"Kalau gitu gue duluan yak." Aku berpamitan pada mereka. Malas saja kalau harus menjadi obat nyamuk dua manusia yang sedang flirting. Kemudian aku berjalan meninggalkan mereka. baru saja tiga langkah, seseorang menahan lenganku. Aku berbalik, dan ternyata Rivanlah yang menahannya. Aku menaikkan satu alis ke atas tanda tak mengerti dengan perlakuannya. Namun ia diam saja. Atau memang Rivan tak mengerti dengan isyarat yang kuberikan. "Lo tanggung jawab gue, kalau ada apa-apa sama lo gue yang akan disalahin Papa lo." Aku mengernyit bingung, dan tidak lama sel-sel otakku mulai bekerja. Jadi Papa mengizinkan aku ikut karena menyerahkanku pada si playboy macam Rivan ini? "Iya Rit, lo jangan sendirian ah. Ngeri ini kan gunung." Pakies berujar. Dan gue harus rela gitu berkali-kali sakit hati me

