Part 9 - Negosiasi

778 Words
Joa duduk di kursi besar yang terlalu mewah untuk situasi seperti ini. Dia memandang Markus dengan sorot mata penuh kebencian, tangan terlipat di d**a, tubuhnya bersandar santai namun penuh perlawanan. Di hadapannya, Markus berdiri dengan sikap tenang, meskipun raut wajahnya menunjukkan ia sedang menahan diri. “Berapa lama kau akan menahanku di sini?” Joa memulai, suaranya tajam. “Aku bukan tahananmu.” Markus menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. “Itu tergantung padamu,” jawabnya santai. “Kau tidak membuat situasi ini lebih mudah, Joanna.” Joa mendengus. “Oh, maaf jika aku tidak berperilaku seperti gadis-gadis lain yang tunduk padamu. Maaf jika aku punya pikiran sendiri,” katanya sinis. “Sekarang, apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Kalau kau merasa bersalah, bebaskan aku. Kalau tidak, kau sama saja seperti semua pria busuk lainnya.” Markus mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat Joa merasa lebih kecil di kursi itu. Tapi dia tetap tidak mundur, meskipun hawa Markus begitu mendominasi. “Aku ingin membantumu,” katanya, nadanya pelan namun tegas. “Aku tahu apa yang kau butuhkan.” Joa tertawa kecil, namun penuh kepahitan. “Membantuku? Kau pikir setelah semua yang kau lakukan aku akan percaya padamu? Satu-satunya bantuan yang kuinginkan darimu adalah membiarkanku keluar dari sini.” Markus menghela napas, matanya menatap tajam ke arah Joa. “Aku tahu soal pria tua itu. Dan aku tahu kenapa kau rela menjual dirimu demi tiga ratus juta.” Wajah Joa berubah. Tawanya lenyap, tergantikan oleh kemarahan yang membara. Dia bangkit dari kursinya, menatap Markus dengan sorot penuh dendam. “Kau memata-mataiku!” Joa memekik tidak percaya. Lelaki itu seolah sedang menguliti hidupnya. Menyerang kelemahannya. “Kau tidak tahu apa-apa!” bentaknya. “Kau pikir kau berhak menilai hidupku? Kau pikir kau tahu apa yang harus kulakukan untuk bertahan hidup?” Markus tetap tenang, meskipun sedikit terkejut oleh ledakan emosinya. “Aku tidak menilaimu, Joanna,” katanya perlahan. “Aku hanya menawarkan sesuatu yang bisa mengubah hidupmu. Sesuatu yang mungkin bisa kau pertimbangkan … .” Joa memutar matanya, lalu tertawa lagi, kali ini lebih seperti ejekan. “Dan apa itu? Kau pikir kau bisa menyelesaikan semua masalahku dengan uangmu?” Markus menatapnya dengan serius. “Tiga ratus juta. Ah, tidak lima ratus juta… Terlalu sedikit! Satu miliar, apakah itu cukup untuk membayarmu?” Kata-kata itu langsung membuat Joa terdiam. Dia menatap Markus, mencoba mencari tanda bahwa dia bercanda, tapi ekspresi pria itu tetap dingin dan serius. Joa menelan salivanya—kuat. Nyaris tak memercayai pendengarannya. “Apa maksudmu?” tanyanya, nyaris berbisik. “Aku akan memberimu tiga ratus juta,” Markus menjawab. “Kau tidak perlu menjual dirimu kepada pria tua itu. Tidak ada yang perlu tahu. Uangnya milikmu, dan kau bebas menggunakannya untuk apa pun yang kau inginkan.” Joa menatap Markus seolah dia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. “Apa kau pikir aku akan mengambil uangmu? Setelah semua yang kau lakukan padaku? Apa kau pikir aku ini… lemah?” Joa merasa tersinggung setelah mendengar tawaran uang yang sangat fantastis baginya. Markus mendekat lagi, matanya bertemu langsung dengan mata Joa. “Aku pikir kau orang yang cukup keras kepala, Joanna. Tapi sepertinya, posisimu saat ini sangat terdesak. Bukan begitu?” Lelaki itu amat mendominasi. Bahkan uang yang ditawarkannya, membuat Joa melemah seketika. Ia butuh uang tiga ratus juta, tapi jika lelaki itu bisa memberinya tiga kali lipat lebih banyak, mengapa Joa harus menolaknya? Lagipula kesempatan tidak datang dua kali, bukan begitu? Joa menimbang-nimbang pikirannya. Markus menatapnya sekilas, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan gadis angkuh itu. Joa terdiam. Tawaran itu terlalu menggiurkan untuk diabaikan, tapi harga diri dan kemarahannya membuatnya sulit menerima. “Aku tidak membutuhkan belas kasihanmu,” katanya akhirnya, meskipun suaranya terdengar goyah. Markus tersenyum tipis, senyum yang penuh arti. “Baiklah jika kau menolak. Aku bukan tipe pria baik hati yang akan memberimu tawaran dua kali.” Hening mengisi ruangan. Joa merasa dilema, tapi juga tergoda. Tiga ratus juta… itu adalah angka yang dia kejar selama ini. Tapi menerima uang dari Markus berarti menerima kekalahannya, dan dia bukan tipe orang yang menyerah begitu saja. “Kau b******k,” gumamnya akhirnya, sambil memalingkan wajah. Markus tertawa kecil, kali ini terdengar tulus. “Mungkin. Tapi pria b******k sepertinya yang bisa membantumu.” Joa menatap Markus lagi, dan untuk pertama kalinya, dia merasa tidak tahu harus berbuat apa. Tawaran itu seperti pedang bermata dua, dan dia harus memilih jalan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Detik berdetak sangat lambat, menunggu Joa mengambil keputusan. “Baiklah, aku akan menerima tawaranmu. Lalu apa yang harus aku lakukan?” “Jadilah wanita simpananku,” bisik Markus tepat di telinganya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD