7. Kedatangan Marcuss

858 Words
Pagi ini cuaca begitu sejuk, suara kicauan burung dipohon terdengar begitu indah seperti alunan musik yang saling menyambung. Tidak ada kebisingan dan juga klakson, yang ada hanya ketenangan. Itu yang dirasakan Alena saat ini. Begitu lama tinggal di negeri orang membuat Alena merindukan suasana Bandung yang sangat damai. Disibaknya gorden yang menutupi jendela kamarnya. Terlihat orang-orang berlari mengelilingi komplek rumahnya untuk olahraga di pagi hari. Tidak heran memang, komplek perumahannya begitu rindang dan juga asri. "Alena sayang kamu sudah bangun?" tanya Rehan yang baru saja membuka pintu kamar Alena. Alena menoleh, dia tersenyum lembut ke arah Rehan. "Iya Pa, Papa mau menemani Alena joging?" tanya Alena pada papanya. Aktivitas pagi yang sering mereka lakukan saat anak-anaknya pulang ke Indonesia. Alena tahu, papanya seorang dokter senior yang kesibukannya hampir menyamai seorang presiden. Namun papanya tetap harus berolahraga bukan? "Tentu saja, Papa libur hari ini," jawab Rehan tersenyum bahagia. "Benarkah itu, Pa?" tanya Alena dengan mata berbinar. Rehan terkekeh, dia sangat suka dengan sifat Alena yang satu itu. Mirip sekali dengan, Olivia. Ya, mendiang Olivianya yang setiap malam selalu dia sebut dalam doanya untuk tempat terbaik gadis itu. "Ayo bersiap, Papa tunggu di bawah, ya," ucap Rehan sebelum dia menutup kembali pintu kamar Alena. Alena dan Rehan berlari kecil mengelilingi taman, meskipun usia ayah dua anak itu sudah tidak muda lagi tapi Rehan masih mempunyai energi yang tidak bisa dianggap remeh. "Apa rencanamu ke depannya Sayang?" tanya Rehan saat mereka sudah duduk di kursi yang berada di pinggir taman. "Alena ingin langsung bekerja Pa, Grandpa Willy memberikan mandat pada Alena untuk mengelola rumah sakit yang ada di Singapura" jelas Alena. Rehan tersenyum bahagia, optimisme yang Alena tunjukkan mengingatkan dirinya akan masa mudanya dulu, tidak takut gagal. "Papa yakin anak-anak Papa akan sukses, lalu bagaimana dengan Aileen?" "Ale tidak tahu, katanya Ail ingin bersantai terlebih dahulu," jawab Alena sambil mengelap keringat yang bercucuran di keningnya. Rehan menghela napasnya pelan, entah firasat atau hanya perasaan sesaat saja. Rehan merasa jika Aileen jauhh berbeda dengan Alena. Ping! Suara ponsel milik Alena mengalihkan perhatian mereka berdua. "Mama menyuruh kita pulang, katanya sarapan sudah siap," ucap Alena menjawab pertanyaan Rehan lewat tatapan matanya. Rehan mengangguk, kemudian mereka berdua berjalan bersamaan. Banyak yang menatap kagum keduanya, anak dan papa yang sangat luar biasa mengagumkan. Saat mereka sampai di rumah, keduanya berpapasan dengan Aileen yang baru saja bangun dari tidur lelapnya. "Kok Aileen ditinggal" ucap Aileen dengan nada merajuk membuat Alena dan Rehan menoleh. Aileen mencebikkan bibirnya kesal, walau usia sudah menginjak dua puluh lima tahun namun kelakuan Aileen terkadang sangat kekanakan. "Aileen, tadi kamu masih tidur," jawab Alena menjelaskan. "Bilang saja takut aku merebut perhatian Papa," ucap Ail dengan kasar. "Ail dengarkan kakakmu, kamu tadi masih tidur Sayang," jelas Rehan dengan lembut. "Kalian bohong, Papa hanya ingin menikmati waktu berdua dengan putri kesayangan Papa!" teriak Aileen yang sudah tidak sanggup lagi menahan perasaannya. "AILEENN!" bentak Rehan membuat Aileen dan Alena terkejut. Aileen berlari menuju kamarnya dengan berurai air mata, sedangkan Alena mencoba mengejar Aileen namun ditahan oleh Rehan. "Biarkan dia sadar dengan sikap kekanakannya itu," ucap Rehan memeluk Alena yang sedih dengan kejadian ini. Melodi yang baru saja datang sehabis mandi menatap Rehan tidak suka. "Kamu tidak bisa membentak Aileen, Pa. Papa tahu kan bagaimana jika Ail marah. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran kalian!" ucap Melodi berjalan meninggalkan Rehan dan Alena. Alena menatap Rehan dengan mata sedih. "Mama pasti marah dengan Alena," ucap Alena sedih. "Sudah, kamu mandi saja. Biar Papa yang bicara dengan Ail dan Mama," ucap Rehan diangguki Alena. * Mobil mewah itu terbuka, menampilkan sosok lelaki gagah. Lelaki itu Marcuss Sean, dengan diam-diam dia datang ke Indonesia untuk memberikan kejutan kepada Alena, pujaan hatinya. Kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya menambah kadar ketampanan lelaki itu. Senyum tersungging di bibirnya saat melihat Alena sedang menyirami bunga yang ada di depan rumahnya. "Ekhem." Marcuss berdeham untuk mengambil perhatian Alena. Alena masih sibuk membuangi daun kering yang tergeletak di tanah, mencabut rumput liar agar tidak mengganggu pertumbuhan tanamannya. "Maaf Mas saya lagi sibuk, kalau mau minta sumbangan tunggu sebentar," ucap Alena membuat Marcuss melongo. Lelaki itu mengerti bahasa ibu Alena, dia secara khusus mempelajari bahasa Indonesia demi kekasih tercinta. Marcuss menggelengkan kepalanya, orang setampan dia dikira mencari sumbangan? Semua orang pasti mau menukar harta mereka untuk mendapatkan Marcuss. Astaga Alenaaaa !!!! "EKHEEM." deham Marcuss lagi, namun dengan nada yang lebih tinggi. Alena berdecak kesal, dia sampai melempar gunting ke tanah. "Kan sudah saya bilang Mas, ke dalam saja deh minta sumbangannya," ucap Alena lagi. Untuk kedua kalinya Marcuss mengelengkan kepalanya, Alena menyuruh orang yang dikira minta sumbangan untuk masuk? Alena, kamu baik apa polos. Tidak takut kalau orang itu pencuri? "EKHEM!" "Mas kan sudah saya bi-, MARCUSS!" teriak Alena saat dia berbalik mendapati Marcuss dengan gagahnya berdiri di belakangnya. Tanpa pikir panjang lagi, Alena langsung memeluk Marcuss dan disambut dengan hangatnya oleh Marcuss. Mereka berpelukan dengan mesranya, meluapkan rasa rindu yang ada di lubuk hati mereka. "Enggak malu punya pacar orang minta sumbangan heh?" tanya Marcuss membuat Alena tersipu malu. Marcuss terkekeh melihat semburat merah yang ada dipipi putih Alena. Sikap konyol Alena membuat Marcuss semakin mencintai wanita itu, tanpa syarat .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD