Aku bisa tertidur nyenyak malam ini. Di mana dua minggu kemarin aku hanya bisa tidur selama 4 jam sehari karena harus mati-matian belajar untuk UAS. Tidak mudah memang menjadi mahasiswi kedokteran, tetapi aku tetap harus menjalaninya dengan ikhlas karena itu merupakan pilihanku.
Malam ini aku harus packing, besok pukul 11.30 aku harus tiba di Stasiun Kota Baru dan kereta harus berangkat pukul 12.10. Tidak banyak yang aku bawa, hanya beberapa setelan pakaian saja, karena memang aku menyisakan pakaian ku di Jakarta dan tidak membawa semuanya kesini. Benda penting lainnya adalah Macbook dan juga handphone pintarku. Aku tidak boleh ketinggalan membawa benda itu, bisa-bisa aku boring setengah mati karena di sana menyimpan koleksi drama serta lagu-lagu Korea kesukaanku.
Aku sudah tidak sabar rasanya bertemu dengan keluargaku. Ini adalah pertama kalinya aku jauh dari mereka, 4 bulan aku merantau di kota orang. Tanpa ada keluarga sama sekali disini. Rasa rindu semakin membuncah setiap harinya, bahkan ketika hari pertama disini aku menangis waktu itu. Selama satu minggu full setiap pagi dan sore hari aku harus menelpon Mama Qila, karena aku belum dapat teman kamar kost. Aku kangen banget sama Azmi, biasanya waktu aku di Jakarta aku seringkali dibuat kesal karena ulahnya yang sering menggangguku, eeh malah ketika sosok Azmi tidak ada aku malah rindu seperti ini.
Aku juga penasaran dengan adik bayiku yang baru. Bulan kemarin Mama Qila melahirkan, tetapi aku tidak pulang karena tugas sedang banyak-banyaknya. Akhirnya aku hanya bisa melihat fotonya saja. Adik keduaku laki-laki, padahal aku sangat berharap sekali kali ini akan dapat adik perempuan, agar bisa diajak shopping bareng, ke salon bareng dan kegiatan perempuan seabrek lainnya.
Seperti aku dengan Mama Qila dahulu, nonton dan shopping ke mall, pergi ke M&G, nonton draKor bareng, pergi ke salon setiap bulannya—kami berdua memang sering berganti gaya rambut kalau sudah bosan. Entah itu mewarnai rambut ataupun berganti model. Karena jujur, meskipun aku sudah memakai jilbab ada kesenangan sendiri saat melihat rambutku indah. Kalian jangan bilang siapa-siapa ya, saat ini saja rambutku berwarna brown, dengan poni tipis dan juga sedikit bergelombang. Seperti Park Shin Hye di drama Doctors.
Terkadang aku sering berpikir, untunglah Papa Raihan menikahi Mama Qila, bukan perempuan yang pernah dibawanya ke rumah. Aku masih ingat waktu itu, namanya Tante Widya, orangnya caper banget ke Papa. Kalau ada Papa baiknya bukan main, tapi kalau dibelakang Papa dia bersikap sinis kepadaku. Alhamdulillah untuk mereka tidak berjodoh. Belum jadi apa-apa saja sudah bersikap seperti itu, apalagi nanti kalau sudah menjadi istri Papa ewh. Karena itu juga yang buatku sempat tidak suka dengan Mama Qila waktu di awal pernikahan mereka. Aku takut kalau Mama Qila bersikap sama seperti Tante Widya, jadinya aku mati-matian melarang hubungannya dengan Papa. Dan setelah tahu Mama Qila itu baik, aku jadi membuka hatiku dan menerimanya. Ternyata benar ya kalau orang baik jodohnya juga orang baik pula.
"Kamu jadi pulang besok, Rit?" Tanya Dinda teman sekamarku yang tiba-tiba masuk. Pasti dia baru selesai kajian deh.
"Iya.." Aku mengangguk sambil memasukkan rok panjangku yang telah dilipat. "Udah homesick benget nih aku."
Kalau sama Dinda, gaya bicaraku berubah jadi aku-kamu, berbeda dengan yang lain memakai lo-gue. Dinda tuh orangnya kalem abis, beda banget sama aku yang pecicilan. Suaranya juga lembuuuut banget selembut kapas. Pokoknya dia itu feminin banget deh.
"Yah padahal aku mau ajak kamu ke Wonosobo Rit, ke rumahku." Kata Dinda kecewa.
Aku tersenyum kearahnya, "kan masih ada liburan semester berikutnya Din. Pokoknya liburan semester besok kamu harus ngajak aku ya ke rumahmu itu."
Dinda menganggukkan kepalanya senang, "iya pasti. Nanti kamu tak ajak ke Dieng, ke kebun teh Tambi, telaga warna, kalau kamu mau hiking kita bisa ke gunung Prau."
Aku hanya mengangguk-angguk saja karena tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Dinda.
"Kamu kapan pulang, Din." Tanyaku.
"Lusa." Jawabnya, "yaaa aku sehari tidur sendirian dong." Katanya pura-pura sedih.
"Muka kamu tolong di kondisiin deh ya, kayak suami yang ngga dapet jatah istrinya aja deh. Haha."
"Ih Rita...."
Dan kamipun tertawa bersama.
Dinda itu teman sekamar ku, dia asli Wonosobo Jawa Tengah. Sama-sama fakultas kedokteran, hanya saja dia jurusan farmasi sedangkan aku jurusan Pendidikan kedokteran. Seperti yang aku bilang tadi, orangnya feminin abis. Tiap hari dia tuh pakainya gamis dan juga kerudung panjang sampai menutupi bokongnya. Orangnya kaleeem banget, bicaranya juga lembut seperti kapas. Tipe-tipe istri idaman gitu lah. Tapi untungnya dia bisa menyeimbangi aku yang sangat bertolak belakang dengannya. Meskipun berhijab, aku belum syar'i-syar'i banget. Masih suka memakai jeans kalau di luar kampus. Kerudungnya yang belum panjang dan masih lilit sana-sini. Dan juga tingkahku yang pecicilan dan tidak bisa diam. Kalau dibandingi dengan Dinda beda jauh seperti langit dan bumi.
Tiba-tiba pikiranku melayang jauh waktu pertama kali ke tempat ini. Ternyata empat bulan sangat cepat sekali dijalani, padahal masih sangat teringat jelas di otakku bagaimana excitednya diriku waktu membuka pengumuman di internet kalau aku lolos, menjadi mahasiswa baru dan harus mengikuti Ospek. Dan juga yang paling tidak terlupakan adalah pertemuanku dengan kloningannya ayang Ji Chang Wook.
Betewe, besok dia pulang juga ngga ya? Apa dia juga menaiki kereta yang sama denganku—dengan kami sih tepatnya. Karena aku sudah janjian dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang dari Jakarta. Ya Allah.. Kalau besok ketemu berarti kita jodoh. Hihi.
***
Aku sampai di Stasiun Kota Baru, dari kostan ku memakan waktu 15 menit untuk bisa sampai kesini. Tadi sempat ada adegan drama waktu aku berpamitan dengan Dinda untuk berangkat. Heran, padahal kita pisah hanya dua minggu saja.
Aku masuk ke dalam Stasiun dan mengedarkan pandangan untuk menemukan teman-teman yang juga ingin pulang ke Jakarta. Aku melambaikan tangan ke arah sekumpulan orang yang aku kenal, lebih tepatnya ke Puspita.
"Rita.." Puspita memanggilku. Dan aku langsung menghampirinya.
"Hai," sapaku. Bukan hanya pada Pita saja melainkan disini ada Anwar, Gilang, Putri beberapa orang yang lain yang tidak ku kenal namanya. "Kita nunggu siapa lagi?" Tanyaku. Aku berharap sih Ji Chang Wook juga ikut pulang bersamaku, eh bersama kami maksudnya.
"Nungguin keretanya lah Rita." Jawab Gilang.
"Si Rivan ngga pulang katanya dia mau liburan disini." Anwar menyahut. Ish kenapa dia ngomong masalah Rivan sih, ada yang nanya juga enggak.
"Ngga ada yang nanya ya, War." Kataku jutek.
"Oh ya lo kan pasti tau ya, kan pacarnya." Kata Anwar lagi. Aku hanya memutar bola mataku, jengah. Pacar? Siapa yang pacarnya siapa?
Tapi kenapa hatiku kecewa ya? Apa aku kecewa karena dia tidak pulang? Atau karena dia tidak pulang dan kita tidak bertemu yang berarti kita ngga berjodoh. Ish, lagipula kenapa sih semalam aku harus berdoa seperti itu.
Kami menaiki kereta api Majapahit jurusan Malang-Pasarsenen. Papa sih menyuruh aku naik pesawat saja, tetapi aku tidak mau dan lebih memilih kereta ekonomi ini. Lagipula kereta ini juga nyaman dan berAC juga. Lumayankan uangnya, mending buat hedon di Jakarta. Haha.
Aku melihat kembali nomer bangku, aku duduk di dekat jendela. Sementara Pita di depanku dengan Gilang berada disampingnya. Kursi sampingku masih kosong, ahelah.. Engga kursi ngga di kehidupan nyata aku jomblo. Ngenes banget kan?
Aku membuka ponselku dan memasang earphone. Aku membuka menu video di mana semalam aku sudah mengcopy drama Korea ke handphone. Aku sedang menonton draKor Moon Lovers: Scarlet Heart, cerita kerajaan gitu deh pokoknya. Merebutkan harta, tahta, wanita.
"Uuuuh Wang Wook manisnya." Gumamku. Aku tersipu sendiri saat melihat salah satu pemain laki-laki yang bersikap manis ke pemain perempuan. Tatapannya itu loh, kayaknya beneran cinta banget. Mau dong digituin. Bersamaan itu pula aku merasakan seseorang duduk mengisi kursi di sampingku. Aku melirik Pita dan juga Gilang yang sepertinya mengobrol dengan orang disebelahku, namun aku tidak mempedulikannya.
Aku mengangkat kedua tanganku ke atas untuk merenggangkan ototku yang kaku. Sudah satu episode aku menonton dan aku mulai mengantuk. Pita dan Gilang pun sudah terlelap sejak kereta mulai berjalan. Aku melepas earphoneku dan langsung menyenderkan kepalaku ke jendela. Dan mulai terlelap.
***
Wangi apa ini enak banget? Segar, membuatku tak ingin beranjak dan terus-terusan membauinya. Aku juga merasa nyaman sekali, padahal sebelum aku tertidur jendela kereta tak senyaman ini. Aku jadi malas untuk membuka mataku sendiri.
"Gue tau lo udah bangun dari tadi." Suara bariton terdengar, tapi aku tak mengindahkannya. Mungkin saja dia berbicara pada orang lain bukan kepadaku.
"Nurita tolong angkat kepala lo dari d**a gue."
Nurita? Nama orang yang diajak bicaranya sama kayak nama aku. Dan sistem-sistem syarat di otakku kembali menyatu dan memberi informasi kalau itu adalah namaku. Aku langsung membuka mata, astaga! Aku tidur di d**a laki-laki?
Aku mengangkat mataku untuk melihat orang itu dan... Astaga! Ngga mungkin!
"Jji.. Ch..Chang Wook?"
***