Setelah membersihkan diri, Aaron muncul dengan tampilan yang sangat tampan. Celana kain hitam yang rapi, kemeja biru laut dan jas hitam dengan dasi hitam. Sepatunya terlihat mewah dan mengkilap dengan rambutnya yang masih sedikit basah ia sisir ke belakang, menampakkan dahinya yang seksi.
Aaron duduk di sofa kamarnya dan membuka laptopnya, mata hijaunya bergerak dengan lincah membaca informasi yang berada di laptopnya. Sebelum ia menyelesaikan bacaannya, kedua tangan Aaron mengepal dengan erat hingga nampak berurat. Mata hijaunya juga berkilat murka.
Dengan cepat Aaron mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, untuk meminta penjelasan mengenai hal ini.
"Omong kosong macam apa itu, Sam? Kau jangan bermain-main denganku!" Aaron mendesis dengan nada berbahaya. Urat-urat kecil mulai tercetak di wajah tampannya. Rahang kokohnya pun nampak mengeras.
Dari seberang sana hanya terdengar suara helaan napas, "Saya tidak berniat untuk mempermainkan Anda, Presdir. Anak buah saya benar-benar mendatangi rumah sakit itu. Awalnya dokter yang menangani nona Siena tetap bungkam, tapi setelah diancam, ia mau mengakuinya dan memberikan catatan medisnya,”
Aaron diam sejenak untuk mendengarkan penjelasan Sam. Napasnya sedikit memburu karena menahan gemuruh emosi yang tiba-tiba muncul di dadanya. Bagaimana bisa Siena mengandung anaknya dan menggugurkannya.
"Aku akan pulang ke London beberapa waktu kedepan,” ujar Aaron dengan suara dingin. "kalau kalian mempermainkan ku, kau pasti tahu apa yang akan terjadi padamu dan keluargamu kan, Sam,” lanjutnya dengan nada sangat dingin dan intonasi yang mengancam.
"saya sangat mengerti, Presdir. Saya tahu resiko apa yang akan saya terima jika berbohong mengenai kehamilan nona Siena.”
Tanpa menjawab lagi Aaron segera menutup panggilannya dan melemparkan ponselnya ke lantai sampai layarnya pecah. Ia menggeram emosi dan menjambak rambut cokelatnya yang sudah rapi dengan kasar.
"b******k!" Aaron mengumpat dan berteriak emosi.
Dadanya kembang kempis dengan napas yang memburu menahan emosi. Matanya merah tajam dan giginya terdengar bergemeletuk. Mendengus kasar kemudian menutup laptopnya dengan kasar.
"Tiga bulan yang lalu?" gumam Aaron dengan dengusan kasar. "Tiga bulan yang lalu dia keguguran? Dia mengandung anakku kemudian menggugurkannya,” lanjutnya dengan tatapan yang semakin menajam.
"Oh s**t! Siena menyembunyikan semuanya dariku. Kalau tiga bulan yang lalu dia keguguran, ada dua kemungkinan,” jeda sejenak. Aaron mencoba menarik napasnya dengan pelan dan mengeluarkannya dengan pelan pula untuk menetralkan emosinya.
"Kemungkinan pertama dia sedang mengandung saat aku menyentuhnya. Berarti Siena tidur dengan pria lain sebelum aku. Kemungkinan kedua––" jeda kembali. Aaron menelan ludahnya berat, suaranya seakan tersekat hanya untuk meneruskan kata-katanya. "Kemungkinan kedua, dia benar-benar mengandung anakku. Sialan! Dia mengandung anakku, karena pertama aku menyentuhnya, dia masih perawan.”
Aaron kembali mendengus kasar dan merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Pria tampan itu memejamkan matanya, mencoba menetralkan perasaan emosi yang membakar dirinya.
"Honey.” Terdengar suara lembut Kiara yang memanggilnya, bersamaan dengan suara derit pintu yang dibuka dari luar. Suara langkah pelan mendekati Aaron dan berhenti didepannya.
Kiara muncul dengan pakaian santai dan sandal santai. Blouse berwarna peach dan rok selutut. Rambut sebahunya yang pirang dibiarkan tergerai.
"Kau kenapa, honey?" tanya Kiara lagi masih dengan suara lembut. Karena tidak mendapat respon dari Aaron, wanita itu duduk disamping Aaron dan mengusapi bahunya. "Kita sarapan bersama, Siena sudah memasak untuk kita,” katanya.
"Sarapanlah berdua, aku akan sarapan di kantor,” jawab Aaron tanpa membuka matanya.
Kiara masih mengusap bahu Aaron dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dari wajahnya ia tahu bahwa Aaron terlihat sedang stress dan ekspresi wajahnya yang sedang memejamkan mata terlihat berat. Sebagai seorang istri Kiara merasa kasihan pada Aaron. Suaminya itu sering bepergian ke luar negeri untuk bisnis. Jika pulang kerja larut malam dengan wajah lelah. Menjadi seorang pemimpin perusahaan yang sangat besar benar-benar membuat suaminya terbebani sekaligus membuat hubungan mereka terasa hambar dan berjalan datar.
Jika pulang sedikit lebih cepat dari kantor, Aaron selalu terlihat lelah. Bila pulang larut malam pun ia merasa suaminya jauh lebih lelah. Waktu untuk mereka berdua saja bermesraan dan melalui percintaan yang romantis sangat jarang. Dan itulah yang selalu menggelayuti pikiran Kiara.
Meski ia sempat merasa bahwa Aaron memiliki wanita simpanan di luar sana, tapi setiap melihat wajah lelah Aaron, rasa curiganya menguap.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi tanpa sarapan, honey,” ujar Kiara lagi sambil mengusap dahi Aaron dengan tangan lembutnya.
Aaron membuka matanya dan menatap Kiara yang juga sedang menatapnya. "Aku harus buru-buru ke kantor,”
Aaron bangun dari duduknya, membenarkan kembali rambutnya yang berantakan dan jas nya yang sedikit kusut. Diikuti Kiara yang juga bangun dan membenarkan letak dasi Aaron.
Kiara mengangguk dan menghela napasnya, ia meraih tas kerja Aaron dan memasukan laptopnya. Membawanya keluar dari kamar yang mereka tempati, diikuti oleh Aaron di belakangnya.
Mereka turun dari lantai dua dan berjalan menuju ruang makan, meski Aaron akan langsung pergi tapi Kiara membawa tas kerjanya. Mau tidak mau pria tampan itu mengikuti sang istri.
Di ruang makan, ada Siena yang sedang duduk dengan pakaian santai. Kaos sedikit kebesaran, celana pendek dan rambut coklatnya yang digulung tinggi. Siena sedang meminum pilnya, tanpa menyadari kehadiran Aaron yang tak jauh darinya.
"Siena kau meminum obat pencegah kehamilan?" celetuk kiara sambil menatap Siena, dan matanya beralih pada botol pil yang dipegang Siena.
Siena terkejut sampai terbatuk-batuk dan menyemburkan kembali air putih di mulutnya. Gadis itu mengernyitkan alisnya merasakan panas di tenggorokannya karena tersedak.
"Bukan! Ini- ini vitamin, Kiara,” katanya sambil tersenyum dan mengangkat botol pilnya. Meski sedikit gugup tapi gadis itu mencoba bersikap biasa saja, agar Kiara tak mencurigainya.
Siena meletakkan kembali botol pilnya dan bangun untuk mengambil sesuatu di meja konter. Hampir saja Siena menjatuhkan lututnya melihat Aaron berdiri tak jauh darinya, melihatnya meminum pil.
"Hei, apa kau akan sarapan dulu? Aku akan membuat kopi dengan gula low calorie untukmu,” kata Siena sambil menyapa Aaron dengan sopan dan manis.
"Kau tahu suamiku suka kopi itu?" tanya Kiara pada Siena.
"Semua pria seperti itu kan? Kekasihku juga sangat menyukainya,” balas Siena sambil berjalan menuju meja konter.
Tanpa mereka sadari, Aaron menatap Siena dengan dingin sambil menahan geramannya. Mata tajamnya juga melirik botol pil Siena.
Kiara sudah mendudukkan diri, sedangkan Aaron masih berdiri dengan wajah datar. Mendengar Siena mengatakan tentang kekasihnya, Aaron tahu bahwa yang Siena maksud adalah dirinya.
"Kau memiliki kekasih?" tanya Kiara lagi.
"Hmm,” jawab Siena dengan gumaman.
Gadis itu berbalik membawa satu cangkir kopi low calorie untuk Aaron. Menaruhnya di dekat piring yang ia siapkan untuk Aaron kemudian duduk.
"Benarkah? Kau tidak mengenalkannya pada kami.”
"Nanti kau juga akan kenal,” balas Siena dengan nada sedikit menyindir Aaron.
"Aku pergi dulu,” ujar Aaron pelan seraya mencium kening Kiara dan berlalu begitu saja tanpa menoleh pada Siena terlebih dulu.
Siena merengut sebal saat diabaikan Aaron begitu saja. Bahkan Aaron tidak meliriknya, hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang sangat Siena benci. Sekaligus tatapan yang membuat Aaron berkali-kali lipat terlihat lebih tampan dan tak tersentuh.
Saat Kiara berbalik, Siena buru-buru merubah ekspresinya agar terlihat ceria dan biasa saja. Mereka melanjutkan sarapannya tanpa ada yang memulai pembicaraan.
Apalagi Siena merasa cukup sebal melihat Aaron yang bersikap lembut dan mencium kening Kiara di depannya.
"Tapi aku pernah melihat temanku mengkonsumsi obat seperti itu untuk mencegah kehamilannya,” kata Kiara dengan kukuh dan menunjuk botol pil yang ada di dekat Siena.
Siena menghentikan suapannya dan menghela napasnya. Ia menatap Kiara untuk menjelaskannya.
"Ini vitamin, Kiara. Apa kau berpikir aku akan berhubungan dengan sembarangan pria sampai mengkonsumsi obat pencegah kehamilan? Kau tahu aku kan.”
"Ini benar-benar obat pencegah kehamilan. Aku tidak mungkin salah lihat,” balas Kiara kukuh. "Siapa kekasihmu sebenarnya? Apa kalian sudah melakukan sejauh itu? Dia pria Amerika?"
Siena menghela napasnya dan menaruh sendoknya. "Humm. Kami baru memulainya. Kau sangat tahu aku, Kiara. Aku tidak akan melakukan hal itu sebelum menikah.”
Kiara tersenyum lebar dan mengangguk. "Ternyata meskipun penampilanmu berubah, tapi kau masih Siena kami yang dulu,”
Siena balas tersenyum singkat, namun kedua tangannya mengerat kembali sendoknya. Hatinya seperti diiris, mengingat kenyataan bahwa dia sendiri sudah melakukan banyak hal gila bersama Aaron, kakak iparnya sendiri. Ditambah dia selalu membohongi Kiara yang baik padanya.
"Hem.” Siena berdeham pelan untuk membersihkan tenggorokannya yang terasa tersekat. Napsu makannya sedikit menguap, namun ia kembali meneruskan sarapannya agar Kiara tak curiga.
"Oh iya, apa kekasihmu itu Andrew? Kau berhubungan kembali dengan Andrew?"
Siena menatap Kiara dengan sebelah alis terangkat kemudian menggeleng. "Tidak. Semenjak kami putus dan Andrew memutuskan kembali ke negaranya, kami sudah kehilangan kontak. Aku tidak mau kembali pada Andrew, jika mengingat dia mencampakkanku.”
Siena menyelesaikan sarapannya dan beranjak dari meja makan, membereskan meja makan serta membawa piring kotor bekas sarapan ke tempat cuci.
"Siena, kau harus tahu bahwa Andrew sudah berubah banyak sejak terakhir kali kalian bertemu. Dia sangat tampan dan terlihat begitu jantan. Aku tidak menyangka Andrew berubah banyak. Dia juga masih sama baiknya seperti dulu."
Siena menghentikan tangannya dari menggosok piring kotor, membasuhnya kemudian mengeringkannya. Gadis itu berjalan kembali menghampiri Kiara yang sudah menyelesaikan sarapanya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Siena mengerutkan dahinya.
"Saat di hotel Aaron, aku melihatnya juga berada di sana. Dia sangat tampan dengan gaya eksekutif mudanya. Seperti pengusaha-pengusaha Korea yang tampan, dia bahkan sama tampannya dengan Aaron. Dulu saat kalian masih kuliah, penampilannya terlihat urakan.”
"Aku sudah tidak perduli Andrew setampan apa, itu sudah berlalu,” balas Siena.
Gadis itu bersiap akan meninggalkan ruang makan dan Kiara, namun perkataan Kiara membuatnya menghentikan langkah.
"Tapi aku sudah terlanjur bilang kalau kau tinggal di New York.”
"Kiara! Kenapa kau melakukannya?" Siena memekik kesal sambil menatap Kiara dengan tajam.
"Andrew bertanya keadaanmu. Aku tahu Andrew masih sangat mengharapkanmu, Siena. Jika kau membenci Andrew karena meninggalkanmu, kau salah. Itu semua karena orang tuanya.”
"Kau tidak tahu apa-apa,” tukas Siena.
Siena terdiam mengingat wajah Andrew yang terakhir dia lihat. Andrew adalah mantan kekasih Siena yang telah meninggalkannya untuk kembali ke negara asalnya. Mereka menjalin kasih selama beberapa tahun, sampai mereka lulus, orang tua Andrew tak merestuinya, karena Siena hanya gadis dari keluarga sederhana. Sedangkan Andrew adalah pria dari keluarga pengusaha kaya di Korea Selatan.
Selama beberapa tahun Siena tak mau dekat dengan pria manapun, ia merasa semua pria sama saja, akan meninggalkannya pada akhirnya. Tertutup adalah sifat Siena, namun tak berlangsung lama karena seorang Aaron Ackerley datang padanya dan menghancurkan semuanya. Menjebaknya dan menggodanya dengan cara terkejam.
Siena merasa dirinya tidak mencintai Aaron sama sekali. Dia hanya tertarik pada ketampanan dan kepribadian Aaron yang dingin dan tak tersentuh. Sampai Aaron melakukan sesuatu yang tak akan Siena lupakan seumur hidupnya.
Orang bilang ketika seorang pria sudah merenggut kesucian seorang gadis dan menanamkan benihnya, maka gadis itu tidak akan melupakan dan melepaskan pria yang sudah melakukannya. Begitupun dengan Siena, yang tak akan pernah melepaskan Aaron, meski pria itu suami dari kakaknya sendiri.
"Siena kau melamun?" Kiara menyentakkan Siena dari lamunannya dan menepuk bahu gadis itu dari belakang.
Siena menggeleng dan tersenyum manis pada Kiara, meski Kiara tahu ada sedikit kesedihan di wajah Siena. Ia pikir Siena masih trauma dengan laki-laki, karena telah dicampakkan Andrew sebelumnya. Tanpa pernah Kiara ketahui bahwa sumber kesedihan Siena adalah hubungannya dengan Aaron yang terlarang.
"Sudah, jangan bahas Andrew lagi,” balas Siena dengan senyuman manisnya, untuk membuat Kiara tak merasa bersalah lagi.
Kiara tertegun sejenak melihat Siena yang tersenyum begitu manis. Bahkan Siena lebih cantik darinya, sampai para lelaki saja lebih mengejar Siena daripada Kiara.
"Kau sangat cantik kalau tersenyum begitu. Aku jadi ingin kita bersama-sama seperti dulu,” ujar Kiara sambil memeluk bahu Siena.
Siena tersenyum kembali mendengar perkataan Kiara, mereka memang seperti anak kembar meski hanya beda usia tiga tahun. Siena baru saja berusia 22 tahun sedangkan Kiara wanita berusia 25 tahun. Kiara menumpukan kepalanya di bahu Siena, tinggi mereka hampir sama hanya saja Kiara lebih tinggi.
"Setelah ini kita shopping, ya. Aku akan membayarkan semua belanjaanmu, karena Aaron pasti tidak akan marah.”
Siena melepaskan pelukan Kiara. "Kau jangan terlalu boros.”
"Tidak. Aku kan sudah menjadi nyonya muda Ackerley, jadi Aaron tidak masalah,” balas Kiara meyakinkan.
Ada denyutan nyeri di hati Siena mendengar kata nonya muda Ackerley. Ia tak akan pernah bisa menjadi nyonya Ackerley seperti Kiara.
"Ya sudah, aku ganti pakaian dulu.”
"Oke!"
Siena pun pergi dari ruang makan meninggalkan Kiara yang masih berdiri disana. Wanita itu melihat botol pil Siena tertinggal, mengambilnya dan membaca keterangan yang ada disana.
"Kenapa Siena mengkonsumsi pil pencegah kehamilan jika dia bilang hubungannya dengan kekasihnya sangat sehat? Aneh,” gumamnya saat membaca bahwa itu benar obat yang ia duga.
(*0*)(*0*)