Gara-gara Iler

1448 Words
Aku mengerjapkan kedua mataku tak percaya. Ji Chang Wook ada dihadapanku? Apa aku sedang berada di Korea ya? Perasaan tadi aku tidak salah menaiki kereta jurusan ke Pasarsenen. Ngga mungkin kan ada kereta dari Malang ke Seoul? Adanya tuh Train to Busan. Kalau ingat film itu aku jadi parno sendiri, bagaimana jika kereta yang sedang aku tumpangi berubah seperti yang ada di film itu, yang isinya zombie semua. Aku harus apa? Harus kemana? Bisa-bisa aku juga berubah jadi zombie karena digigit. Ih sereeem. Okey back to laptop. Eh topik maksudnya. Aha! Iyak aku baru ingat, aku kan pernah ketemu dengan kloningannya Ji Chang Wook, siapa dah namanya? Rivan kalau ngga salah. Tapi kata Anwar tadi dia ngga jadi pulang, kenapa dia ada disini? Tapi tunggu dulu deh, tadi kata dia aku tidur di dadanya, jangan-jangan dia.... Aku langsung memeriksa tubuhku, seluruhnya tanpa terkecuali. Dan aku baru bisa tenang saat melihat semua pakaianku masih lengkap beserta jilbab yang masih terpasang sempurna di kepalaku—meskipun sekidit miring sih. Ngga ada yang tau kan dia ngapain aja selama aku tidur. Kalau dia grepe-grepe kan bisa bahaya. "Kenapa lo?" Tanyanya heran melihatku yang sedang memeriksa tubuhku. Yaampuuuun dari jarak sedekat ini aku bisa melihat wajahnya yang benar-benar sangat mirip dengan Ji Chang Wook. "Matanya.." Tanganku tiba-tiba terulur ke wajahnya dengan ibu jariku yang mengusap-ngusap matanya. Mata itu mempunyai iris hitam dengan bingkai alis yang lumayan tebal. Tatapannya yang tajam berhasil menusuk dadaku seperti ditusuk oleh pedang Goblin. Aww. "Hidungnya..." Tanganku turun menuju hidung, jari telunjukku mendarat sempurna di hidungnya yang mancung seperti perosotan. "Bibirnya...." Bibir itu berwarna pink pucat, beda sekali dengan bibir lelaki pada umumnya yang menghitam. Aku yakin kalau bibir itu tidak pernah tersentuh nikotin sedikitpun. "Awas! Minggirin tangan lo dari muka gue. Kita bukan muhrim!" Aku langsung tersentak saat dia menepis tanganku. Yaampun Rita.. Wakeup plis dia itu bukannya Ji Chang Wook beneran. "Bukan muhrim lo bilang? Pas gue tidur jangan-jangan lo puas ya grepe-grepe-in gue?" "Grepe-in lo? Ngga napsu gue sama cewek kayak lo. Rata!" Aku melingkarkan kedua tanganku ke depan d**a. Enak aja dia bilang rata, belum tau aja sih ukurannya berapa. Aku kan memang sengaja memakai baju yang longgar agar tidak membentuk tubuhku. Jupe mah kalah. Tapi boong deh. "Ish.. Untung ganteng." "Ada juga lo kali yang grepein gue. Selama lo tidur kepala lo ngusel terus di d**a gue. Dan ini lo liat," dia menunjuk kemejanya sendiri yang basah, berbentuk bulat seperti tersiram air. "Karena lo." Katanya dengan menatapku tajam. Aku masih tidak mengerti dengan ucapannya. Aku kan tidur mana mungkin menyiram air ke kemejanya itu. "Gue ngga nyirem air ke kemeja lo sih." "Bukan air, tapi iler lo!" "Apa?" Aku melongo. Mulutku setengah terbuka dan ketika sadar aku langsung menutupnya. Mataku melirik ke dadanya Rivan yang terkena maha karyaku itu. Lumayan besar juga basahnya. "Ma..ap." Kataku dengan penuh penyesalan. "Gue ngga mau tau sih, lo harus ganti rugi." "Ya..yaudah sini, kemeja lo gue yang cuci." Kataku setengah takut. "Gue ngga yakin lo bisa nyuci baju. Lo itu kan tipe-tipe anak manja." Apa dia bilang? Tapi bener juga sih. Tapikan juga ini lagi belajar. Selama di Malang juga siapa yang nyuci baju, ya aku sendirilah. Lebih banyak laundry sih. Hehe. "Lo pikir selama gue di Malang siapa yang nyuci baju?" Kataku tak terima. Dia langsung membuka kancing-kancing kemeja. Aku langsung memalingkan muka. "Gue pakai daleman." Aku menatap ke arahnya lagi, dia sudah melepas kemejanya sempurna dan saat ini dia hanya memakai kaos polos berwarna putih. Tambah ganteng. "Nih.." Dia memberikan kemejanya yang berwarna biru kepadaku. Parfumnya menguar ke indra penciumanku. Pingin nyiumin kemejanya deh, habisnya wangi banget sih. Kami terdiam, aku sudah memasukkan kemejanya ke dalam tasku. Dan dia sibuk mencoret-coret buku dipangkuannya. Mentang-mentang calon arsitek ya, kemana-mana bawa buku sketsa. "Lo rumahnya dimana?" Tanyaku padanya untuk memecah keheningan. Engga enak banget diem-dieman begini. "Tangerang." Jawabnya singkat. Pandangannya juga ngga beralih dari bukunya. "Tangerangnya dimana?" Tanyaku lagi. "Poris." Aku mengangguk paham, dulu teman SMA ku juga ada yang tinggal di Poris. Tapi aku belum sempat main sih. "Kalau gue di Pantai Indah Kapuk." Kataku. Dia menghentikan aksi coret-mencoretnya dan menatapku tajam. "Nggak ada yang nanya!" "Yaaa siapa tau aja lo mau main." Buat ngelamar juga ngga keberatan kok. Lanjutku dalam hati. "Oiya, dari Senen lo naik apa ke Tangerang?" "Lo bawel banget sii." Ucapnya geram. "Gue lanjut naik commuter line." Lanjutnya dengan ketus. Untung ganteng ya.. Sabar Rit, sabar.. "Bareng dong kalau gitu. Ntar gue turun di stasiun pesing." Asli ini aku tidak berniat menguntit atau mengikuti dia ya, karena memang rumah kita itu searah. "Terserah!" **** "Gue mau shalat ashar dulu, lo mau ikut ngga?" Tawarnya setelah kami tiba di Stasiun Pasar Senen. Waktu memang telah menunjukkan pukul 15.35 dan sudah memasuki waktu ashar. "Gue lagi ngga shalat, lagi ada tamu bulanan. Tapi gue ikut lo aja deh." Aku langsung mengikutinya dari belakang. Langkahnya cepat sekali, aku jadi setengah berlari agar tidak tertinggal jauh. "Aduh.." Seseorang menabrakku, dan membuat tas jinjing yang aku pakai terjatuh. "Maaf Mbak, Maaf.." Bukannya menolongku, laki-laki itu malah langsung pergi. Begitulah Jakarta, lo ya lo, gue ya gue. Maksudku urusan lo ya masalah lo. Urusan gue baru masalah gue. Tapi ngga semuanya begitu sih, ada juga yang memiliki hati baik. Tapi sedikit. "Ck, selain bawel lo juga ceroboh ya." Rivan berjongkok di depanku dan membantuku untuk merapikan isi tasku yang kebanyakan berisi makanan. Memang tas itu khusus ku bawa untuk membawa oleh-oleh, kalau bajuku aku taruh di tas gunung yang sedang aku gemblok. "Udah tau di sini rame. Makanya kalau jalan liat-liat." Katanya sambil memasukkan satu bungkus keripik ceker ke dalam tasku. "Ya lagi lo jalan cepet banget sih, Van." "Yaudah ayo!" Katanya dan langsung mengenggam tanganku untuk berdiri. Bukan tangan sih sebenarnya, tapi bajuku yang dia pegang. Tetap saja buat jantungku mau copot rasanya. "Gue nitip barang-barang sama lo. Awas aja kalo lo kabur, kemana aja gue bisa nemuin