"Papa mana?" "Di ruang kerjanya," jawab Azmi dengan mata yang tetap fokus pada layar televisi, tangannya dengan lincahnya menekan-nekan stick game. Aku ingin berbicara langsung pada Papa. Apa benar Papa mengizinkan aku pergi dari rumah ini? Jika memang benar, rasanya berat sekali untuk meninggalkan rumah ini termasuk Papa. "Pa apa aku boleh masuk?" tanyaku dengan kepala menyembul dari balik pintu. Papa langsung menegakkan kepalanya yang sebelumnya bertumpu pada kedua tangan. Sepertinya Papa sedang banyak pikiran. "Sini masuk, lho bukannya kamu lagi ke puncak ya? Kok udah pulang?" "Makasih Pa. Udah. Waktu cuti aku kan hari ini terakhir," kataku mengikuti Papa yang duduk di sofa. "Pa boleh aku tanya sesuatu?" Papa mengangguk. Aku menarik napasku dalam. Sebenarnya aku bingung harus me

