Diam-diam, aku melihat Rivan yang tengah berbicara dengan Mama Qila dari lantai dua. Ekspresi wajahnya terlihat hmmm... kecewa mungkin? Aku sendiripun tidak bisa menjelaskan ekspresinya saat ini. "Baik Tante, salam buat Nuritanya. Saya permisi dulu." Dari sini aku bisa mendengar suara Rivan dan derap langkah yang teratur. Aku menebak kalau dia sudah pergi. Huh, syukurlah. "Ma Rivan sudah pergi kan?" Tanyaku kepada Mama Qila saat turun dari anak tangga terakhir. Mama Qila langsung membalikkan badannya kearahku. "Nggak lagi-lagi deh Mama harus bohong gini. Enggak tega sama Rivan." Kata Mama, wajahnya terlihat sangat frustasi. Mama tidak tega melihatnya yang kecewa. Lah bagaimana melihatku yang setiap harinya harus menahan sakit hati akibat ulah dirinya itu? "Ayok masuk, dia ada kok di

