Byur! Guyuran air dingin membangunkan Joa dari kegelapan yang menyiksa. Seluruh tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dinginnya air, tetapi juga karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Luka di sudut bibirnya berdenyut, sementara tubuhnya penuh lebam hasil dari tamparan dan pukulan yang ia terima sepanjang malam.
Di sudut ruangan gelap itu, suara berat pria yang selama ini memimpin penyiksaannya terdengar seperti palu yang menghantam nyawanya.
“Tuan, dia menolak membuka mulutnya,” ujar salah seorang pengawal dengan suara penuh ketakutan.
Markus Alexander, yang duduk santai di kursi yang tampak seperti singgasananya. Tatapannya begitu angkuhnya, menikmati setiap momen penyiksaan yang dilakukan para bawahannya terhadap gadis mungil itu.
Joa balas menatap matanya yang tajam seperti bilah pisau yang bisa menusuk siapa saja.
“Kalau begitu, lemparkan dia dari balkon,” katanya dingin, tanpa sedikit pun nada keraguan.
Joa membelalakkan matanya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Dia menelan ludah, meskipun tenggorokannya terasa kering.
Tubuhnya gemetar hebat. Dia nyaris tak percaya, setelah bertahan melawan siksaan yang tak manusiawi, hidupnya akan berakhir di tangan pria ini. Seorang asing yang bahkan tidak dia kenal sebelumnya.
“Tuan, apa Anda yakin?” Suara sang pengawal terdengar ragu, mencoba memastikan perintah itu.
Markus hanya menaikkan satu alis, menatap dengan pandangan menusuk yang tak memberikan ruang untuk perlawanan. Ketegasan dingin itu membuat udara dalam ruangan terasa semakin menyesakkan.
Pengawal itu menunduk patuh, lalu mendekati Joa. Dengan tenaga yang tersisa, Joa meronta, tapi sia-sia. Tubuhnya yang lemah menyeret langkahnya menuju balkon, menyerah pada nasib yang seolah sudah digariskan.
Dia berdiri di tepi balkon, angin malam menusuk kulitnya yang basah kuyup. Di bawah sana, kolam renang besar tampak berkilauan di bawah cahaya bulan, tapi terlihat seperti jurang maut bagi Joa.
“Tidak… tolong… jangan…” suaranya serak dan nyaris tak terdengar, tapi tidak ada yang peduli. Tidak ada seorang pun yang memiliki hati nurani untuk menyelamatkan dirinya.
Markus beranjak dari kursinya, menonton dengan ekspresi dingin tanpa belas kasihan. Wajahnya terlihat bosan, meski begitu tatapannya masih dingin seakan sudah terpatri dalam bola matanya yang sebening kristal.
“Lakukan,” perintahnya pendek.
Tanpa ragu, pengawal itu mendorong Joa ke tepi. Tubuhnya melayang di udara, jatuh dengan keras ke dalam air.
Byur! Suara tubuhnya menghantam air menggema di sekitar balkon.
Markus berjalan perlahan ke tepi balkon, menyilangkan tangan di dadanya. Tatapannya dingin, menikmati pemandangan Joa yang panik, melawan air yang seolah menariknya ke dasar kolam.
Namun, ada sesuatu yang berubah di raut wajah Markus ketika dia menyadari bahwa Joa tidak berenang, melainkan berjuang keras agar tidak tenggelam. Tangannya meraih air tanpa arah, tubuhnya tenggelam perlahan ke dalam gelapnya kolam.
“Tuan Markus!” suara seseorang tiba-tiba memecah ketegangan. Seorang pria tergesa-gesa masuk ke ruangan, wajahnya penuh kepanikan.
“Sepertinya kita menyiksa orang yang salah! Dia bukan target kita!” katanya, napasnya memburu.
Markus menoleh dengan gerakan cepat, ekspresi dingin di wajahnya berubah menjadi sesuatu yang sulit dibaca—kemarahan? Keterkejutan? Dia menatap pria itu, lalu kembali melirik ke arah kolam, di mana tubuh Joa perlahan tenggelam ke dasar.
Sesaat, Markus terdiam sesaat.
“s**t!” Tanpa pikir panjang, dia segera melepas jasnya dan melompati balkon. Air dingin menerpa tubuhnya saat dia menyelam ke dalam kolam. Di bawah permukaan, matanya mencari-cari tubuh Joa yang terombang-ambing di kegelapan.
Markus berenang dengan cepat, tangannya akhirnya berhasil meraih lengan Joa. Dengan tenaga penuh, dia menarik tubuhnya ke atas, menuju permukaan air.
Ketika mereka berhasil keluar dari kolam, Joa sudah kehilangan kesadaran. Markus, dengan nafas terengah-engah, membaringkannya di tepi kolam. Air menetes dari wajahnya yang tegang.
“Bernapaslah,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. Dengan tergesa, Markus mulai melakukan CPR, tekanan dadanya konstan, berusaha memaksa nyawa kembali ke dalam tubuh Joa.
Detik-detik itu terasa seperti selamanya. Hingga akhirnya, Joa terbatuk, mengeluarkan air dari mulutnya, dan menarik napas panjang pertama.
Markus terduduk, dadanya naik turun karena kelegaan yang sulit dia pahami. Untuk pertama kalinya, ada emosi yang menyeruak di wajah dinginnya.
Dia menatap Joa, yang masih terengah-engah, tapi matanya yang penuh ketakutan kini bertemu dengan tatapan Markus yang tak pernah ia pahami.
Dan untuk pertama kalinya, setelah mengalami malam penyiksaan yang panjang, Joa melihat sisi lain Markus yang bukan hanya sebagai monster.
“Sial! Kenapa aku harus menyelamatkan dia?” Markus memaki dirinya sendiri.
***