Markus Sebastian Alexander, pria berusia 35 tahun, bertubuh atletis dengan luka sodet khas di wajahnya. Lelaki itu adalah sosok yang dilingkupi aura misterius nan mematikan.
Wajahnya keras, dengan tatapan tajam yang mampu menusuk hingga ke relung terdalam siapa pun yang cukup berani menatapnya.
Senyum sinis kerap menghiasi bibirnya, menciptakan kesan bahwa dunia ini hanyalah panggung yang ia kendalikan.
Di dunia kegelapan, ia dikenal sebagai Mark the Darkness, nama yang mampu menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya.
Dialah raja bayangan, penguasa takhta kegelapan yang ditakuti siapa pun. Semua orang mengenalnya sebagai penjual obat terlarang, pemasok senjata ilegal, dan pengendali jaringan mafia internasional, Markus berdiri di puncak kekuasaan. Tak ada hukum yang mampu menyentuhnya—ia dewa di kalangan iblis sekali pun.
Meski begitu, tidak ada hukum yang mampu menjeratnya atas semua perbuatan keji yang dilakukannya. Seakan-akan, hukum diciptakan hanya untuk melindunginya.
Bisnis Markus bukan hanya terjalin di kalangan mafia internasional saja, melainkan dengan para pejabat berwenang yang memiliki kekuasaan mutlak atas pemerintahan.
Nama Mark amat disegani di kalangan pejabat, karena lelaki itu begitu lihai menemukan celah dari beberapa kasus korupsi yang dilakukan para pejabat.
Tidak ada seorang pun yang berani melawan bahkan menentang dirinya.
Joa berbaring di atas ranjang, merenungi setiap kata Renata yang mendeskripsikan Markus sebagai pria iblis yang keji.
Suara derap langkah kaki terdengar, Joa terbangun saat melihat lelaki yang saat ini tengah mengisi pikirannya muncul di hadapannya.
Markus tersenyum dingin, “Apa sekarang kau mulai takut padaku?” Seakan tahu isi pikirannya, Markus mengatakan itu.
“Kau bukan Tuhan yang harus aku takuti!” balas Joa, sengit.
Respon itu membuat senyum Markus melebar sedikit. “Bagus, karena aku ingin membuatmu takluk, tanpa harus menakutimu.”
Markus melangkah mendekat, seorang pelayan muda mengikutinya dari belakang. Wanita itu membawa setumpuk pakaian di tangannya.
“Ganti pakaianmu!” Perintah Markus, begitu mendominasi.
Joa menatap pakaian itu dengan ekspresi penuh perlawanan. Gaun merah yang melekat di tubuhnya mungkin adalah pakaian terburuk yang pernah ia kenakan, tapi kalau boleh memilih, dia lebih ingin memakai gaun terbuka itu untuk mempertahankan harga dirinya.
“Aku tidak butuh pakaian,” sergah Joa menolak perintah lelaki itu.
Markus tersenyum tipis, seolah mengantisipasi sikap keras kepala itu. “Berhentilah melawanku, Thumbelina!” Ia sengaja mengatakan itu untuk memprovokasi Joa.
Wajah Joa memerah oleh amarah. “Jangan pernah memanggilku begitu. Kau mungkin telah membayarku, tapi aku bersumpah akan mengganti semua uang yang telah kau keluarkan!”
Alis Markus meninggi seraya menatap Joa lekat. “Dengan apa kau akan membayarku? Bukankah kita sudah sepakat kau akan menjadi bonekaku?”
Joa terdiam, menelan kembali umpatan serta cacian yang hendak ia luncurkan dari mulutnya.
“Perlu kau ketahui, aku sangat menyukai boneka yang patuh. Jadi, bersikap baiklah padaku, selama aku masih bersikap baik padamu.”
Hening mencekam, Joa tak mampu membalas kata-katanya.
“Sekarang gantilah pakaianmu dan temui aku di ruang makan.”
“Bagaimana jika aku menolak?”
“Kurasa kau butuh bantuanku untuk mengganti pakaianmu!”
Mendengar ancaman tersirat itu, Joa bergegas bangkit dari ranjang mengambil pakaian yang tergeletak tak jauh dari sisinya.
“Sialan, kau!”
“Jangan mengumpat!” teriak Markus dari luar kamar ganti.
Joa seketika menutup mulutnya rapat, mengutuki lelaki itu dalam hatinya sendiri.
***
Joa melangkah gontai menyusuri tangga batu yang tak terlalu curam. Seorang pelayan mengikutinya dari belakang, mengarahkan ia ke tempat di mana lelaki bernama Markus itu telah menunggunya.
Pendar cahaya lilin menyala di kegelapan. Rumah ini, ralat istana ini luar biasa megah, minim cahaya. Entah mengapa kesan misterius kental terasa saat Joa melewati lorong demi lorong.
Dua penjaga membukakan pintu, seorang penjaga lainnya menarik kursi untuknya, “Silakan Nona.”
Joa melirik sekilas ke arahnya, duduk dengan patuh, tanpa konfrontasi sedikit pun.
“Western? Seafood? Japanese Food? Asian Food? Aku tak tahu apa selera kulinermu?”
“Aku bukan pemilih, Tuan.”
“Maksudmu, kau akan memakan apapun yang aku tawarkan?”
Joa terpaksa mengangguk singkat, mengiyakan.
“Bagaimana jika aku menyuruhmu meminum racun?”
“Apa kau menginginkan aku melakukannya?” tanya Joa tanpa pikir panjang.
Markus hanya menatapnya singkat, sebelum akhirnya pandangannya teralih ke steak di hadapannya.
“Jika ya, aku akan melakukannya sekarang juga.”
Markus mencebik, “Kepatuhan yang tidak kuinginkan. Mengapa kau harus selalu melawanku, Joa. Jika kau bisa menyerah dengan mudah.”
“Mengapa aku harus menyerah, Tuan? Kau memaksaku.”
“Aku? Memaksamu? Bukankah kau yang menawarkan dirimu padaku?”
Joa terdiam, berusaha meresapi kata-kata Markus. “Kalau begitu bisakah kau membebaskanku? Aku bersumpah akan membayar utangku padamu.”
“Dengan apa kau akan membayarnya?” tantang Markus sambil menaruh garpu dan pisau di atas piringnya. Jelas terlihat, dia kehilangan minat pada santapannya.
“Apapun, selain aku harus kehilangan diriku.”
“Kau tidak pernah kehilangan dirimu, aku bahkan belum mengambil apa yang menjadi milikmu.”
“Kau ingin mengubahku menjadi bonekamu.”
Alis Markus terangkat tinggi, “Apakah sudah kulakukan? Kau bahkan tidak pernah mematuhiku, Joa.”
Joa mengatupkan bibirnya, rapat. “Sekarang diam dan makanlah. Aku butuh ketenangan.” Ucapan Markus membuat Joa hening seketika.
“Bagaimana jika aku menolak?” Joa kembali menantang lelaki itu.
Tatapan Markus menyipit tajam, saat itulah Joa bersumpah ia akan menyesali apa yang baru saja diucapkannya.
Markus membanting peralatan makannya, sorot matanya membeku, menatap Joa hingga mampu menusuk ke relung sanubari.
Joa beringsut di kursinya, tubuhnya gemetar walau ia berusaha tak menunjukkan ketakutannya.
Markus seketika berdiri, menyeret Joa ikut bersamanya.
“Ke mana kau akan membawaku?” Joa berontak, tapi saya cengkeraman Markus sangat kuat. Bagaimana pun Joa takkan bisa melepaskan diri dari lelaki itu.
“Memberimu sedikit pelajaran,” bisik Markus tanpa melirik sedikit pun ke arahnya.
“Tolong lepaskan!” Joa berusaha melepaskan cengkeraman lelaki itu, tapi sia-sia. Mereka terus berjalan menuju sebuah kamar dengan pintu kayu besar. Dua penjaga membuka pintu yang di dalamnya membuat Joa membelalakkan mata.
Markus membawanya ke sebuah kamar yang berisi banyak sekali senjata untuk penyiksaan.
Apakah ini akhir dunianya? Joa berbisik pada dirinya sendiri. Sayangnya ia tak kunjung mendapatkan jawaban sebelum akhirnya pintu tersebut terkunci rapat, memerangkap Joa bersama lelaki yang mereka sebut sebagai iblis tersebut.
***