Part 8 - Rahasia Joanna

1153 Words
Markus duduk di kursinya yang besar, ruangan kantornya terlihat sunyi seperti pemakaman bangsawan aristokrat di era revolusi. Di hadapannya, sebuah berkas laporan tergeletak, terbuka di halaman yang menampilkan informasi tentang Joanna. Matanya menyusuri setiap kata, tapi semakin jauh dia membaca, semakin berat dadanya terasa. “Wanita penghibur…” gumamnya, nyaris tak terdengar. Dua kata itu menusuknya lebih dalam daripada yang dia kira. Markus meletakkan berkas itu di meja dengan kasar, lalu berdiri. Dia melangkah ke jendela besar yang menghadap pemandangan kota di bawah sana. Lampu-lampu gedung memendar indah, tapi semuanya terasa hampa baginya. Dia mengusap wajahnya dengan tangan, sesuatu yang jarang dia lakukan. Rasa bersalah yang membara di dalam dirinya mulai menggulung seperti badai. Dia mengingat wajah Joa, ekspresi ketakutan dan tekad yang terpahat di sana saat mereka melemparkannya ke kolam. Namun kini, laporan ini menambah lapisan baru pada teka-teki wanita itu. “Tiga ratus juta…” Markus berbisik, suaranya sarat dengan ketidakpercayaan. Dia membaca ulang paragraf yang membuatnya tercekat: bagaimana Joanna berkencan dengan seorang pria tua kaya demi uang tiga ratus juta. “Seputus asa itukah kau, Joanna?” Markus bertanya pada udara, suaranya rendah dan penuh kehampaan. Bayangan wanita itu kembali menghantuinya—tatapan penuh kebencian, tubuh yang gemetar tapi tetap berdiri tegar di hadapannya. Perempuan itu berbeda. Dia bukan sekadar wanita yang tunduk pada nasib, tapi juga bukan seseorang yang bisa dia kategorikan sebagai wanita penghibur biasa. Anehnya ia merasakan kekecewaan menghantamnya seperti gelombang besar. Ia tak rela melihat gadis itu menghibur para lelaki hidung belang demi memuaskan hasrat mereka. “Kenapa kau memilih jalan ini?” Markus menggumam, matanya menatap jauh ke cakrawala. Dia mencoba memahami, mencoba mencari alasan. Apakah dia yang salah menilainya? Apakah kehidupannya begitu sulit hingga dia tidak punya pilihan lain? Untuk sesaat, bayangan hidupnya sendiri melintas di pikirannya. Kehilangan adik kandung, dikhianati oleh orang-orang terdekatnya, dan dunia kelam yang dia masuki demi bertahan hidup. Dunia yang membekukan hatinya dan membuatnya lupa bagaimana rasanya memiliki empati. Tapi Joanna… wanita itu membuatnya merasakan sesuatu yang sudah lama dia kubur dalam. Ia pikir rasa itu telah lama mati, tapi ternyata malah tumbuh tanpa seizinnya. Markus mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Seharusnya ia tidak merasakan empati terhadap wanita itu, tapi anehnya ia merasa peduli. Dia berbalik, langkahnya berat, tapi penuh tekad. Dia harus berbicara dengan Joanna. Bukan untuk meminta maaf lagi, melainkan untuk memahami. Apa yang membuat seorang wanita seperti dia rela menghancurkan dirinya sendiri demi uang? Ketika dia mencapai pintu, dia berhenti sejenak, tangannya masih di pegangan pintu. Hatinya dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Markus merasa kecil di hadapan pilihan seorang wanita yang tidak dia pahami. Ada satu hal yang dia tahu pasti: dia tidak bisa membiarkan Joanna terpuruk lebih jauh. “Aku akan memperbaiki ini,” katanya pelan, seperti janji pada dirinya sendiri. Markus melangkah keluar, meninggalkan ruangan yang kini terasa lebih gelap dari sebelumnya. *** “Nona makanlah,” bujuk salah seorang pelayan tua dengan suaranya yang lemah. Perempuan itu mendesah karena semua makanan yang dibawanya ke kamar Joa, sama sekali tidak tersentuh. “Aku tidak lapar,” sahut Joa enggan. Pelayan tua itu memandang Joa dengan tatapan penuh iba. Ia meletakkan nampan berisi makanan di atas meja kecil di dekat ranjang Joa, lalu berkata dengan nada lembut namun tegas, “Nona, kalau Anda tidak makan, tubuh Anda akan lemah. Tuan Markus tidak akan senang jika tahu Anda melewatkan makanan lagi.” Mendengar nama Markus, Joa langsung menegang. Ia tahu betul bahwa lelaki itu tidak suka jika perintahnya diabaikan, apalagi soal hal-hal yang dianggapnya sederhana. Tapi rasa tertekan membuat Joa sulit menelan apa pun sejak ia dikurung di tempat ini. “Aku tidak bisa memaksakan diri,” jawab Joa singkat, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Pelayan tua itu menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Joa. Ia menatap gadis itu dengan pandangan penuh pengertian, namun ada sedikit ketegasan dalam sorot matanya. “Kalau begitu, biar saya beri tahu Anda sesuatu, Nona. Tuan Markus memerintahkan saya untuk memastikan Anda makan. Kalau makanan ini tidak habis, saya yang akan menanggung akibatnya.” Joa membelalakkan mata, tubuhnya menegang. “Maksudmu, dia akan menghukummu?” Pelayan itu mengangguk pelan. “Tuan Markus tidak suka melihat kerja yang dianggapnya gagal, Nona. Jadi, jika Anda benar-benar tidak ingin makan, saya tidak bisa memaksa. Tapi saya harap Anda mempertimbangkan posisi saya.” Joa menatap perempuan itu dengan rasa bersalah yang membuncah. Ia tahu ini bukan salah pelayan tua itu, melainkan Markus, yang dengan mudahnya menggunakan kekerasan untuk mendapatkan apa yang ia mau. Setelah beberapa saat, Joa menghela napas panjang dan bangkit dari tempat duduknya. “Baiklah,” gumam Joa dengan suara rendah. “Bawa ke sini makanannya.” Pelayan itu tersenyum kecil, lalu meletakkan nampan di atas meja. Joa menatap makanan di depannya dengan perasaan campur aduk, lalu mulai memotong potongan kecil dari daging yang ada di sana. Setiap suapan terasa seperti beban, tapi ia memaksakan diri untuk mengunyah dan menelannya. Pelayan itu berdiri di dekat pintu, matanya penuh syukur namun tetap waspada. Setelah beberapa saat, Joa berhasil menghabiskan sebagian besar makanannya. “Saya tahu ini sulit, Nona,” ujar pelayan itu dengan suara lembut. “Tapi Anda sudah melakukan hal yang benar.” Joa hanya mengangguk lemah, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dalam hati, ia berjanji bahwa ini terakhir kalinya ia akan membiarkan Markus mengontrol hidupnya, bahkan jika itu hanya melalui sepotong makanan. Tak berselang lama, Markus datang mengunjunginya. Senyum puas terbit di wajahnya yang terdapat bekas luka di pipi kirinya, meski begitu bekas luka itu sama sekali tidak mengurangi tampilan dirinya, justru makin menambah pesona wajahnya. Markus melangkah masuk ke kamar dengan langkah mantap, sepatu kulitnya berderap lembut di lantai marmer. Senyumnya yang tipis dan penuh arti membuat suasana ruangan menjadi semakin berat. Joa langsung merasa terperangkap lagi, meskipun ia hanya duduk diam di kursinya. “Makanannya habis,” Markus membuka percakapan, matanya melirik piring-piring kosong di atas meja. “Bagus. Aku tidak perlu memaksamu seperti biasanya.” Joa mendongak menatapnya, mencoba membaca maksud di balik kata-katanya. “Apa kau ke sini hanya untuk memastikan aku makan?” tanyanya dingin, berusaha menutupi kegelisahannya. Markus tertawa pelan, suara tawanya dalam dan sedikit serak. “Tentu tidak, Joa. Aku punya banyak hal lebih penting untuk dilakukan. Aku bahkan tak peduli jika kau mati kelaparan sekali pun.” Joa mengernyit, “Kalau begitu mengapa kau menghukum bibi pelayan itu jika aku tidak menyantap habis makananku?” Markus tersentak, kaget mendengar pengakuan Joa. Lelaki itu akhirnya tersenyum samar, “Jadk begitu caranya Bibi Penelope berhasil merayumu untuk makan.” “Apa maksudnya?” Joa merasa dirinya telah diperdaya. “Sialan, kau!” Joa hendak menyerang Markus membabi buta. Kesal karena dia merasa telah ditipu sehingga ia terpaksa menghabiskan makanannya. “Tenanglah Joa. Kau tidak bisa menyalahkanku karena kau percaya kalau aku benar-benar akan menghukum Bibi Pen jika kau tidak menghabiskan makananmu.” “Pergilah kau ke neraka!” umpat Joa yang anehnya justru membuat Markus terbahak-bahak untuk pertama kali dalam hidupnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD