Joa duduk di lantai kamar yang mewah, punggungnya bersandar pada dinding yang dingin. Meski tubuhnya masih terasa sakit akibat penyiksaan semalam, pikirannya jauh lebih kacau.
Ruangan ini, dengan segala kemewahannya, bukanlah tempat yang nyaman. Baginya, ini adalah sangkar emas—indah, namun tetap saja penjara.
Piring-piring yang penuh makanan lezat tergeletak berantakan di lantai. Para pelayan yang tadi membawanya mundur ketakutan setelah Joa melemparkan nampan mereka tanpa ampun.
Pintu kamar terbuka perlahan, suara langkah sepatu yang berat bergema di atas lantai marmer. Joa mengangkat kepalanya, dan matanya bertemu dengan sosok Markus yang berdiri di ambang pintu.
“Keluar,” suara Joa terdengar serak, penuh kebencian.
Markus mengabaikan ucapannya dan melangkah masuk dengan tegas. Dia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, menunjukkan bekas luka kecil di lengannya yang sepertinya baru saja didapatkan—mungkin saat dia menyelamatkan Joa dari kolam semalam.
“Kau butuh makan,” katanya dingin, tanpa basa-basi. Namun, nada suaranya tidak lagi sekeras biasanya.
“Aku tidak butuh apa pun darimu,” balas Joa tegas, tatapannya penuh api. Dia berdiri meski tubuhnya masih gemetar, menunjukkan bahwa dia tidak akan tunduk pada Markus, meskipun posisinya jelas tidak menguntungkan. “Bukankah sudah kukatakan kalau aku tidak mengenal adikmu! Aku bahkan tidak mengenalmu!!!” lanjut Joa penuh emosi.
Markus menatapnya, wajahnya tetap tanpa ekspresi, tapi matanya memperlihatkan sesuatu yang samar—penyesalan, mungkin? Dia melangkah lebih dekat, mengabaikan piring-piring yang berserakan di lantai.
“Aku datang untuk meminta maaf,” katanya akhirnya, dengan nada yang lebih pelan dari sebelumnya.
Joa tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Tawanya penuh sarkasme dan kepahitan. “Meminta maaf? Setelah menyiksaku dan hampir membunuhku? Kau pikir kata-kata maaf bisa menghapus semua itu?”
Markus terdiam, menerima setiap kata tajam yang dilemparkan Joa. Dia tahu dia pantas mendapatkannya. Tapi, dia tidak pernah menjadi pria yang tahu cara meminta maaf.
“Semalam adalah kesalahpahaman. Aku salah, aku mengakuinya,” katanya pelan, tapi ada nada tulus di balik kata-katanya. “Orang-orangku memberiku informasi yang keliru. Kau bukan targetku. Itu bukan sesuatu yang bisa kucabut begitu saja, tapi aku akan bertanggung jawab.”
Joa menggelengkan kepalanya, tangannya mengepal di sisinya. “Tanggung jawab? Bagaimana? Dengan uang? Atau dengan lebih banyak ancaman?”
Markus mendekat, langkahnya pelan, tapi penuh otoritas. Kini, dia berdiri di hadapan Joa, menatap langsung ke matanya.
“Dengan memastikan kau tidak akan pernah mengalami hal seperti ini lagi. Aku akan melindungimu,” ucapnya, suara Markus rendah tapi tegas.
Joa mendengus, tatapannya tajam seperti pisau. “Aku tidak butuh perlindungan darimu. Aku hanya ingin kebebasanku. Aku ingin keluar dari sini, dari kehidupanmu, dari neraka yang kau ciptakan untukku.”
Markus mengatupkan rahangnya, seolah sedang menahan sesuatu. “Itu tidak akan terjadi,” katanya akhirnya, suaranya kembali dingin. “Setelah apa yang terjadi, aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja.”
“Kenapa? Karena kau takut aku akan membalaskan dendamku? Karena aku tahu siapa dirimu sebenarnya? Kau takut aku akan melapor polisi atas semua tindakan kriminal yang kau lakukan terhadapku?” tantang Joa, menatapnya tanpa rasa takut.
Markus menggeleng pelan. “Bukan itu,” katanya, nyaris seperti bisikan. “Aku tidak tahu kenapa… tapi aku tidak ingin kau pergi.”
Kata-katanya membuat Joa terdiam, tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Dia menatap Markus dengan kebencian yang sama, tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar mendengar pengakuan pria itu.
“Apa kau pikir aku akan memaafkanmu hanya karena itu?” tanya Joa akhirnya, dengan suara yang sedikit melemah.
Markus menghela napas, lalu melangkah mundur. “Aku tidak mengharapkan maaf darimu, Joanna. Aku hanya ingin kau tahu… bahwa aku menyesal.”
Dengan kata-kata itu, Markus berbalik dan keluar dari ruangan, meninggalkan Joa yang masih berdiri di tempat, bingung oleh emosi yang saling bertabrakan di dalam dirinya.
Saat pintu menutup, Joa mengepalkan tangan dan bersumpah dalam hati: “Aku akan keluar dari sini. Aku tidak peduli apa yang harus kulakukan. Aku tidak akan membiarkan pria itu mengendalikan hidupku.”
Tapi sebelum itu, Joa baru menyadari, sejak kapan lelaki itu mengenalnya? Dia bahkan belum menyebutkan namanya? Joa bertanya-tanya.
***