Sialan!
Itu u*****n pertama kali yang Aileen ucapkan setiap kali fajar kembali menyapa harinya. Bukan karena apa, semua itu karena isi dalam perutnya yang ingin selalu dimutahkan setiap pagi. Rasanya Aileen ingin pingsan saja.
Tubuh Aileen semakin kurus, nafsu makannya berkurang. Melodi, Rehan, dan Alena sangat cemas melihat kondisi Aileen akhir-akhir ini. Wajah segar sumringah yang menjadi ciri khasnya kini telah lenyap entah ke mana arah perginya berganti dengan wajah pucat pasi.
"Ail, buka pintunya Sayang. Mama mau masuk," teriak Melodi mengetuk pintu kamar Aileen.
Dengan jalan perlahan, Ail membukakan pintu kamarnya perlahan. Melodi terkejut melihat wajah pucat pasi Aileen. Melodi membantu Aileen duduk di tepi ranjang. Ibu dua anak itu menyentuh wajah putrinya, terasa demam.
"Tunggu di sini, Mama mau ambil alat periksa dulu," ucap Melodi berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamar Aileen.
Aileen merebahkan tubuhnya, rasa pusing di kepalanya membuat pandangan matanya mengabur.
"Sayangnya Papa masih sakit?" tanya Rehan memasuki kamar Aileen.
Aileen mengangguk lesu. "Mungkin cuaca yang berubah-ubah Pa, Ail juga sudah minum vitamin kok," jawab Aileen.
"Kamu kebanyakan keluyuran sih, udah tahu musim hujan kayak gini," omel Melodi yang masuk membawa peralatan kedokterannya. Jangan lupakan mereka keluarga dari kalangan medis.
Ail mencebikkan bibirnya kesal.
"Mama yang berlebihan!" cibir Aileen membuat Melodi dan Rehan menggelengkan kepalanya.
Melodi mulai memasang stetoskop, dan menggerakkan benda kecil itu ke d**a Aileen. Kening Melodi mengkerut, sekali lagi dia memastikan dugaannya.
"Kapan terkahir kali kamu haid Ail?" tanya Melodi pada Aileen.
Aileen mengingat terkahir kali haidnya.
"Mungkin dua Bulan yang lalu Ma," jawab Aileen.
Rehan mengernyitkan keningnya, lelaki itu masih mencerna percakapan istri dengan putrinya.
"Aileen, jangan bilang kamu ...?" ucapan Rehan menggantung.
"Dengan siapa kamu melakukannya?" tanya Melodi dengan tatapan tajam pada Aileen.
Rehan tersentak begitupula Aileen.
"Ma, apa maksudmu?" tanya Rehan pada Melodi.
"Papa harus tahu, ada dua detak jantung dalam tubuh Aileen. Aileen hamil!"
Aileen hamil!
Perkataan Melodi bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Rehan. Aib apa yang Aileen bawa untuk keluarganya.
"Dengan siapa kamu melakukannya?" tanya Rehan menatap tepat dimanik mata Aileen.
Aileen gugup, dia menundukkan kepalanya. Tidak sanggup menjawab pertanyaan orang tuanya. Dia merasa malu, kebanggaan yang dia puja-puja sudah tidak ada artinya lagi sekarang.
"Katakan pada Papa, Aileen, apa ini hasil one night stand?" teriak Rehan penuh kemurkaan membuat Aileen meringsut ketakutan.
Aileen menggeleng, itu bukan hasil hubungan semalam untuk saling memuaskan. Itu hubungan yang Aileen inginkan sejak lama.
"Aileen melakukannya dengan ... Dengan Marcuss," cicit Aileen.
Melodi dan Rehan terbelalak.
"Marcuss Sean? Kekasih kakakmu sendiri?" tanya Melodi memastikan.
Aileen mengangguk, toh memang benar dia hanya melakukan itu dengan Marcuss.
"Mana mungkin Marcuss melakukannya, jangan berbohong Ail!" bentak Rehan tidak terima.
"Ail tidak bohong Pa, Ail jujur dengan Papa. Ail melakukannya dengan Marcuss. Saat acara malam perpisahan diselenggarakan," jelas Aileen dengan mata berkaca-kaca, tidak terima dituduh berbohong oleh sang papa.
Rehan mengusap kasar wajahnya, dalam pikirannya hanya satu. Bagaimana perasaan Alena saat mengetahui kekasihnya menghamili kembarannya? Biadab, ya Marcuss lelaki biadab.
"Pa, Papa mau ke mana?" teriak Aileen dan Melodi saat melihat Rehan keluar dari kamar.
Rehan berlari menuruni tangga ,di ikuti Melodi di belakangnya. Di saat itu juga, Marcuss dan Alena memasuki rumah dengan menenteng beberapa kantong belanjaan.
Brughhhh!
Rehan memukul Marcuss sekuat tenaganya hingga Marcuss tersungkur ke lantai. Alena dan Melodi menutup mulutnya terkejut melihat apa yang dilakukan Rehan. Terlebih Alena yang belum tahu duduk permasalahannya.
"Papa, apa yang Papa lakukan pada Marcuss?" tanya Alena sambil membantu Marcuss berdiri.
Melodi menarik tangan Rehan, menengahi agar Rehan tidak kembali menghajar Marcuss.
"Tanyakan padanya, apa yang sudah dia lakukan pada Aileen!" desis Rehan penuh kemurkaan.
Alena menatap Marcuss, mereka saling pandang dalam kebingungan yang menyelingkupi keduanya.
"Katakan!" bentak Rehan kembali.
"Maaf Om, apa yang sudah saya lakukan pada Aileen?" tanya Marcuss pada Rehan.
Memang apa yang sudah ia lakukan? Bahkan bertegur sapa secara pribadi dengan Aileen saja dia belum pernah melakukannya.
"Aileen hamil, dia mengandung anakmu, Marcuss," jawab Melodi.
Alena melepaskan pegangan tangannya di lengan Marcuss dengan refleks, dia menggeleng.
"Ti-tidak mungkin Ma, Marcuss tidak mungkin berbuat seperti itu," lirih Alena dengan air mata yang siap tumpah.
"Itu benar Kak, Kakak ingat waktu promnight saat aku tidak pulang? Kami mabuk dan melakukannya di hotel," ucap Aileen yang saat itu berjalan menuju mereka semua.
Marcuss menatap Aileen tidak suka.
"Jadi malam itu kamu? Bukan Alena? Benar-benar penipu! Kamu sengaja melakukannya!" ucap Marcuss menatap jijik pada Aileen.
"Kalian benar melakukannya?" tanya Alena pada Marcuss.
"Alena, dengarkan aku. Aku dijebak oleh dia!" tunjuk Marcuss pada Aileen.
Alena menggelengkan kepalanya, mimpi apa dia semalam hingga mengetahui adiknya hamil anak kekasihnya sendiri?
"Kalian harus menikah, pertanggung jawabkan perbuatan kalian," ucap Alena membuat Marcuss dan Rehan tercengang.
"Alena," panggil Marcuss dan Rehan bersamaan.
Alena berlari menuju kamarnya. "Kita bicarakan nanti dengan kepala dingin," ucap Rehan pergi menyusul Alena.
.
Alena meringkuk di bawah selimut, ketukan pintu tidak dia hiraukan. Tangisnya pecah, dan Alena tidak tanggung-tanggung mengeluarkan tangisannya.
Pedih, itu yang mungkin ada dihati Alena. Dihianati pacar dan adiknya sendiri.
"Alena sayang," panggil Rehan.
"Ale mau sendiri Pa!" jawab Alena dengan sesegukan.
Rehan menghela napasnya panjang, Rehan mendekati Alena dan memeluknya.
"Menangislah Sayang, Papa di sini untukmu," ucap Rehan mengelus pundak Alena.
"Alena kecewa, Papa," isak Alena dalam pelukan sang papa.
"Papa mengerti Alena," jawab Rehan mencium puncak kepala Alena.
Suara dengkuran halus membuat Rehan tersenyum kecil, Alena tertidur di pelukan Rehan. Sama persis Alena kecil saat menangis bonekanya dirusak Aileen.
"Papa menyayangi kalian berdua Nak, ini keputusan paling sulit untuk Papa," ucap Rehan mencium kedua mata Alena yang terpejam.