Kok nyesek sih?

2521 Words
"Pak stop, Pak.." Ojek online yang ku pesan berhenti di depan gerbang rumahku. Aku langsung membayarnya dan segera masuk ke dalam. Sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mereka. Setelah memasuki pagar, aku melihat mobil Papa yang masih terparkir di halaman depan. Itu berarti Papa sudah pulang dari kantor, dan aku bisa langsung kangen-kangenan ria deh. Saat ini hari memang sudah sore, bahkan 15 menit lagi menjelang adzan maghrib, berarti Papa tidak lembur. Aku memencet bel, namun masih belum ada yang membukakan pintu. Tepat setelah bel ke tiga pintu terbuka. "Papa..." Aku langsung menubrukkan tubuhku ke Papa, kangen sekali dengan pria di depanku ini. "Kata kamu pulangnya lusa?" Tanya Papa. Aku bisa merasakan tangan Papa yang sedang mengelus punggungku. "Jadi Papa ngga suka ya Rita pulang sekarang?" Aku melepas pelukanku dan mengerucutkan bibir. Pura-pura marah dengan Papa. Papa malah terkekeh dan mencubit hidungku yang tak seberapa mancung ini. "Papa.." Aku mengambil tangan Papa yang ada di hidungku kemudian mencium tangannya. "Papa sehat kan?" "Ada juga Papa yang tanya itu ke kamu. Papa kan ada yang ngurusin di sini, jadi Papa sehat. Kamu di sana yang sendiri gimana?" "Aku disana ngga sendiri ya," aku tak terima dibilang sendiri, kesannya jones banget, "ada temen satu kamar. Alhamdulillah sehat." Lanjutku. "Ya sama saja itu." Kata Papa, kami memasuki rumah. Tak ada yang berubah di sini. "Mama mana Pa?" Tanyaku saat tak melihat Mama Qila di ruang tamu. "Di kamar, lagi nyusuin Afnan." Aku mengangguk. Afnan itu nama adik keduaku. Aku jadi pingin menyusul Mama ke kamarnya deh. "Siap-siap sana shalat maghrib." Papa mengingatkan. "Aku lagi ngga shalat Pa, tamu bulanan." Dan setelah itu aku langsung menuju ke lantai dua, tepat di mana kamar Mama berada. Sedangkan Papa pergi ke masjid untuk shalat maghrib. Aku mengetuk pintu kamar, dahulu waktu aku belum punya kebiasaan ini aku sering melihat Papa dan Mama sedang bermesraan gitu deh berdua di kamar. Tapi kalau di pikir-pikir engga sopan juga ya, dan aku jadi terbiasa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki kamar. Aku ngga mau melihat tayangan dewasa secara live. "Rita! Kapan sampai sayang?" Mama Qila muncul dari balik pintu dengan daster yang melekat di tubuhnya. "Barusan Ma." Jawabku, kami langsung cipika-cipiki. Maklumlah cewek-cewek rempong. Mama Qila menarik lenganku dan langsung mendudukanku di ranjangnya yang besar, Mama juga duduk di sampingku. "Gimana?" Tanya Mama Qila dengan wajah penasaran. Terlihat sekali matanya itu berbinar-binar. "Gimana apanya Ma?" Tanyaku balik. "Itulho temen kamu yang mirip Ji Chang Wook." Gubrak! Bukannya nanya tentang aku atau kuliahku lah minimal, ini yang di tanya malah si Rivan. "Tadi aku pulang bareng dia." Mama Qila terkejut, sedikit tidak percaya dengan ucapanku. "Mama liat fotonya dong." "Boro-boro bisa foto sih Ma. Dia aja judesnya minta ampun." Ujarku, mengingat-ingat kembali bagaimana sikapnya Rivan kepadaku. "Aaaah kirain kamu deket sama dia, kan Mama seneng bisa punya calon mantu Ji Chang Wook." What? Udah calon mantu aja ngomongnya. Mama sama aku kan cuma selisih umur 7 tahun, begitupun juga dengan si Rivan. Kalau di pikir-pikir sih aneh, mertua dengan menantu selisih umur hanya 7 tahun. Apalagi Mama Qila cantik banget, lagi pakai daster saja cantik begini apalagi pakai baju lain? Kalau mereka jalan berdua di mall pasti disangka anak abege yang lagi pacaran. Tapi tunggu dulu deh, ini kenapa aku mikirnya sejauh itu ya? Dan obrolan kami selanjutnya tentang Afnan, adik keduaku yang baru berusia satu bulan. Kali ini wajah adikku mirip Mama Qila, berbeda sekali dengan Azmi yang lebih mirip ke Papa. Kulitnya Afnan masih memerah, tapi setau aku kalau bayi mempunyai kulit merah itu nanti besarnya jadi putih. Ternyata Afnan menurunkan gen Mama. Selamat datang ke dunia Afnan, keluarga baruku. Semoga kamu betah ya jadi adiknya Kakak Rita. Aku mencium pipinya, sedang ia langsung menggeliat dalam tidurnya. Obrolan selanjutnya tentang Papa. Mama Qila bilang, Papa sering mengingatkannya kalau ia lupa untuk menelponku. Kali ini aku benar-benar terharu sekali. Aku kira Papa marah dan tak peduli dengan aku karena keputusanku ini. Aku dan Papa tidak banyak bicara di telpon, kalau dihitung seminggu hanya dua kali saja, berbeda dengan Mama Qila. Dan ternyata, justru Papalah yang meminta Mama untuk menelponku sekedar menanyakan aku lagi apa, sudah makan atau belum, dan kegiatanku yang lainnya. "Setelah ini kamu deketin deh tuh Papa kamu. Kasian dia kayaknya kangen banget sama kamu." "Iya Ma.." Aku juga sama kangennya dengan Papa. Sebelumnya aku tidak pernah berpisah lama dengan Papa. Paling lama juga satu minggu, itupun karena Papa harus keluar kota. Mama Qila benar, meskipun Papa bukanlah orang tua kandungku. Tapi beliau sangat menyayangi aku. Begitupun aku kepadanya. Bahkan Papa jadi telat menikah karena sibuk mengurusku. Papa hanya memikirkan kebahagian aku, aku dan aku. Sedangkan kebahagiannya sendiri ia sampingkan. Kalau aku menikah nanti, aku ingin suamiku seperti Papa. Laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan juga penyayang. Sebagai baktiku, aku ingin Papa yang memilihkan calon suami untukku. Akan aku terima meskipun ada orang lain yang aku cintai. ***** "Ritaaaa bangun, anak perawan kok bangunnya siang-siang terus." Suara Mama Qila menggelegar memenuhi kamarku. Bukannya bangun, aku malah menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuh. Weekend itu kan enaknya bermalas-malasan di kamar. Bangun siang, sarapan, ke kamar lagi nonton drakor. Apalagi aku sudah lama tidak berada di kamar ini. Jangan ditanya deh kapan waktu mandi kalau weekend, aku baru mandi sekitar pukul 4 sore. Jamak mandi pagi dan juga mandi sore, hehe. "Papa minta di temani kondangan noh." Mama Qila menarik selimutku, hingga tubuhku tidak tertutup lagi dengan selimut. Tapi sebagai gantinya aku memeluk guling, dan guling itu juga berhasil disingkirkan Mama Qila secara paksa. "Kenapa nggak sama Mama aja sih kondangannya?" "Mama ngga bisa. Masa iya Afnan baru satu bulan udah diajak kondangan." Mama mendekatiku seraya berbisik, "kata Papa kalau kamu ngga mau ikut selama liburan ini ngga dapet jatah jajan." What? Ancaman macam apa itu? Selama di Jakarta kan justru aku ingin puas-puasin hedon. Ini malah ngga dapet jatah. Dengan terpaksa aku bangkit, menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diriku. Aku tidak mau ya karena masalah sepele liburanku jadi gatot, alias gagal total. "Aku nggak mau pakai lipstick, Ma." Tolakku. Aku