang merata. Aku tidak mau ada bagian yang mentah.” Tunjuk Elara pada asisten koki setelah melihat hasil panggangan. Josephine tanpa menoleh dari ponselnya berdiri dan menjawab. “Baik, Mama.” Nada itu datar, tapi ada sesuatu yang lebih lembut mendekam di dalam

