Part 11 - Serangan Rahasia Markus
Suara nada tinggi terdengar lambat, Markus mengentakkan jemarinya di atas meja—terlihat semakin tak sabar menunggu jawaban.
“Halo?”
“Albert, aku ingin kau mengecek kemana aliran dana rekening ini.” Tanpa tedeng aling-aling, Markus segera memberi lelaki itu perintah yang takkan pernah bisa dibantah.
“Baik, Tuan.”
Segera, hanya butuh beberapa menit, Markus berhasil menemukan nomor rekening yang menerima aliran dana dari Joanna.
“Renata Valerie.” Markus merapal nama yang tertera di bukti penerimaan uang di rekening.
“Leo, cari tahu siapa Renata Valerie sekarang!”
“Baik, Tuan.” Leo segera memerintahkan anak buahnya berpencar mencari informasi yang dibutuhkan bos besar mereka.
Tak berselang lama, Leo akhirnya kembali ke ruangan. Wajahnya menunjukkan ekspresi tenang. Lelaki itu berhasil mendapatkan informasi penting yang pastinya sangat dibutuhkan bos besarnya itu.
Markus, yang tengah memeriksa ponselnya, mengangkat alis. Lelaki itu melemparkan tatapan tajam pada pengawal setianya. “Apa kau sudah menemukan informasi tentang Renata?”
“Tentu saja, Tuan.” Leo segera menghampiri kemudian menyerahkan berkas berisi rincian informasi tentang perempuan itu.
Markus mengambilnya, membuka halaman pertama, dan matanya langsung menyipit. “Wanita simpanan?” gumamnya sambil membaca dengan teliti.
“Ya, Tuan,” jawab Leo. “Renata Valerie ternyata terlibat hubungan panas dengan seorang pejabat daerah, Wakil Wali Kota, Tuan Peter. Dia memberikan sejumlah fasilitas mewah kepada Renata—apartemen, mobil, dan uang bulanan—semua itu tak tercatat resmi, tentu saja.”
Markus mendengus, menahan tawa kecil yang sarat sinisme. “Jadi, sahabat Joanna ini tidak sebersih yang terlihat. Menarik. Apa pejabat itu mengetahui soal Joanna?”
“Sepertinya tidak, Tuan. Hubungan mereka sangat rahasia. Bahkan, jika informasi ini bocor, reputasi Peter bisa hancur. Apalagi, berdasarkan rumor yang beredar, Peter akan mengikuti pemilu kepala daerah akhir tahun ini. Jadi apapun akan di lakukan untuk menutupi aibnya.”
Markus memutar otaknya cepat. Sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya. “Hubungi Peter. Kirimkan beberapa dokumen yang cukup membuatnya gelisah. Aku ingin melihat reaksinya. Sementara itu, pastikan Renata tahu bahwa aku tahu. Tapi jangan langsung menekan. Aku ingin melihat langkah apa yang dia ambil selanjutnya.”
“Baik, Tuan.” Leo bersiap meninggalkan ruangan, tetapi Markus menahannya dengan satu anggukan.
“Dan satu lagi,” Markus melanjutkan, suaranya menjadi lebih rendah dan dingin. “Jika Renata mencoba melawan atau memperingatkan Joanna, pastikan dia kehilangan semua ‘fasilitas’ dari Peter. Aku ingin memastikan dia terpojok dari segala arah.”
Leo mengangguk tegas, lalu keluar untuk melaksanakan perintah. Markus menyandarkan tubuhnya di kursi dengan senyum puas. Wanita simpanan seorang pejabat? Ini adalah senjata sempurna. Joanna mungkin berani melawan, tetapi ia ingin tahu sejauh mana keberanian itu bisa bertahan saat sahabatnya terjebak dalam skandal yang menghancurkan.
Permainan semakin menarik.
***
Telepon berdering nyaring di bawah ranjangnya. Joa berhasil mengambil ponselnya saat Markus lengah.
Ia mendapati nomor sahabatnya tertera di layar ponsel.
“JOA … apa yang terjadi padamu sebenarnya?” Teriak Renata di ujung panggilan telepon.
“Re … ? Bagaimana kondisi Ryu?” Alih-alih menjawab pertanyaan Renata, pikiran Joa malah berfokus pada keselamatan Ryu.
“Joa, apa kau tahu seberapa berbahaya kau sekarang, hah? Tapi kau malah lebih memikirkan Ryu dibandingkan keselamatanmu sendiri,” tukas Renata, kesal. “Sekarang katakan padaku, mengapa kau berada di kediaman Markus.”
Deg, jantung Joa berdegup sangat kencang, padahal dia sengaja menyembunyikan kondisinya dari sahabatnya itu.
“Dari mana kau tahu keberadaanku?” Joa merasa tak yakin.
“Astaga Joa, seharusnya kau bilang dari awal padaku. Jangan katakan kalau kau kini menjadi simpanan lelaki itu?”
“Siapa?”
“Markus Alexander!”
Hening sejenak, Joa hanya bisa menutup mulutnya rapat, menunggu Renata melanjutkan kata-katanya kembali. “Apa kau mengenal siapa dia, Joa?”
Joa hanya bisa menggeleng sekilas, sayangnya Renata tak bisa melihat responnya.
“Dia iblis, Joa. Dia pria keji yang tak segan membunuhmu jika dia bosan denganmu. Dia berasal dari dunia hitam. Sang mafia yang luar biasa kejam. Kau hanya akan menderita jika bersamanya, Joa.”
Glek, Joa berusaha menelan salivanya susah payah. Seketika ia terdiam, jantungnya berdegup semakin kencang setelah mendengar peringatan Renata. Di ujung telepon, suara sahabatnya terdengar penuh kekhawatiran.
“Joa, dengarkan aku. Aku akan datang ke sana. Aku punya koneksi, dan aku akan menyelamatkanmu. Bertahanlah. Jangan lakukan apa pun yang membuatnya curiga,” kata Renata dengan suara tegas.
Namun, sebelum Joa sempat menjawab, pintu kamar terbuka perlahan, mengeluarkan suara decitan kecil yang langsung membuat tubuhnya menegang.
Markus berdiri di sana, mengenakan setelan hitam yang membuat auranya semakin dingin. Bibirnya melengkung membentuk senyum keji, dan di tangannya ada sebuah ponsel lain—ponsel yang sedang memutar percakapan mereka.
“Jadi, ini caramu melarikan diri dariku?” Markus berbicara dengan nada rendah, namun penuh ancaman.
Joa tertegun. Telepon masih di tangannya, dan suara Renata dari seberang terdengar panik. “Joa? Apa yang terjadi? Joa!”
Markus berjalan mendekat dengan langkah tenang, mengambil ponsel dari tangan Joa dengan mudah. Ia memandang layar sebentar, lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
“Renata Valerie, ya?” Suaranya dingin, menusuk seperti bilah pisau.
Di ujung sana, Renata terdiam sejenak, lalu terdengar menghela napas tajam. “Markus,” katanya dengan nada rendah, penuh kebencian.
Markus menyeringai lebih lebar. “Haruskah aku bertepuk tangan atas keberanianmu itu? Kupikir aku seharusnya memperingatkanmu agar tidak ikut campur dengan masalahku.”
“Jangan sentuh Joa,” Renata memperingatkan.
“Terlambat,” balas Markus dingin, sambil menatap Joa yang kini tampak gemetar. “Sahabat kecilmu ini sudah menjadi milikmu. Dia sendiri yang menyerahkan hidupnya padaku. Jadi, ku peringatkan untuk tidak ikut campur masalahku, atau aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita.”
“Apa maumu, Markus?” Renata akhirnya bertanya, suaranya menggetar.
Markus tertawa kecil, lalu menutup telepon tanpa memberikan jawaban. Ia menatap Joa dengan tatapan dingin yang membuat darahnya membeku. “Sekarang, mari kita lihat seberapa jauh sahabatmu berani mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu.”
Markus melangkah keluar, meninggalkan Joa sendirian di kamar dengan pikiran kacau. Ia tahu, ancaman Markus bukanlah lelucon, dan kini Renata, sahabat yang sangat ia pedulikan, berada dalam bahaya besar karena dirinya.
“Markus,” sebelum pergi Joa memanggil namanya dengan lembut.
Markus menghentikan langkahnya, “Kumohon, jangan ganggu dia!”
“Seharusnya sejak awal kau tidak melibatkan dirinya.”
“Baiklah. Aku akan patuh padamu.”
“Bagus sekali. Sayangnya aku tidak membutuhkan kepatuhanmu.”
“Dasar sialan!” Emosi Joa meledak tiba-tiba. Lagi-lagi dia mengumpat dan berusaha menyerang. Sayangnya tubuhnya yang mungil tidak sebanding dengan tubuh kekar Markus yang dua kali lipat dari ukuran tubuhnya. “Aku akan membunuhmu!”
Markus tersentak mendengar ancaman dari wanita mungil itu. Bukannya takut, dia justru merasa tertarik mendengarnya.
“Sepertinya aku tak sabar menunggu momen di mana kau berhasil melumpuhkanku, Thumbelinaku.”
Saat Markus memanggilnya, Thumbelina, Joa justru semakin merasa terbakar oleh emosi yang kian menggelora.
Markus justru tersenyum lebar sambil meninggalkan Joa terkunci rapat di kamarnya.
***