menutup mulutku dengan tangan agar Mama Qila tidak mengusapkan lipstick ke bibirku. Jujur saja aku sedikit trauma dengan make up karena kejadian waktu itu yang membuat wajahku penuh dengan jerawat. Sejak saat itu aku tidak ingin mencoba lagi alat-alat make up apapun itu kecuali bedak bayi. Aku sih tidak mempunyai kulit seputih Mama Qila, lebih ke kuning langsat lah. Dan setiap harinya aku lebih membiarkan wajahku tanpa bedak ataupun make up lain. Yang penting aku rajin mencuci mukaku agar tidak dekil. "Sedikit aja, biar muka kamu ngga pucet. Ini aman kok." Akhirnya aku mengalah, dengan jaminan aman tentunya dari Mama Qila. Wajahku juga sudah berhasil diacak-acak alias di make up oleh Mama Qila. Wajahku yang tidak cantik-cantik amat ini, berhasil di permak. Ya harus ku akui Mama Qila sangat pintar kalau urusan satu ini. Make up yang dipakai olehku tidak terlalu tebal, lebih terkesan natural. "Cantik..." Gumam Mama Qila. Dari raut wajahnya aku bisa menebak kalau ia sangat puas dengan hasil kerjanya. Aku hanya bisa pasrah saat Mama Qila memutar-mutar tubuhku. Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki takut-takut kalau ada sesuatu yang kurang. "Nice.. Kayaknya kamu harus sering-sering dandan begini supaya Ji Chang Wook naksir kamu deh." Goda Mama Qila. "Ish apaan sih Ma." Aduuuuh mukaku kok jadi panas gini sih. "Yasudah sana berangkat, Papa udah nunggu dibawah." Aku mengangguk dan langsung melangkahkan kaki. Sampai di depan pintu Mama Qila memanggilku dan langsung memberikan aku cluth berwarna tosca, senada dengan gamis yang ku pakai. Sampai lantai bawah, benar saja Papa sudah menungguku. Papa memakai setelan jas rapi dengan rambut yang ditata dengan pomade. Ngga keliatan om-omnya kalau Papa sudah bergaya seperti itu. "Waaah anak Papa cantik banget sih, sudah siap berangkat?" Aku mengangguk malas. Penting banget sih kondangan jam segini, biasanya kan anak muda kondangannya malam hari bersama dengan pasangannya. Lah ini baru jam 11 siang sudah berangkat. Kata Papa yang mempunyai hajat pengacara yang tempo hari menangani kasusnya, aku juga kurang tahu kasus apa yang sempat menyandung bisnis Papa. Aku tidak mengerti urusan bisnis seperti itu. Ketika kami sampai, aku hanya mengikuti Papa saja. Di sini cukup ramai tetapi tidak ada satupun yang aku kenal. Kemudian Papa menghampiri seorang laki-laki yang memakai jas berwarna senada dengan Papa. "Mas Reza selamat ya." Papa dan Om itu berangkulan, mereka terlihat sangat akrab sekali. "Terima kasih ya Han sudah datang." Kata Om itu. "Kenalkan nih Mas anak sulungku." Ujar Papa, saat mengatakan itu Papa menyuruhku untuk mendekat. "Rita Om." Aku mengulurkan tangan, berusaha menampilkan senyum termanis yang ku punya. Aku tidak ingin Papa malu mengajak aku ke acaranya. Om itu balas menjabat tanganku. "Reza.." Katanya. Om Reza ini meskipun berusia di atas Papa tetapi garis wajahnya masih terlihat tampan sekali. "Cantik banget anak kamu ini Han." Wajahku memanas dibilang cantik sama Om ganteng. Kalau Papa dan Mama Qila bilang aku cantik sih aku tidak heran, orang tua kan bisanya memang memuji anaknya sendiri. Tetapi berbeda dengan saat ini, Om Reza yang sekarang memujiku. Siapa yang tidak senang dipuji cantik oleh Om ganteng seperti itu. Eh tapi aku bukan Mama Qila ya yang sukanya