Endless Love

1524 Words
Aku duduk disamping Papa yang sedang menikmati makanannya. Aku sempat kesal dengan Papa, kenapa tidak dari tadi makan sih, kan biar cepat pulang. Satu-satunya hiburanku saat ini adalah band dipanggung yang sedang menyanyikan lagu Marry You-nya Bruno Mars. "Ada yang ingin menyumbangkan sebuah lagu lagi nih, khusus untuk pengantin kita. Mari kita sambut... Nurita." "Kamu mau nyumbang lagu?" Papa menyenggol lenganku. "Hah, apaan Pa?" Tanyaku bingung. "Itu nama kamu disebut MC. Kamu mau nyanyi?" "Mana yang namanya Nurita?" Kata MC lagi. Tatapannya menjuru ke seluruh tamu. Aku hanya menunduk. "Ih Papa apaan sih?" Papa mengangkat satu tanganku ke atas, seolah-olah aku yang menunjuk. "Ayo Nurita katanya mau nyanyi." Kata MC lagi. Suara tepukan bergemuruh saat aku melangkahkan kakiku. Terasa berat dan kaku kakiku ini melangkah. Siapa sih orang iseng yang mengerjai aku? Dari atas panggung, mataku tertuju pada sosok laki-laki yang sedang duduk di belakang. Ia tertawa bahagia sekali rupanya. Dan otakku langsung memberi peringatan kalau dialah yang sedang mengerjai aku. Aku membisikkan sesuatu pada MC. Tepatnya judul lagu yang ingin aku nyanyikan. "Mana yang namanya Rivan? Nurita pingin berduet katanya dengan Rivan." Seketika tubuh Rivan kaku. Senyum bahagianya terhenti saat MC memanggil namanya. Aku tahu ia juga terpaksa berjalan ke arah panggung. Rasain! Lagi buaya lo kadalin. Wleeek. Kalian tahu enggak judul lagu yang ingin aku nyanyikan? Aku bilang ke MC kalau aku ingin menyanyikan lagu berjudul Endless Love dari Diana Ross feat. Lionel Richie. Hanya lagu itu yang terlintas di otakku meskipun terkesan jadul. Tapi menurutku lagu itu termasuk lagu romantis sepanjang masa. Rivan sudah berdiri di sampingku, wajahnya terlihat kaku. Mungkin ia marah karena umpannya termakan sendiri. Haha. "Muka lo jangan di tekuk gitu dong, senyum." Aku menunjukkan senyumku padanya. Senyum yang sengaja dibuat-buat tepatnya. Rivan juga tersenyum meskipun hanya terpaksa. Alunan musik mulai terdengar. Kami sudah memegang mikrofon masing-masing. "My love.. There's only you in my live The only thing that's right." Rivan mulai menyanyikan bagiannya. Wuiiiih suaranya lumayan juga. "My first love.. You're every breath that I take You're every step I make." Kali ini bagianku, Rivan menatapku. Mungkin ia tidak mengira kalau suaraku juga bagus. "And I.. I want to share All my love with you No one else will do And your eyes They tell me how much you care Oh, yes you will always be My endless love Two hearts Two hearts that beat as one Our lives had just begun Forever I'll hold you close in my arms I can't resist your charms And love.. I'll be a fool for you I'm sure.. You know I don't mind Whoooa, you know I don't mind Cause you You mean the world to me Oh, I know I know I found in you My endless love Oooh.. And love I'll be that fool for you I'm sure.. You know I don't mind Whoooa, you know I don't mind And yes.. You'll be the only one Cause no one can't deny This love I have inside And I'll give it all to you My love, my love My endless love" Suara tepuk tangan semakin kencang saat kami menyelesaikan lagu. "Terima kasih." Aku dan Rivan setengah menundukkan badan. Dan kami langsung turun dari panggung menuju kursi yang sebelumnya kami tempati. "Anak Papa suaranya mirip Raisa ya." Kata Papa sambil mengelus kepalaku. "Apaan sih Pa. Ra' Iso maksudnya kali." Papa terkekeh. "Dia anaknya Om Reza kan yang bungsu?" Tanya Papa. Dia yang Papa maksud adalah Rivan. "Iya Pa, yang kuliah di Malang juga." Jawabku. "Papa kok Tahu?" Aku yang bertanya kali ini. "Dia pernah sekali diajak Om Reza bertemu Papa waktu itu. Kalian pacaran?" "Hah pacaran? Enggak Pa, enggak." Tukasku. "Kok lagunya romantis banget kalau ngga?" Papa menggodaku. Buat aku jadi malu saja. "Apaan sih Pa. Dia udah punya pacar kalik." Aku mengingat lagi kejadian waktu Rivan merangkul perempuan cantik, dan sukses membuat dadaku kembali sakit. "Lagi juga kan Papa tau kalau aku ini jomblo. Kalau aku punya pacar juga pasti aku kenalin ke Papa." "Iya iya.. Papa cuma minta kamu pintar jaga diri saja. Apalagi sekarang kan kamu sudah jauh. Papa jadi susah buat mantau kamu lagi." Kok sedih ya Papa ngomong gitu. "Iya Pa, Rita nggak mau mengecewakan Papa. Papa adalah alasan Rita untuk mengejar mimpi. Aku mau jadi kebanggaannya Papa." "Papa sayang banget sama kamu." Papa mengusap kepalaku lebut, "me too. Meskipun Papa bukan Papa kandung aku tap—" "Kamu selamanya anak Papa." Papa menyelaku. "Jangan ungkit masalah itu lagi. Kamu anak Papa." Mataku memanas. Betapa aku sangat beruntung bisa mempunyai Papa sebaik Papa Raihan. ***** Aku berbaring di atas ranjangku menghadap ke arah langit-langit rumah. Terkadang aku merasa menjadi benalu di keluarga ini, saat melihat kehangatan keluarga Papa dan Mama. Sekitar beberapa menit yang lalu saat aku ingin mengambil air minum ke dapur, aku melihat Papa Raihan yang sedang bermain dengan Azmi dan Mama Qila yang sedang menggendong Afnan, mereka sangat bahagia sekali. Mungkin jika aku tidak ada di keluarga ini, kebahagian mereka semakin besar. Karena Papa tidak punya tanggung jawab untuk menjagaku yang bukan siapa-siapanya Papa. Tetapi aku juga ingat kata Papa waktu pergi kondangan tempo hari. Kamu selamanya anak Papa. Jangan ungkit masalah itu lagi. Kamu anak Papa. Mengingat kata-kata Papa, air mataku tumpah tanpa ku sadari. Betapa aku dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangiku. Terima kasih ya Allah, ternyata rezeki itu tidak hanya berupa harta. Melainkan diberikan keluarga dan sahabat yang baik juga termasuk rezeki. Kalau sudah galau seperti ini aku butuh orang ganteng untuk menghiburku. Ku ambil handphoneku dari nakas kemudian aku buka aplikasi berwarna hijau. Aku sudah mendapat kontaknya dari grup angkatan. Ternyata tidak susah mendapatkan informasi tentangnya. Nurita: Assalamu'alaikum, ji chang wook. Segera ku tekan tombol send. Lama ia tidak membalas chat dariku. Untuk menunggunya membalas, aku membuka grup line yang bernama artis dunia akhirat. Nurita: woyy, pe kabar? Read by 1 Read by 3 Nurita: yaelah di read doang kayak koran! Belalalala: alhamdulillah luar biasa, Allahu akbar! Sabar keleus lagi ngetik nih Hesti: baiiiik... Aaaaa rita gue kangen {} Lo sendiri pa kabar? Nurita: Gue baik, hati gue yang ngga baik. Haha Dufan yok Gabut di rumah Jungle land kalo ngga? USS gimana? Serah deh yang penting pergi. Belalalala: USS? Biasa juga lo ke pasar malem. Gue ngga ada duit, bokek. Ngga di kasih jatah gue kalo libur Hesti: Iye sama gue juga :( Sebelum aku membalas chat grup, aku melihat pemberitahuan kalau ada pesan yang masuk selain dari grup itu. My EndlessLove_JCW: Wa'alaikumsalam, ya ahli kubur Anjir, die kata aku udah meninggal apa. Tapi bodo amat deh, yang penting dia bales. Nurita: Lo sibuk ngga? Gue mau ngasih kemeja lo. Belalalala: Kemeja apaan Rit? Gue ngga punya kemeja deh kayaknya. Mati. Mati. Mati. Salah kirim! Malah nyasar ke grup artis dunia akhirat tuh chat. Nurita: Salah kirim gue Sorry Mianhae Jeongmal mianhaeyo Aku langsung membuka obrolan dengan Rivan, memastikan agar tidak salah kirim lagi. Nurita: Lo sibuk ngga? Gue mau ngasih kemeja lo nih. Line. Yes, dia cepat balasnya. My EndlessLove_JCW: Sibuk! Aku mendengus kecewa saat membaca balasan chat dia. Nurita: Yah ngga bisa ketemu dong? Kalo kemeja lo ngga gue balikin, lo gimana make bajunya? Send. Read. Tapi tunggu dulu deh. Aku membaca lagi chat yang tadi aku kirim. Mataku langsung membulat, pesan yang tadi aku kirim seolah-olah dia hanya memiliki satu baju saja. Modusnya gagal dong. My EndlessLove_JCW: Lo kira gue dirumah cuma punya satu baju doang? Gue banyak kali kemeja gitu. Tuhkan bener. Dia marah deh kayaknya. My EndlessLove_JCW: Ngga usah dibalikin, buat lap dirumah lo aja. Gue ngga butuh. Apa itu cuma modus lo doang ya supaya bisa ketemu gue? Nah tuh kan bener, dia sepertinya sudah mencium aroma modus disini. Rita payah ih. Chat itu tidak ku balas, aku diamkan saja. Lagipula aku bingung ingin membalas apa. **** Akhirnya karena ke-gabutan aku, aku pergi ke mall Taman Anggrek sendiri. Sen-di-ri. Lihatlah. Betapa aku terlihat sekali jonesnya pemirsa. Aku sudah berusaha mengajak Papa, tapi Papa tidak bisa, katanya ada meeting. Mama Qila juga tidak bisa sebebas dahulu, karena sekarang sudah ada Azmi dan juga Afnan. Bela dan Hesti, mereka tidak bisa juga. Kalau hesti tidak bisa karena harus menjaga warung milik Mamanya, sedangkan Hesti dia bilang tidak ada duit. Padahal aku sudah bersikukuh untuk mentraktirnya. Tapi ia tetap menolak ia bilang tidak enak denganku. Ahelah~ anak itu masih kaku saja kayak bra baru! Aku kembali ke tujuan awalku ke mall ini, yaitu untuk bermain di Sky Ring. Aku bisa bersenang-senang dan mengekspresikan segala perasaanku dengan berlenggak-lenggok menggerakkan tubuhku di tempat ini. Rasanya bebanku hilang, menguap entah kemana. Alah, maafkan aku yang terlalu lebay ini. Dingin. Itulah yang aku rasakan saat memasuki arena pertama kali. Lumayan ramai juga pengunjungnya. Tapi sepertinya hanya aku saja deh yang kesini sendirian. Berdua deh dengan bayangan. "Aduh maaf Mbak, maaf. Saya tidak sengaja." Kata seorang perempuan yang baru saja menubruk tubuhku. Sepertinya Mbak ini belum begitu mahir bermain ice skating. Aku melihat mbak itu, dan ternyata wajahnya tidak asing lagi. Dan benar saja, suara bariton yang sangat ku kenal terdengar. "Yaampun Mai, tadikan udah diajarin. Masih belom bisa aja." Rivan. Orang yang tadi bilang sibuk. Dan aku baru tahu kalau sibuknya dia itu adalah sibuk pacaran. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD