Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, berarti sudah enam jam sejak bidan menyuntikkan hormon perangsang ke tubuh Fina. Seorang bidan yang berbeda dari yang sebelumnya mendekati ranjang Fina dan meminta Fina untuk membuka kedua kakinya lalu menusukkan jari di kewanitaan Fina. Bidan tersebut hanya menggeleng lemah setelah mencabut jarinya. Mario hanya meringis melihat aksi di depan mata kepalanya itu, sedangkan Fina terlihat biasa saja. Untung saja bidannya perempuan, kebetulan juga dokter kandungannya juga perempuan jadi membuat perasaan Mario sedikit lega. “Apa perut ibu merasa sakit seperti terlilit sesuatu? Nyeri di pinggul dan di bawah perut?” tanya bidan kepada Fina. “Nggak,” jawab Fina singkat. “Ini sudah enam jam, seharusnya pembukaannya sudah setengah jalan, tapi ini d

