Aku keluar dari toilet sambil mengusap-usapkan rambutku yang masih basah pada handuk. Pagi ini aku sudah mandi dua kali dan ku rasa kalian tahu alasannya. Hihi. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, namun tak ku dapati batang hidung Rivan. Kemana dia? Tapi sedetik berikutnya aku mencium aroma lezat makanan yang membuat cacing-cacing di perutku berkonser ria meminta jatah, karena perutku sama sekali belum kemasukkan apa-apa, bahkan air sekalipun. Aku langsung mengambil jaket kulit milik Rivan yang terletak tak jauh dari tempatku berdiri, dan segera memakainya yang sangat kebesaran di tubuhku. Sengaja aku memakai jaket lagi karena apa yang kupakai saat ini tidak layak disebut baju. Panjangnya memang di bawah lutut, hanya saja belahan d**a yang membentuk huruf V sangat rendah

