Part 10 - Tiga Ratus Juta

1044 Words
Joa memandang Markus dengan tatapan bimbang, matanya yang biasanya penuh perlawanan kini terlihat redup. Setiap kata yang pria itu ucapkan bergema di kepalanya, menciptakan konflik yang tak kunjung reda dalam hatinya. “Jadi, bagaimana?” tanya Markus lagi, nada suaranya datar, tapi kesabaran telah habis. Dia bukan tipe pria yang bisa menunggu, begitu pula kali ini. Joa menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak dalam dadanya. Tawaran ini seperti jalan keluar dari mimpi buruk yang selama ini mengurungnya. Tiga ratus juta adalah angka yang dia kejar mati-matian, harga yang membuatnya rela menghancurkan harga dirinya. Tapi, menerima tawaran Markus berarti menyerahkan kendali hidupnya kepada pria itu. “Tiga ratus juta di muka. Apa kau setuju?” Markus terkejut mendengar nominal uang yang diajukan gadis itu. Biasanya para wanita tidak segan mengajukan nominal uang paling besar, Markus punya segalanya. Kekayaan, kemakmuran, harta berlimpah, tiga ratus juga hanya nominal uang receh baginya. “Hanya tiga ratus juta?” tanya Markus memastikan. Joa mengangguk, penuh keyakinan. “Aku bahkan menawarkan uang satu miliar untukmu.” Markus berkata lagi. “Aku hanya butuh tiga ratus juta. Kau mau memberikannya sekarang atau tidak?” “Tentu saja,” sahut Markus tanpa keraguan sedikit pun. Markus mengeluarkan ponselnya dan entah dari mana, notifikasi penerimaan uang telah masuk ke rekeningnya. “Kau dengar itu? … “ Ada jeda semenit sebelum akhirnya lelaki itu melanjutkan kata-katanya, “Aku sudah mentransfer uang itu ke rekeningmu. Sekarang kau turuti semua permintaanku.” Joa tak punya pilihan. Dia kini bukan wanita bebas seperti sebelumnya. Dengan ragu, Joa beranjak dari kursinya untuk mengambil ponsel di dalam tasnya. Ia menatap layar ponsel, deretan angka yang baru saja masuk ke rekeningnya menegaskan kenyataan yang tak bisa dia abaikan. Tiga ratus juta. Angka yang selama ini dia butuhkan demi menyelamatkan Ryu, angka yang membuatnya rela menjual harga dirinya. Tapi kini, melihat jumlah itu di sana, rasa puas yang dia bayangkan tidak pernah datang. Sebaliknya, ada kehampaan yang menggerogoti hatinya. Markus menatapnya dari seberang ruangan, sorot matanya penuh kepuasan, seolah dia tahu kemenangan sudah di tangannya. Joa sengaja menghindari tatapannya yang dingin dan mengintimidasi, tapi kehadirannya terlalu mendominasi. Markus terlalu besar, terlalu kuat, seperti bayangan yang tak bisa dia hindari. “Kenapa kau terlihat menyesal, hah? Bukankah kau seharusnya bahagia karena setidaknya aku membebaskanmu dari pria tua jalang yang akan memberimu.” Markus bertanya, suaranya terdengar santai, tapi ada nada mengejek di sana. Joa mendongak, matanya tajam menatap Markus. “Kau tidak mengenalku, Tuan,” katanya dingin, meskipun suaranya sedikit bergetar. Markus menyunggingkan senyum iblis yang menakutkan. “Aku tidak perlu mengenalmu, Joa. Karena mau tidak mau, suka ataupun tidak, kau sudah berada di bawah kendaliku. Jadi, jangan harap kau terbebas dari cengkeramanku.” Tubuh Joa bergidik melihat ekspresi Markus yang sangat menakutkan. *** “Astaga Joa, apa yang terjadi. Kau membuatku cemas selama dua hari ini. Kau tahu apa yang kupikirkan? Kutakut kau mati di tangan para penculik. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” Renata memberondong banyak sekali pertanyaan yang sulit Joa jawab. Dia tak tahu dari mana harus memulai kisahnya. “Dengar, Re. Saat ini seperti yang kau dengar, aku baik-baik saja.” “Lalu di mana kau sekarang?” “Aku tidak bisa menyebutkan secara spesifik di mana posisiku saat ini.” “Bisakah kau kirimkan lokasimu?” “Aku akan mengirimkannya segera. Tapi sebelum itu, aku sudah mentransfer uang tiga ratus juta ke rekeningmu. Tolong kau bayarkan uang ini untuk biaya operasi Ryu.” “Jangan bilang kau mencuri uang itu.” Renata tahu kisah Joa yang menghilang sebelum pertemuannya dengan klien besarnya. Jadi bagaimana mungkin Joa bisa mendapatkan tiga ratus juga itu dengan mudah? “Tenang, saja kau tidak perlu cemas. Aku mendapatkannya dengan cara halal, tentu saja.” Renata bergidik, cara halal apa yang dimaksud sahabatnya itu? Tapi dia tak mau berpikir keras, setidaknya ia masih bisa mendengar suara Joa lagi. “Kenapa tidak kau kirimkan sendiri uangnya?” “Tidak bisa, Re. Saat ini ada hal penting yang harus aku lakukan. Pokoknya aku mempercayakan uang itu padamu. Tolong beritahu aku perkembangan operasi Ryu, hanya kau yang bisa kuandalkan. Kumohon … “ Seakan tak punya pilihan, Renata terpaksa menyanggupi permintaan sahabatnya. “Baiklah kalau itu maumu.” “Terimakasih Re, aku berutang budi padamu.” Joa menghela napas panjang sebelum ia mendengar sesuatu di belakangnya. Tatapan Markus yang sedingin es tertuju padanya. “Sedang mencari pertolongan?” Suaranya berat dan dalam, berhasil mengintimidasi Joa. Membuat gadis itu bergetar sesaat sebelum akhirnya ia mengumpulkan kembali keberaniannya yang porak poranda. “Ah, aku, hanya … “ Joa memutar bola matanya mencari alasan. “Menghubungi keluargaku agar mereka tidak usah khawatir.” Bukan Markus namanya jika ia percaya semudah itu. Lelaki itu mengangkat sudut bibirnya—tinggi. Ekspresinya berubah, sedikit menakutkan. Markus semakin mendekat, suaranya tetap rendah namun penuh ancaman. “Keluargamu, ya? Sayang sekali, Joa, kau lupa satu hal penting.” Joa menelan ludah, berusaha terlihat tenang meski lututnya mulai terasa lemas. “Apa maksudmu?” Markus tertawa kecil, suara tawanya lebih seperti geraman yang membuat bulu kuduk berdiri. “Ponselmu itu sudah kulacak sejak awal. Jadi aku tahu kau tidak hanya berbicara dengan keluargamu.” Joa membeku. Ia sadar sepenuhnya bahwa Markus bukan orang yang mudah dibodohi, namun ia tidak menyangka lelaki itu akan sejauh ini mengawasi setiap gerak-geriknya. “Aku tidak melakukan apa pun yang berbahaya,” katanya mencoba terdengar meyakinkan. “Benarkah?” Markus melipat tangannya di d**a. “Kau mentransfer tiga ratus juta, Joa. Kau menyerahkan uang itu dengan mudah pada perempuan bernama Renata.” “Uang itu sudah menjadi milikku,” Joa bersikeras. “Tentu saja. Namun, kau bahkan belum menjalankan tugasmu sedikit pun.” “Ka-kau?” Joa mendelik ketakutan, sekarang aura lelaki itu begitu mengancam. “Apa kau mau melakukannya sekarang?” Markus tersenyum penuh rahasia, membuat Joa tersiksa oleh rasa penasaran. Haruskah ia menyerahkan kesuciannya pada lelaki ini? “Kau, pikir aku tertarik pada penampilanmu yang murahan itu?” Joa lantas menutupi area da-danya yang terekspos. Markus tersenyum mengejek, “Jangan pura-pura suci, Joa. Aku mungkin tak tahu berapa puluh lelaki yang telah menikmati tubuhmu. Tapi kupastikan, kau takkan melupakan momen saat bersamaku.” “Apa yang akan kau lakukan, Tuan?” tanya Joa beringsut ketakutan. Markus tersenyum miring, “Mengubahmu menjadi bonekaku seutuhnya.” Joa membeku seketika. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD