Markus membawanya ke sebuah ruangan yang berisi beragam alat penyiksaan. Joa mulai ketakutan saat lelaki itu menyeretnya ke sebuah kursi kulit lalu mengikat kedua tangannya dengan tali dari kulit.
Joa meronta-ronta. Sayangnya ikatan Markus cukup kuat, membuatnya terjebak di atas kursi, tak berdaya.
Markus mendekat, membawa tali bulu angsa itu dengan gerakan perlahan, sengaja mempermainkannya. Netra Joa menatapnya tajam, ketegangan yang bercampur rasa takut kini memenuhi udara di sekeliling mereka.
Tapi Markus tidak tampak peduli. Ia menyeringai kecil, menunduk hingga wajahnya hampir sejajar dengan Joa.
“Apa yang akan kau lakukan, Tuan?”
“Apa yang aku lakukan?” Markus mengulang pertanyaan Joa dengan nada mengejek. “Bukankah kau yang ingin tahu batasmu, Joa? Aku hanya ingin menunjukkan… apa yang terjadi saat kau bermain-main dengan api. Kau tahu, atau kau mungkin pura-pura tidak tahu. Tapi aku harus mengajarimu sesuatu. Aku menyukai kepatuhan, Joa. Kau sudah menyerahkan dirimu seutuhnya padamu demi tiga ratus juta sialan itu. Jadi kuharap, aku mendapatkan pelayanan yang maksimal darimu, bukan pembangkangan.”
Joa menelan ludah, berusaha mengendalikan rasa paniknya. “Kau ingin menakutiku, Markus.” Joa akhirnya memanggil namanya.
“Oh, aku tidak mencoba menakutimu,” Markus berbisik, suara rendahnya mengalir seperti racun. “Aku hanya mencoba membuatmu… menyerah.”
Tali bulu angsa itu mulai menyentuh kulit Joa, menyapu perlahan di sepanjang lengannya yang terikat. Sentuhannya lembut, bertolak belakang dengan aura mengancam yang dipancarkan Markus. Joa menggigit bibirnya, menahan gejolak yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.
“Lihat,” Markus melanjutkan, nada suaranya hampir seperti bisikan. “Tidak menyakitkan, bukan? Kadang, menyerah tidak seburuk yang kau pikirkan.”
“Lepaskan aku,” Joa mendesis, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tegas.
Markus tertawa pelan, menggerakkan tali itu lebih pelan di sepanjang tulang selangka Joa. “Kau punya dua pilihan, Joa. Kau bisa tetap melawan… atau kau bisa menikmati kenikmatan tubuhmu sendiri.”
Joa memalingkan wajahnya, menolak untuk memberikan Markus reaksi apa pun. Namun tubuhnya mulai bereaksi tanpa ia sadari—detak jantungnya semakin cepat, kulitnya merinding di setiap sentuhan lembut itu.
“Kau merasakannya, bukan?” Markus berbisik dekat telinganya. “Tubuhmu tahu… meskipun pikiranmu menyangkalnya.”
“Berhentilah mempermainkanku, Markus!” Joa memperingatkan dengan nada keras, suaranya serak tapi penuh kelemahan. Sialnya, dia menikmati setiap sentuhan yang Markus berikan. Hingga tanpa ia sadari, Joa mengerang.
Markus berhenti, menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Berhentilah keras kepala, Joa.”
Wajah Joa memerah oleh gairah yang dipercikkan Markus. “Please, berhentilah!” erangnya, suara bergetar, tubuhnya mulai gemetar, menikmati setiap sensasi yang menjungkir-balikkan akal sehatnya.
Markus melepaskan ikatan di tangan Joa dengan gerakan lambat, memberinya kebebasan yang terasa seperti jebakan lain. Joa menatap Markus dengan tatapan tajam, meskipun tangannya gemetar saat ia merenggangkan pergelangan yang sakit.
“Permainan ini belum selesai,” Markus berkata sambil mundur perlahan. Kali ini Markus bermain-main dengan area intim yang tersembunyi di balik celananya.
Joa memekik, “Markus apa yang kau lakukan?”
Sorot mata Markus berkabut oleh gairah, namun lelaki itu berhasil menahan hasratnya sendiri. Ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan.
Jari jemarinya bermain dengan liar. Berputar di bagian paling sensitif Joa. Mempermainkan perempuan itu hingga Joa tak tahu bagaimana harus mempertahankan diri.
“Please, Markus.”
“Apa?” Markus berhenti. Tapi Joa menariknya semakin ke dalam.
Jemari Markus lihai berputar di bagian lembut kemerahan dirinya, Joa memekik, menutup kedua matanya, menikmati setiap sentuhan terlarang yang membuatnya melayang perlahan.
“To-long, ja-ngan … ber-henti!” Joa terengah-engah saat Markus mulai memasukkan jarinya dengan gerakan intens.
Joa tetap diam, menahan amarah dan rasa malu yang bercampur aduk dalam dirinya. Ia tahu satu hal—ia harus menemukan cara untuk keluar dari tempat ini, sebelum Markus benar-benar menemukan titik lemahnya.
Terlambat … desiran hasrat menggebu mengambil alih kontrol dirinya. Joa memekik keras, saat luapan itu menyapu dirinya. Pandangannya seketika berkabut, wajahnya merona, menampilkan bayang merah samar di kedua pipinya.
Apa ini? Joa terbujur lemah tak berdaya, saat hasratnya memuncaki area tertinggi dari level kepuasan diri.
Markus menarik sudut mulutnya. Puas melihat perempuan itu menyerah sepenuhnya. Lelaki itu berdiri, memandangi Joa dengan senyum sombong khas dirinya.
“Bagus, Joa. Beginilah yang aku mau!” Kemudian Markus meninggalkannya begitu saja. Membuat Joa merasa lemah di bawah kendali lelaki itu.
Anehnya, bukannya membangkang seperti biasanya, Joa merasakan hal lain yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Apakah ini yang dinamakan hasrat? pikir Joa dalam hati? Meski begitu, seharusnya dia membenci Markus karena membuatnya lemah seperti ini, tapi justru ia malah menginginkan sesuatu yang lebih.
Entah apa itu?
***