lo." Ujarnya. "Ish.. Emangnya gue ada tampang kriminal apa? Yaudah sini, mana barang-barang lo?" Dia langsung melepas tas gembloknya dan langsung menaruhnya dihadapanku. "Handphone gue nih, pegang!" Aku langsung menangkapnya, untungnya tidak terjatuh, kalau sampai terjatuh bisa mati aku. Smartphone buatan Korea versi terbaru, Bok! Itu yang biasa dipakai Oppa-oppa di drama Korea yang biasa aku tonton. Aku mencoba untuk membuka handphonenya, kepo-kepo dikit lah ya. Namun gagal. Aku lupa kalau handphone canggih seperti itu pasti memakai fingerprint scanner, ituloh fitur keamanan di handphone yang memakai sidik jari. Sudah pastilah sidik jariku tidak tertera, memangnya siapalah aku. Tapi layarnya menyala dan menunjukkan wallpaper. Di sana ada foto Rivan bersama dengan perempuan berhijab yang sangat dekat sekali. Siapa ya? Apa jangan-jangan Rivan sudah taken? "Woy bengong lagi lo! Ayolah berangkat." Rivan muncul mengagetkanku. Dan omo!! Mukanya bersinar banget habis terkena air wudhu. Pasti nih orang rajin shalat deh. Dan satu lagi, Ji Chang Wook pakai peci? Bisa kalian bayangin ngga sih? "Gue ngga kebayang nanti kalau lo jadi Dokter gimana. Bawel, ceroboh, tukang bengong, keburu mati kali pasien lo." Dia tersenyum mengejek. "Sembarangan!" Aku meninju lengannya, dan dia sedikit meringis. Haha emang enak. Kami sedang menunggu kereta di peron jurusan Duri. Dari duri nanti transit untuk pindah kereta Tangerang. Kalau kata judul draKor mah Train to Tangerang. Okey abaikan satu ini. Aku bersyukur bisa duduk di kereta karena mengingat ini waktu-waktu padat Jakarta. Itu sih karena ada Mas-mas baik hati yang mengalah memberikan aku tempat, benar kataku. Masih ada orang baik di Jakarta meskipun sedikit. Sedangkan Rivan berdiri, satu lengannya terangkat ke atas untuk berpegangan. Aku memperhatikan lengannya yang lain, tulangnya besar dan otot-ototnya sudah mulai keluar. Kok bisa ya? Padahalkan kerjaannya itu hanya menggambar saja. Kami sampai di Stasiun Duri. Dan menunggu kereta jurusan Tangerang. Biasanya jurusan Tangerang ini lumayan lama. Karena sepertinya CL ini hanya ada Tangerang-Duri, Duri-Tangerang saja. "lo aja yang duduk." Ujar Rivan saat kami sudah masuk ke kereta Tangerang dan hanya ada satu bangku yang tersisa. "Lo aja yang duduk, Van. Gue cuma dua stasiun doang kok." Tolakku. "Ngga papa. Lo aja yang duduk." Katanya lagi. "Yaudah Mbak, Mas kalau ngga mau duduk biar saya aja deh yang duduk." Kata ibu-ibu yang berdiri disebelahku. "Yaudah Bu, silakan." Aku mempersilakan. Sedangkan Aku dan Rivan terkekeh menahan tawa. "Gue duluan ya, hati-hati lo!" "Jangan lupa baju gue!" "Iyak. Dah. Bye.." Aku turun dari kereta sebelum pintu tertutup kembali. Aku kira perjalananku dari Malang ke Jakarta akan membuatku boring. Tetapi nyatanya? Benar-benar menyenangkan. Siapa lagi kalau bukan karena Ji Chang Wook KW. Bahkan stock drakor yang ada di handphoneku yang sudah aku copy semalam dari Macbook masih kalah menariknya dengan dia. Aku tersenyum sendiri, saat memikirkan masih ada kesempatan lagi untuk bertemu dia. Iya dong, baju diakan masih ada di aku. Otomatis kita akan bertemu lagi. Yeay. *****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD