Ada kalanya seseorang yang bertahan akan memilih untuk melepaskan. Bukan karena tak cinta lagi, melainkan karena dirinya tak pernah dihargai. "Lo kenapa Rit?" Tanya Sandi. Saat aku berlari dari kejaran Rivan, aku malah tak sengaja menabraknya. Dan dia jadi membawaku ke tempat ini yang hanya ada kami berdua. "Hiks hiks.. Gu.. Gue nggak papa." "Cih, gue tau lo nggak bisa bohong. Jawab gue lo kenapa?" Sandi menaikkan nada bicaranya satu oktaf, kedua tangannya mengguncang-guncang tubuhku. Aku mengusap wajahku frustasi, aku yakin pasti wajahku sudah tak berbentuk lagi. "Rivan.. Rivan..." Gumamku lirih. "Kenapa sama Rivan? Sumpah Rit, lo ngomong yang bener. Gue khawatir sama lo." "Gue.." Aku menghela napas panjang. Mencoba untuk menetralkan hatiku yang kacau balau. "Gue liat Rivan pelukan