Om-om. Ups. "Terima kasih Om." Ujarku tulus. "Kamu kuliah?" Tanya Om Reza. "Iya Om.. Di Malang, baru semester 2 sih." Jawabku. Aku segan berbicara dengan Om Reza ini, karena Om Reza sangat berwibawa. "Waah lagi libur ya? Anak Om juga kuliah di Malang. Nanti Om kenalin deh, siapa tahu kan kalian bisa berteman." "Boleh tuh Mas kenalin ke dia, biar ngga jomblo lagi." Kali ini Papa yang bersuara. Dan sekalinya bersuara buat ku malu. Ish. Om Reza malah ketawa-ketiwi mendengar ucapannya Papa. "Bun... Sini." Om Reza memanggil seorang perempuan yang memakai kebaya berwarna hijau tosca. Dan orang itu langsung menghampiri kami. "Kenalin nih Bun, ini Raihan dan Rita putrinya. Teman Ayah." Kata Om Reza pada perempuan itu yang sepertinya istrinya Om Reza. "Naira." Istrinya Om Reza menyebut namanya, dan menagkupkan kedua tangannya di d**a pada Papa. Sedangkan ke aku, Tante Naira menjabat tanganku. Tante Naira ini meskipun umurnya sudah tidak muda lagi, tetapi masih terlihat cantik. Kulitnya juga putih sekali seperti Mama Qila, dan kerutan-kerutan bandel di wajahnya tidak terlihat. Aku yakin kalau Tante Naira ini ketika waktu muda dulu sangat cantik. Tante Naira tertawa saat Om Reza bercerita kembali tentangku yang tadi Papa bilang. Terserah deh, orang cantik dan ganteng mah bebas mau apa. Dari pada aku dibuat malu terus, aku izin untuk mengundurkan diri dari mereka. Lebih tepatnya aku menghampiri tempat makanan. Cacing di perutku sudah berkonser ria di dalam. Minta jatah. Aku mulai mengambil makanan ke piring, seisi piring lebih banyak lauk pauk dari pada nasinya. Aku langsung memilih tempat di pojok yang lumayan sepi dari keramaian. Alhamdulillah kenyang. Aku mengusap-usap perutku. Cacing-cacing di perut sudah tidak konser lagi. Cacing senang, akupun senang. "Lo ngapain disini? Ngikutin gue ya?" Aku tersentak saat mendengar suara bariton dari arah samping. Aku langsung menghadap ke arahnya. Kayaknya kita memang beneran jodoh deh, ketemu terus. Mana sekarang dia ganteng banget lagi, memakai setelan jas seperti ini. Aku ngga kuat sumpah, kamera mana sih kamera? Aku mau melambaikan tangan nih. "Kebiasaan bengong terus, gue ngomong sama lo." "Eh i..iya. Lo ngomong apa?" Ini kenapa lidahku jadi kelu sih. "Tuh kan bener lo ngikutin gue." "Apa? Nggak!" Aku mengibaskan kedua tangan "Gue kesini kondangan sama Papa gue." Dia menatapku tak percaya, matanya menyipit untuk meneliti wajahku apakah sedang berbohong atau tidak. "Mana Papa lo?" Tanyanya dengan senyum mengejek. Seperti ia sudah menangkap basah maling jemuran di rumahnya. Aku mengedarkan pandangan mencari-cari sosok Papa. "Itu..." Aku menunjuk Papa yang sedang mengobrol dengan Om Reza. Pandangan Rivan mengikuti arah jariku, dan ia kembali menatapku. "Lo ngga bohong kan?" Kepalaku menggeleng, kemudian mendengar derai tawa dari laki-laki yang sedang berdiri di hadapanku ini. "Nurita, lo kalau bohong pinteran dikit dong. Yang lo tunjuk itu Ayah gue." Jadi Rivan anaknya Om Reza. Dan yang dimaksud anak Om Reza yang kuliah di Malang dan katanya ingin di kenalkan ke aku adalah Rivan ini. Kalau dia sih sudah kenal. "Bukan Om Reza, Van. Tapi yang lagi ngobrol sama Om Reza." "Om Raihan?" Aku mengangguk. Dia kenal Papa ternyata. "Hahaha! Ngga mungkin lah lo anaknya Om Raihan. Secara Om Raihan kan pemilik bisnis property terbesar di Indonesia." Deg! Kok nyakitin ya? Rivan saja yang baru kenal aku tahu kalau aku bukan anak kandungnya Papa. Apa semuanya terlihat jelas di mata orang lain? Apa aku ngga pantas ya jadi anaknya Papa? Mataku memanas, dan ada yang mengalir dari sudut mataku. "Heh kok lo nangis sih? Gue cuma bercanda kali." Rivan kebingungan melihat aku menangis. Sedangkan aku terus terisak dan menunduk. "Lo bener kok hiks.. Gue bukan anaknya Papa Raihan hiks.. Gue cuma anak angkatnya doang, hiks.. Hiks.." "Rita maafin gue, gue ngga bermaksud buat lo nangis." Aku menatapnya dan terlihat sekali ia merasa bersalah. "Lo jelek kalo nangis gitu." "Bodo!" "Make up lo berantakan tuh, jadi meleber kemana-mana." "Bodo!" Aku tidak peduli mau mukaku jelek, mukaku ancur karena make up luntur. Aku tidak peduli! Hal itu sangat sensitif sekali buat ku. "Gue minta maaf, Nurita. Gue tau gue salah." Dia menarik kepalaku ke dadanya, dan aku langsung menjauh. "Bukan muhrim!" Tolakku seperti kata dia waktu itu kalau kita bukan muhrim. "Yaudah maafin gue ya, lo jangan nangis lagi." Aku terpaksa mengangguk, sadar kalau sekarang aku berada di hajatan orang. Aku tidak ingin menjadi tontonan gratis mereka. "Nah gitu dong," Rivan tersenyum. Mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Nih.. Buat hapus air mata lo." Dia memberikan sapu tangan padaku. Aku menerimanya dan mengusap wajahku untuk membersihkan air mata. Aku berhenti dari kegiatanku saat melihatnya menahan tawa. "Kenapa lo?" Ketusku. "Mata lo jadi hitam gitu." Dia menutup mulutnya dengan tangan menahan tawanya yang ingin meledak. Astaga aku lupa tadi Mama Qila memakaikan aku maskara. Pasti Maskaranya sudah berantakan deh. "Sini gue bantu." Dia mengambil lagi sapu tangannya dan mulai mengusap wajahku dibagian mata dengan sapu tangan yang ia pegang. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat wajahnya yang sangat tampan seperti biasa tapi kali ini lebih tampan. Aku juga bisa mencium parfumnya yang segar. Jantungku berdegup cepat, melompat-lompat ingin keluar. "Selesai.." Dia menjauh lagi, dan tersenyum. Hanya dengan senyumnya saja aku bisa meleleh seperti ini dan kesedihanku meluap entah kemana. "Jangan pernah nangis lagi di depan gue, lo jelek kalo nangis." "Rivan!" Suara perempuan memanggil nama Rivan. Aku dan dia mengikuti arah suara. Perempuan muda dengan kebaya senada dengan Tante Naira menghampiri kami, sepertinya wajahnya tidak asing lagi. Ohiya aku baru ingat, aku melihat wajah itu di wallpaper smartphone milik Rivan. "Van cepet, giliran seso foto keluarga." Kata perempuan itu dengan terengah. "Iya Mai.." Rivan tersenyum ke arah perempuan itu. Tatapannya melembut berbeda sekali saat Rivan menatapku. "Gue pergi dulu ya." Aku mengangguk. Rivan langsung melangkah menjauh dari tempatku bersama perempuan cantik yang dipanggil Mai oleh Rivan. Siapa sih namanya? Maimunah? Maisaroh. Aah bodo ah, peduli apa dengan namanya. Tapi yang jelas ada yang aneh dalam diriku. Dadaku terasa sesak saat melihat Rivan yang merangkul bahu perempuan itu. Entah karena apa hatiku sakit. Karena perkataan Rivan yang bilang kalau aku bukan anak kandung Papa Raihan atau malah melihat adegan Rivan bermesraan dengan perempuan yang jauh lebih cantik dariku. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD