Part 5 - Salah
Hotel San Francisco, lantai 7, kamar nomor 701.
Joa berdiri di depan cermin besar, matanya memandang refleksinya yang seolah bukan dirinya. Wajahnya pucat, namun gaun merah tipis yang membalut tubuhnya membuatnya terlihat memikat—terlalu memikat.
Ia tak pernah mengira dirinya akan terlihat secantik ini di balik polesan make-up yang menutupi wajahnya, seperti topeng kebohongan yang menampilkan seseorang yang asing baginya.
Jemarinya gemetar saat menyisir rambut hitam legamnya, mencoba meredam detak jantung yang terus berpacu, mengalahkan ritme napasnya yang semakin cepat. Mungkin ini takdirnya, pikirnya. Tapi rasa takut itu terus menjalari kulitnya, merayap hingga ke tulang.
“Ingat, kali pertama itu akan menyakitkan. Jadi, persiapkan dirimu sebaik mungkin,” suara Renata terngiang kembali, tajam dan dingin, seperti lonceng yang memperingatkan setiap langkah yang harus ia ambil. Joa menelan ludah, merasakan kepedihan yang menyelip di balik setiap kata-kata itu. Tak ada yang bisa mengubahnya sekarang.
Di luar sana, dunia seolah berjalan dengan tenang, namun di dalam kamar ini, ketegangan mencengkram udara. Semua sudah dipersiapkan dengan baik. Renata telah menemukan seseorang yang menurutnya cocok untuk Joa.
Pria itu—seorang pengusaha kaya, yang sepertinya berusia paruh baya—adalah pelanggan pertama yang akan membayar harga yang dia butuhkan. Renata sudah mengatakan bahwa pria ini bukan tipe kasar. Namun, kata-kata itu terdengar semakin kosong saat Joa berdiri di sini, sendirian, menanti detik-detik yang akan menentukan arah hidupnya selanjutnya.
Setelah turun dari mobil, Renata telah memberitahunya, “Dia butuh seseorang untuk menghiburnya. Mungkin kau hanya perlu perhatianmu, tanpa harus menyerahkan segalanya.” Namun, di balik kata-kata itu, Joa tahu benar apa yang harus ia lakukan. Tidak ada pilihan lain.
Joa menatap dirinya di cermin—wanita dengan gaun merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna, memancarkan kesan menggoda sekaligus rapuh. Ia terlihat seperti boneka yang dipersiapkan untuk dimainkan. Jemarinya menggigil saat menyemprotkan parfum mawar mahal dari botol kecil yang ia pinjam dari Renata. Aroma bunga itu memenuhi ruangan, menciptakan aura misteri yang tak terungkapkan.
“Apa kau siap, Joa?” suara Renata terdengar melalui ponsel, kering dan tegas, namun ada ketegangan yang terselip di balik kata-katanya.
Joa menelan rasa takut yang menyelam ke kerongkongannya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Aku… aku rasa siap.”
Renata tidak menjawab segera, namun suara itu kembali terdengar setelah jeda yang panjang. “Ingat, ini hanya satu malam. Setelah ini, hidupmu akan berubah. Kau bisa melakukannya. Jangan ragu.”
Joa menutup telepon dengan tangan yang masih gemetar. Matanya terarah pada pemandangan kota San Francisco di luar jendela, lampu-lampu kota yang gemerlap tampak jauh dan asing, seakan mengejek keputusannya. Begitu banyak yang harus ia tanggung. Begitu banyak yang akan hilang. Tapi tak ada jalan mundur. Tidak ada pilihan selain ini.
Jam dinding berdetak dengan pelan, namun dengan setiap detakan, rasa cemas itu semakin menebal. 10:30 malam. Waktunya semakin dekat.
Ketukan keras dan tidak sabaran terdengar di pintu, menggetarkan seluruh tubuhnya. Joa menatap pintu itu dengan matanya yang semakin melebar. Setiap inci tubuhnya menegang, seolah menyadari bahwa detik ini akan mengubah segalanya. “Waktunya tiba,” gumamnya, suara serak dengan ketegangan yang tak bisa disembunyikan.
Dengan napas yang serasa tertahan, Joa melangkah ke pintu. Kakinya terasa berat, setiap langkah seperti menambah beban yang harus ia pikul. Ketika ia membuka pintu, seorang pria berdiri di sana. Wajahnya tenang, namun ada kilatan dingin di matanya yang membuat udara di dalam kamar terasa semakin dingin. Pria itu menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, pandangannya tajam, menilai. Tersenyum tipis, senyum yang tidak menenangkan sedikit pun, malah semakin menambah ketegangan.
Paru-parunya berhenti berfungsi sejenak, Joa berusaha menahan napas-menenangkan diri. Tubuhnya seolah kaku, seperti porselen hiasan, dia tercekat melihat penampilan luar biasa lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya.
Ia tidak bisa melihatnya, namun ia merasakan setiap detik yang berlalu seolah berlalu sangat lambat. Ketegangan itu begitu tebal di udara, memeluknya dengan erat. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatapnya, menunggu reaksi darinya. Matanya yang dingin dan penuh perhitungan, seolah mencari tahu apakah Joa siap.
Joa ingin lari. Tapi ia tahu, ia sudah terjebak. Tidak ada jalan keluar. Semua yang ia miliki, semua yang ia harapkan, kini terletak pada pria yang berdiri di depannya—dan pada kesepakatan yang sudah ia buat.
“Masuklah,” bisik Joa, suaranya hampir hilang saat dia melihat sesosok pria luar biasa yang jauh dari bayangannya. "Tuan ... " ah, sialan, di saat penting seperti ini, Joa justru melupakan nama lelaki itu.
"Tahan dia!" Dua pria bertubuh besar menahan tubuhnya, mengunci pergerakannya. Joa terjebak. "Apa-apaan ini?" Joa memekik saat dirinya diperlakukan dengan sangat kasar oleh lelaki bermata dingin dan dua pria pengawalnya.
"Katakan padaku di mana adikku?"
"Apa?" Joa terperangah. Sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud lelaki itu.
Markus Alexander memandang Joa dengan tatapan tajam yang mampu membuat siapa pun bergidik. Nafasnya berat, amarah membara di matanya. Lelaki ini jelas bukan orang yang bisa diajak bercanda, apalagi ditentang.
“Kamu tidak tuli, kan?” Markus mendekatkan wajahnya ke arah Joa, suaranya seperti gemuruh badai yang memecah keheningan. “Di mana adikku?”
Joa menggeleng cepat, tubuhnya bergetar. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Aku bahkan tidak mengenal adikmu!”
Markus menyipitkan matanya, seperti mencoba menilai apakah Joa berbohong atau tidak. “Berhenti berpura-pura bodoh.” Dia memberi isyarat pada salah satu pengawalnya, yang segera menarik Joa lebih keras hingga ia hampir kehilangan keseimbangan.
“Aku tidak bohong!” Joa berteriak. “Aku bahkan tidak tahu siapa kau! Aku bukan orang yang kau cari!”
Markus mendekat lagi, kali ini memegang dagu Joa dengan kasar, memaksanya menatap matanya. “Aku tahu kalian—orang-orang seperti kau—pandai menyembunyikan sesuatu. Jadi, jika kau tidak mau bicara, aku akan menemukan cara untuk membuatmu bicara.”
Joa merasa ketakutan yang luar biasa. Tapi di tengah kekacauan ini, pikirannya melayang ke fakta sederhana: siapa sebenarnya lelaki ini? Dan mengapa ia sampai salah mengira Joa sebagai seseorang yang tahu tentang adiknya?
Markus melangkah mundur, masih menatap Joa dengan tatapan tajam. “Bawa dia,” katanya singkat.
“Apa?!” Joa panik, tubuhnya kembali diangkat dengan kasar oleh dua pria besar itu. “Tunggu! Aku bilang aku tidak tahu apa-apa! Kau salah orang!”
Markus tidak peduli. Dia berjalan keluar dari kamar itu dengan langkah penuh determinasi, pengawal-pengawalnya menyeret Joa di belakangnya. Mereka memasuki lorong gelap yang panjang. Setiap langkah terasa seperti penghitung waktu bom yang mendekati ledakan.
Sesampainya di mobil hitam yang menunggu di luar, Markus membuka pintu belakang dan menatap Joa. “Kau akan ikut denganku. Jika kau tidak tahu apa-apa, kau akan membuktikannya. Tapi jika aku menemukan kebohongan, aku bersumpah kau akan menyesali setiap detik hidupmu.”
Joa hanya bisa mengangguk, tak berdaya. Ia dilemparkan ke dalam mobil seperti barang tak berharga. Pintu ditutup keras, dan suara mesin menderu.
Di dalam mobil, Markus mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan foto seseorang, seketika wajah Joa memucat, tapi dengan cepat dia berusaha menutupi ekspresinya. “Apa kau mengenalnya?” tanya Markus dingin.
Joa menggeleng, dipalingkannya wajahnya.
“Apa kau yakin tidak mengenalnya?” tanya lelaki itu penuh penekanan.
Joa bersikeras mengakui kalau dia mengenal lelaki yang ada di foto tersebut, walau sebenarnya ia penasaran mengapa Markus mencari Ryuta. “Aku bersumpah, aku tidak mengenalnya…”
Markus hanya mendengus, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Kita lihat saja nanti.”
Mobil melaju kencang menuju tempat yang tidak diketahui Joa. Di dalam hatinya, ia tahu, ini bukan hanya kesalahpahaman biasa. Lelaki ini seperti malaikat maut yang siap mengambil nyawanya kapan saja.
***