Chapter 11

1879 Words
Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 siang ketika Siena sedang siap-siap untuk menemani Kiara berbelanja di kota New York. Siena mengenakan midi dress sleevless berwarna biru dengan lace di bagian pundaknya, dengan perpotongan tinggi sampai menutupi seluruh dadanya hingga leher. Ia juga mengenakan coat berwarna baby pink panjang. Dengan rambut panjangnya yang hanya diikat kuda. Wajahnya pun hanya dirias dengan make up tipis dengan lipstik berwarna peach. Siena duduk diatas ranjang sambil menggunakan high heels pump nya dengan open toe dari brand Christian Louboutin, berwarna pink manis. Setelah selesai, Siena mengambil sling bag nya yang cantik. Semenjak berhubungan dengan Aaron, apapun yang Siena pakai adalah hal yang indah, karena Aaron tak akan membiarkan Siena terlihat seperti gadis kampung. Siena mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Beberapa saat ia menunggu sampai orang itu mengangkatnya. "Hhmm.” Aaron hanya menggumam dengan nada dingin dari seberang sana. Siena mendecih sebal dengan Aaron yang tak mau bicara juga sangat dingin sejak pagi padanya. Mungkin Aaron masih marah padanya karena menyinggung tentang kekasihnya. Begitulah pikir Siena. "Aku ingin berbelanja,” ujar Siena langsung. "Lalu?" Lagi-lagi Aaron hanya menyahut singkat. Siena mencibir sambil memaki pria itu dalam hati. "Aku hanya ingin kau mengirimkan uang pada rekeningku. Aku kan simpananmu, kau masih mau aku menjadi wanita simpananmu kan?" ujar Siena dengan nada tenang, sambil menumpukan kaki kirinya diatas kaki kanan. Siena mengambil cermin dengan tangan kirinya, memeriksa make up nya agar tidak terlalu tebal sambil menunggu jawaban Aaron. Namun pria itu masih diam di sebrang line, membuatnya kesal. "Aaron!" Siena berteriak kesal. "Wanita simpanan, wanita simpanan. Kapan kau akan berhenti mengatakan itu? Apa yang ada di pikiranmu bahwa kau wanita simpananku terus?" terdengar suara Aaron mendesis dengan dingin dari sebrang telpon. "Kau bilang apa?" tanya Siena tersinggung. "Bukankah aku memang kekasih gelapmu? Wanita simpananmu? Lalu kau mau menganggapku apa? Memangnya kau berani mengatakan aku kekasih resmimu?" lanjutnya dengan wajah yang merah karena marah sambil melemparkan cermin ditangannya ke lantai hingga pecah. "Jadi untuk menganggapku sebagai wanita simpananmu saja kau muak? Lalu kau anggap aku apa? Pelacurmu? Baiklah, jika kau menganggap seperti itu. Berhenti tidur denganku dan kembalilah pada istrimu, peluk dia dengan hangat saat tidur. Aku bisa mencari pria lain yang mau mengganggapku kekasihnya, Aaron,” lanjut Siena dengan d**a bergemuruh. Antara menahan marah dan sakit hati dengan ucapan Aaron. Terdengar Aaron menghela napas kasar dari seberang telpon. "Jangan mengajakku bertengkar, Siena. Kau tahu, aku sedang pusing,” "Oke. Berhenti membicarakan omong kosong, dan jangan bahas lagi soal hubungan gelap kita apalagi kau mengancam untuk meninggalkanku. Kau tahu apa yang akan terjadi pada keluarga mu kalau kau meninggalkanku lagi. Apalagi jika ada pria yang mendekatimu atau mendapatkanmu, kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada pria itu. Dengan tanganku sendiri, aku akan menanamkan peluru di kepalanya.” Aaron menyahut dengan nada semakin dingin dan terdengar berbahaya. Berdesis seperti ular. Siena membulatkan mulutnya tak percaya dengan ucapan Aaron. Bagaimana bisa Aaron mengancamnya seperti itu. "Berhenti mengancamku, b******k,” Siena berteriak dengan wajah yang memanas. Napasnya sedikit menderu. "Apa yang kau mau?" "Give me the card,” jawab Siena singkat. "Tapi tidak. Aku akan berbelanja dengan Kiara, dia akan tahu kalau aku menggunakan kartu kredit atas nama suaminya. Transferkan uang pada rekeningku saja,” "Bukankah bulan lalu aku sudah memberikanmu kartu kredit,” terdengar dari seberang Aaron menyahut jengkel. "Aku kan tadi bilang, Kiara akan tahu aku menggunakan kartu atas namamu,” balas Siena tak kalah jengkel. "Kalau tidak mau ya sudah tinggal bilang tidak mau!" dengan berteriak kesal Siena menutup teleponnya dan membanting ponsel nya ke kasur. Siena melemaskan bahunya dan tatapannya setengah kosong, air mata lolos dari mata indahnya, menuruni pipinya yang halus. Kedua tangan Siena mengerat kasur dengan erat, dan ia mengusap wajahnya dengan kasar. Memikirkan tentang perkataan dingin Aaron yang bahkan tak mau menganggapnya sebagai kekasih gelap. Apalah arti dirinya di hati Aaron? Siena ingin ada sedikit ruang di hati Aaron untuk dirinya, meski hati dan tubuh itu kini menjadi milik Kiara sepenuhnya. Siena menggigit bibirnya yang gemetar, sambil mengusap air matanya. "Apa aku hanya sebagai pelacurmu saja? Apa tidak ada perasaan lain yang membuatmu berlaku lembut padaku selain di ranjang?" Siena berbisik amat pelan sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Rasanya sesuatu sedang berusaha merobek jantungnya. "Aku memang sudah membuatmu tergila-gila padaku, tapi hanya pada tubuhku dan aku belum sepenuhnya membuatmu benar-benar bertekuk lutut padaku. Aku memang tidak akan pernah bisa merebutmu dari Kiara, tapi setidaknya jangan perlakukan aku sebagai pelacur.” Setetes cairan bening terjatuh kembali dari sudut matanya. Dengan cepat Siena mengusap air matanya dan berjalan menuju meja rias. Gadis itu membenarkan make up nya agar terlihat seperti semula, supaya Kiara tak akan curiga padanya, jika ia menangis. Kiara akan cerewet dan memberikannya banyak pertanyaan yang membuat Siena kesal. Mungkin saja Kiara akan menghubungkan dengan kekasihnya. "Kau lihat saja, Aaron. Aku tidak akan pernah kalah lagi darimu, aku akan membuatmu benar-benar bertekuk lutut dibawah kakiku. Memohon agar aku tidak meninggalkanmu.” Siena berbicara pada pantulan dirinya di cermin. Siena kembali ke ranjangnya dan menyambar sling bag nya kemudian berlalu dari kamarnya, setelah penampilannya kembali rapi. (*0*)(*0*) "b******k!" Aaron berteriak keras dengan rahang mengeras dan tangan mengepal kuat. Matanya menajam penuh amarah. Prang! Vas bunga kaca yang berada diatas meja kini telah pecah dan berserakan dilantai, menjadi korban pelampiasan amarah Aaron. Dadanya bergemuruh dengan gigi yang bergemeletuk. Urat-urat kecil di lehernya masih menonjol menandakan emosinya belumlah surut. Mendengar Siena yang mengancam akan meninggalkannya dan mencari pria lain, membuat Aaron murka. Dia sendiri bingung akan memberikan status apa untuk gadis yang sangat ia inginkan itu. Dilain sisi ia juga tak ingin menceraikan Kiara. "Sialan, Siena mulai berani mengancamku. Kau tidak akan pernah menemukan pria lain selain aku. Semua pria yang mendekatimu, bahkan mendapatkanmu akan aku bunuh dengan tanganku sendiri.” Aaron mendesis marah seraya melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya dan seperti hendak membunuhnya. "Andrew Choi?" gumam Aaron. Tangannya yang masih mengepal erat melonggarkan kepalannya dan meraih berkas di mejanya yang membuat awal dari segala emosi nya. Ditambah lagi segala omong kosong yang baru saja Siena katakan padanya, hingga menyulut pertengkaran diantara mereka. Juga tentang kebohongan terbesar Siena padanya. Aaron menghempaskan kembali tubuhnya ke kursi di belakangnya dan menyenderkan tubuhnya. Di dalam genggamannya ada beberapa berkas yang ia dapatkan dari anak buahnya di Inggris. Data pertama tentang riwayat medis Siena, yang terakhir kali tentang dirinya yang melakukan abortus. Kemudian ada data diri Andrew Choi, pengusaha kaya dan tampan dari Korea. Yang sialannya memiliki kemungkinan besar mengalahkannya merebut Siena. "Andrew Choi, memiliki perusahaan di Inggris dan Amerika. Sial! Jika Siena masih disini, kemungkinan besar mereka akan bertemu tanpa sepengetahuanku. Aku harus membuat Siena kembali ke Inggris. Terlebih Choi group bekerjasama dengan Ackerley group. s**t! s**t! s**t!" Aaron meremas berkas di tangannya hingga ringsek kemudian melemparkannya sembarangan. Berkas-berkas yang menjadi penyebab utama segala amarah Aaron pagi ini. Napas nya kembali memburu membaca deretan kalimat-kalimat yang menjelaskan bahwa Siena pernah melakukan operasi abortus. Meski itu adalah berkas rahasia yang tak boleh disebar pada siapapun, namun Aaron memiliki segalanya. Dengan sedikit ancaman ia bisa mendapatkannya. Tapi fakta tentang Andrew Choi membuatnya semakin murka. Bagaimana bisa Siena memiliki mantan kekasih seperti Andrew Choi? Pria yang bahkan bisa saja mengalahkan Aaron. "Ternyata Siena cukup cerdas untuk mengencani pria-pria kaya,” desisnya. "Aku tidak akan membiarkan Siena mengandung, tidak boleh. Siena tak boleh mengandung lagi.” Mata hijau Aaron yang biasanya terlihat seksi, kini menajam dengan aura yang menggelap. "b******k!" Aaron kembali berteriak dan melemparkan benda yang ada di mejanya dengan emosi hingga berserakan. "Siena benar-benar rubah licik. Dia menggugurkan kandungannya, anakku.” Pintu diketuk dari luar tak lama seorang wanita berambut pirang yang disanggul dalam balutan busana kerja masuk membawa beberapa berkas dan catatan. Dia sekretaris Aaron yang selalu mengikutinya kemanapun Aaron ada perjalanan bisnis. Wanita dewasa yang cantik dan terlihat keibuan. "Presdir, Jam tiga sore nanti Anda ada pertemuan dengan perwakilan dari Choi group untuk membahas kerjasama projek pembangunan resort di Jeju.” Aaron menggeram dan menatap sekretarisnya dengan tatapan tajam dan dingin hingga wanita itu hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap atasannya. Kalau tatapan bisa membunuh, mungkin wanita itu sudah mati terbunuh dengan tatapan Aaron yang ganas dan mengerikan. Seperti bisa menguliti siapa pun hidup-hidup. Aaron mengusap wajahnya dengan kasar dan menegakkan tubuhnya. Ia juga menghela napasnya dengan pelan untuk meredakan segala emosi yang membakar hatinya. Sambil menatap sekretarisnya, Aaron memintanya mendekat. "Adakan pertemuan itu disini,” perintah Aaron dengan nada dingin. "Baik, Presdir,” balas wanita itu sambil membungkuk singkat. Ketika ia akan keluar Aaron kembali berbicara hingga membuatnya menolehkan kembali pandangannya pada atasannya. "Aku ingin kau transferkan uang pada rekening Siena Lovey sekarang juga,” titah Aaron lagi. Wanita itu mendongak dan mengerutkan alisnya sesaat karena bingung. Ia pernah mendengar nama Siena Lovey, dan setahunya nyonya muda Ackerley juga seorang Lovey. "Tapi Presdir––" "Laksanakan atau bantah aku tapi esok pagi kau dan keluargamu berakhir di jalanan.” Aaron mendesis rendah membuat wanita itu buru-buru membungkuk kembali. "Aku tak suka dibantah, Jessica.” "Ba-baik Presdir. Saya permisi.” Wanita itu keluar ruangan sambil menahan napas. Aaron memang sangat dingin dan berkuasa, tapi tidak biasanya terlihat mengerikan seperti hari ini. Dengan keadaan ruang kerjanya yang berantakan, dan tatapan mematikan. Sepeninggal sekretarisnya, Aaron bangkit dari duduknya. Berdiri di depan kaca besar ruangannya yang langsung menghadapkannya pada gedung tinggi yang berada di depan gedung hotel Ackerley. Aaron masih bungkam sambil memandang lurus ke depan dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam benaknya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya, dengan mata tajamnya yang memandang lurus. "Aku tidak pernah tahu Choi group bekerjasama dengan perusahaanku, karena aku tak pernah menandatangani apa pun. Jika Andrew Choi ada di New York, besar kemungkinan mereka akan bertemu. Aku tidak boleh bodoh dengan meninggalkan Siena di Amerika sendirian.” Aaron bergumam dengan mata yang berkilat misterius. Kemudian ia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Rencanakan pemecatan Siena dari tempatnya bekerja saat ini. Jangan membuatnya curiga, buat seolah-olah pekerjaannya sangat buruk,” perintah Aaron ketika sambungan teleponnya diangkat dari seberang telepon. "Aku ingin dia berhenti besok, jika aku masih melihat Siena bekerja esok hari, kau dan keluargamu akan merasakan hidup di jalanan. Aku tidak mau mengancammu, itu hanya hadiah kecil saja. Jika kau berhasil, bawalah koper yang akan aku siapkan untukmu besok,” lanjutnya dengan nada mutlak. Anak buah Aaron menyahutinya dari seberang line. Karena segala perintah seorang Aaron Ackerley adalah hal mutlak bagi semua pegawainya yang harus dituruti. Semua pegawai Ackerley akan patuh pada setiap ucapan Aaron, apa pun akan menjadi mutlak, kecuali mereka masih sayang keluarga. Aaron terlalu sering membuat orang-orang yang membantahnya ditendang ke jalanan tanpa harta sepeser pun. Karena pria itu terlalu mengerikan untuk ditentang. "Buatlah seolah-olah Siena mendapat panggilan kerja di perusahaan Ackerley di London. Bawa serta salah satu temannya yang bekerja bersamanya. Aku ingin minggu depan mereka sudah kembali ke London,” Setelah mendengarkan pegawai nya mengiyakan perintah nya, Aaron menutup panggilannya dan memasukan kembali ponselnya ke saku celananya. Aaron berbalik untuk meraih remot AC dan mematikannya, kemudian pria itu mengambil sebungkus rokok diatas mejanya dekat komputer. Menyelipkan diantara bibirnya kemudian menyalakannya. Sama halnya seperti pria lainnya, sesempurna apapun Aaron, jika memiliki banyak hal yang menggelayut di pikirannya, Aaron akan menenangkan dirinya dengan rokok dan alkohol. Aaron menghisap rokoknya kuat-kuat kemudian mengembuskannya. (^¤^)(^¤^)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD