"Kita ke sana.”
Siena menurut saja saat dengan wajah berbinar senang Kiara menggandeng tangannya dan mengunjungi berbagai toko dengan brand-brand terkenal. Wajah Kiara nampak sangat senang, melihat semua pakaian yang mewah dan mahal.
Siena memperhatikan wajah senang Kiara saat memasuki sebuah toko dengan label Louis Vuitton. Tak pernah ia melihat kakaknya segembira itu, karena kebahagiaan di wajah Kiara datang semenjak ia menjadi bagian dari Ackerley yang kaya raya. Karena keluarga mereka biasa-biasa saja, jadi baik Siena maupun Kiara tak ada yang pernah berbelanja barang mewah sebelumnya.
Siena duduk di kursi tunggu sambil menyilangkan kakinya, memperhatikan Kiara yang sedang ditemani pramuniaga memilih tas-tas yang harganya selangit.
"Siena, kau pilihlah, biarkan saja tagihannya masuk rekening suamiku,” kata Kiara sambil menunjukan sebuah tas tangan berwarna merah yang mewah pada Siena. Siena pun menggeleng.
Mata Siena melirik seisi toko yang semuanya dipenuhi dengan barang-barang mewah. Ia juga ingin berbelanja dan begitu tergiur. Wanita mana yang tak akan tergiur melihat sepatu-sepatu mewah seakan berteriak memanggilnya, untuk ia bawa pulang.
Sambil menghela napasnya Siena menahan diri. Dia tak bisa berbelanja dengan menggunakan credit card Aaron, karena Kiara pasti akan tahu.
"Bagus tidak?" Kiara datang sambil membawa high heels model terbaru.
Siena tersenyum manis dan mengangguk. "Tapi warnanya terlalu tua,” komentar Siena.
"Oke! Aku pilih yang lain.” Kiara kembali meninggalkan Siena yang masih duduk.
Karena bosan Siena mengambil ponselnya dan menemukan satu pesan pemberitahuan dari bank yang ia gunakan. Saat membukanya, rahang Siena hampir saja terjatuh, melihat pemberitahuan sejumlah uang yang Aaron transfer ke rekeningnya.
Senyuman Siena mengembang dan wajahnya berubah senang, melihat Aaron benar-benar masih memikirkannya.
"Aaron mentransfer uangnya, aku tak percaya,” gumam Siena. Senyumannya semakin merekah. "Aku bisa berbelanja sepuasku tanpa dicurigai Kiara,” lanjutnya.
Siena bangun dan bertekad akan berbelanja sepuasanya, untuk menghabiskan uang Aaron. Biar pria jahat itu tahu rasa, uangnya habis oleh wanita simpanannya.
Gadis cantik itu mulai memilih-milih tas dan sepatu yang bagus, tanpa mempedulikan price tag-nya yang membuat terkejut. Jika saja Siena masih gadis polos dan tertutup seperti dulu, ia akan menangis melihat price tag yang ada pada stiletto merah dengan ujung lancip yang ia pegang.
Seorang pramuniaga perempuan membantunya memilih-milih beberapa sepatu dan tas, sedangkan kakaknya pun sibuk sendiri.
Saat melihat pump heels berwarna hitam dengan model sederhana, tiba-tiba Siena teringat Julie, sahabatnya. Julie sudah banyak membantunya, bahkan ia teringat sepatu hak tinggi Julie yang patah minggu lalu karena mengejar bis bersamanya, saat mereka terlambat.
"Aku akan membelikan ini satu untuk Julie, dia pasti akan senang,” bisik Siena. "Aku ambil yang ini satu,” katanya pada pramuniaga.
"Baik, Nona,”
Siena menghampiri cashier dimana Kiara pun sedang berdiri menunggu belanjaannya. Kiara nampak senang dan tersenyum manis saat melihat Siena datang menghampirinya. Setelah menyelesaikan pembayarannya, Kiara menatap Siena.
"Kau mengambil sebanyak itu?" Kiara hampir saja berteriak saat melihat beberapa paper bag yang diberikan kasir pada Siena.
"Hmm ... Aku akan membayarnya dengan uangku sendiri,” jawab Siena.
"Tapi, Siena, gajimu kan tak akan cukup untuk membayar ini semua,” kata Kiara lagi. Tiba-tiba wanita itu memicingkan matanya pada Siena. Memandangnya dengan curiga. "Kau mendapatkan uang dari kekasihmu ya? Dia memberikanmu untuk belanja kan?" tebak Kiara.
Siena menghela napasnya dan memberikan kartunya pada kasir, kemudian menatap Kiara. "Ya,” balasnya singkat.
Siena merasa malas menanggapi kecurigaan Kiara yang selalu saja hampir mengenai sasaran.
Ya kekasihku itu adalah suamimu, Kiara. Maafkan aku, lanjut Siena dalam hati.
"Ayo, kita ke toko lain.”
Setelah selesai Kiara membawa Siena kembali keluar dan mengunjungi toko-toko lainnya, seperti toko pakaian, bahkan toko lingerie. Kiara dan Siena masuk ke toko dengan label Victoria Secret.
Sesaat Siena merasa ragu, namun ia hanya akan menemani Kiara saja, tanpa berbelanja mengingat di tangannya sudah ada beberapa paper bag.
"Bagaimana, Sien?" tanya Kiara sambil menunjukan sepasang bra dan thong pada Siena.
Siena terkekeh geli dan hampir saja tertawa membayangkan Kiara yang akan memakai pakaian dalam itu. Tawa manisnya dari suara lembutnya berderai indah membuat Kiara ikut tertawa.
"Kau yakin akan tidur menggunakan itu? Kau kan paling tak suka, Kiara,” komentar Siena.
"Tidak apa, untuk menggoda suamiku tak masalah,” balas Kiara kemudian berlalu dari hadapan Siena.
Perkataan Kiara mengingatkan Siena pada Aaron. Gadis cantik itu mengangkat sebelah sudut bibirnya hingga membentuk seringai tipis. Mata cantik Siena berkilat penuh misteri. Dengan tatapan geli dan sedikit licik, Siena berjalan ke bagian lain––yaitu lingerie.
Setelah memilihnya, ia langsung membayarnya dan menyembunyikannya dari Kiara yang masih memilih-milih.
"Sudah selesai!" Kiara berseru senang dan menghampiri Siena.
"Bagaimana kalau kita makan?" tanya Siena.
"Ayo, aku juga sudah sangat lapar. Aah, rasanya menyenangkan bisa shopping bersamamu lagi. Kita sudah tak pernah jalan berdua lagi kan.” Kiara menggandeng tangan Siena sambil berjalan keluar.
Selama mereka berjalan sambil bercanda dan tawa Siena yang halus mengundang tatapan beberapa pria yang berpapasan dengan mereka. Mereka berdua terlihat seperti dua gadis kembar, hanya saja Siena memang lebih cantik dari Kiara. Para pria lebih melirik Siena yang lebih cantik.
Mata bulat Siena yang coklat keemasan, sangat indah dan cantik, dengan hidung ramping dan mancung serta tulang pipi tegas dan bibir kecil. Siena terlihat seperti para model, hanya tubuhnya saja yang mungil. Hingga para pria tertarik padanya.
"Mereka menatap kita dengan aneh.” Kiara cekikikan seraya mencolek Siena.
"Bukan. Mereka menatap kita dengan lapar. Aku tidak bisa membayangkan seberapa marahnya Aaron jika melihat istrinya ditatap pria lain dengan lapar,” ujar Siena terlebih pada dirinya sendiri. Karena ia tahu, Aaron sangat benci jika ada pria lain yang mendekatinya.
"Suamiku tidak seperti itu.” Kiara tertawa dan menyenggol bahu Siena, membuat mereka tertawa bersama.
Tapi saat bersama ku Aaron bahkan mengancam akan menghancurkan orang yang menatapku, lanjut Siena dalam hati.
Sesaat Siena tertegun melihat Kiara yang tertawa senang bersamanya. Ada perasaan bersalah dan menyesal itu, yang kembali hinggap. Namun semuanya sudah terlambat dan berjalan seperti saat ini., menghentikannya pun Siena rasa akan sia-sia.
"Sien, kau melamun ya?" Kiara menyenggol bahu Siena hingga ia setengah terkejut.
"Aku hanya sedang memikirkan akan masak apa untuk nanti malam,” pungkas Siena sambil melemparkan senyumannya.
Kiara mengangguk saja, kemudian mereka memasuki sebuah restoran yang cukup mewah. Kiara membawa Siena ke bagian paling pojok, agar mereka bisa lebih santai.
Setelah memilih duduk, Siena melemparkan tubuhnya ke sofa restoran, ia juga memijat kakinya yang pegal karena berjalan seharian menggunakan sepatu hak tinggi.
Seorang pelayan menghampiri mereka. Selama Kiara memilih menu, Siena justru sibuk memijat kakinya.
Siena terkesiap saat merasakan getaran di tas nya, buru-buru ia mengambilnya dan mengangkat panggilannya. Nama Julie tertera sebagai penelpon.
Siena berbalik agar Kiara tak mendengarnya. "Julie ada apa?"
"Siena ... Ini gawat Sien. Sangat gawat. Ya Tuhan bagaimana ini? kita ... Kita ...” Terdengar suara Julie di sebrang line sedang panik. Membuat Siena mengerutkan dahinya heran.
"Julie tenanglah. Ada apa sebenarnya?"
"I-ini gawat, kau harus tahu ini. Ini gawat Sien, kita ... Kantor ...”
"Julie apa yang terjadi? Jangan menangis! Ceritakan ada apa?" Siena yang mendengar Julie bertele-tele menjadi kesal.
"Kita dipecat. Dipecat. Kau dengar? Kita dipecat dari kantor,” jawab Julie dengan suara melemah kemudian terdengar isakan dari sana.
"Apa?!" Siena berteriak cukup nyaring membuat beberapa orang yang berada di dalam restoran itu melirik ke sudut ruangan. Begitu pun dengan Kiara yang menatapnya heran.
"Sekarang kau jelaskan apa yang terjadi?" tanya Siena berusaha pelan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tadi aku mendapat surat pemecatan bersama dengan surat untukmu. Aku tidak tahu mereka sekejam itu. Aku tidak pernah bolos tapi mereka memecatku, Siena,” suara Julie diikuti dengan isak tangis.
"Julie––"
"Aku harus bagaimana? Aku punya keluarga di desa. Aku punya adik-adik yang masih sekolah dan kecil-kecil. Aku harus ... Bagaimana, Sien? Impianku untuk berkarir di Amerika, meskipun bermula dari kantor yang tidak begitu besar tapi aku masih bisa menghidupi keluargaku di desa. Sekarang aku harus bagaimana ... Mereka––mereka sekejam itu padaku.”
"Sekarang kau jelaskan padaku, apa yang terjadi dan kenapa mereka memecat kita?"
"Aku tidak tahu. Saat aku tanya mereka hanya mengatakan jika kantor melakukan pengurangan pegawai. Barang-barangku langsung diangkut oleh mereka dan aku sudah pergi dari kantor,” balas Julie dengan isakan yang sudah sedikit reda.
"Kau masih memiliki Aaron disampingmu, dia akan membiayai hidupmu tanpa kau takut akan tinggal di jalanan. Nah, aku? Aku menjadi tulang punggung keluargaku. Ayahku sakit-sakitan, bahkan ia sudah tak bisa berkebun. Ibuku tak bisa bekerja dan adik-adikku masih sekolah. Aku tak bisa pulang ke Inggris tanpa membawa uang, aku akan tinggal di jalanan.” Isakan Julie kembali terdengar dari seberang line.
Siena menghela napasnya dan melirik Kiara yang sedang menatapnya dengan wajah penasaran. Siena hanya diam tak menggubris, dalam benaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Sangat tidak masuk akal mereka berdua dipecat begitu saja. Selama ini bos mereka sangat baik, dan tak ada masalah apapun. Kalau hanya karena dua hari ini ia tidak bekerja, mereka harusnya memecat dirinya saja tanpa melibatkan Julie.
Siena merasa marah, ia merasa ada seseorang yang dengan sengaja mendepak mereka dari perusahaan itu. Semuanya terasa mendadak dan aneh. Jika ia dipecat, Siena masih memiliki Aaron, yang akan selalu memenuhi kebutuhannya di belakang Kiara, tapi Julie hanya gadis biasa yang ketakutan ia akan kelaparan.
Seketika Siena ingat pada Aaron, pria itu pasti akan membantu dirinya dan Julie. Karena Aaron adalah pria dengan banyak koneksi dan mampu melakukan apapun yang dia inginkan. Termasuk––
Pikiran Siena mendadak tertuju pada Aaron dan pemecatan dirinya. Aaron punya kuasa untuk melakukan hal itu.
"Oh s**t!" Siena mengumpat kasar saat baru saja terlintas dalam benaknya bahwa yang melakukannya adalah Aaron.
Kiara terkejut mendengar umpatan Siena, begitupun dengan Julie yang langsung bertanya kembali.
"Siena, ada apa?" tanya Kiara dengan suara cemas.
"Kau dimana sekarang?"
"Aku di depan apartemenmu. Aku pikir kau ada di apartemen saat ini,”
"Julie, masuklah ke apartemenku karena saat ini aku tak ada disana. Aku sedang bersama Kiara. Password-nya tanggal lahirku. Aku akan pulang secepatnya,” jelas Siena. Julie mengiyakan kemudian panggilan di tutup.
Siena menoleh pada Kiara yang sedang menumpukan kedua tangannya di meja sambil menatapnya meminta penjelasan. Siena menghela napas lelah, ia tak bisa menjelaskan apapun pada Kiara, karena pikirannya saat ini tertuju pada Aaron. Yang kemungkinan besar menjadi dalang dibalik pemecatan mereka.
"Siapa?" tanya Kiara.
"Juliet. Aku harus pulang secepatnya. Julie sedang berada di apartemen, kami berdua baru saja dipecat.”
"Apa? Kalian memiliki masalah?"
"Tidak, tidak. Aku juga tidak tahu. Aku akan ke kantor dan menuntut penjelasan pada bos kami,” balas Siena seraya bersiap bangun dan mengambil tasnya.
"Tapi kau belum makan, Siena.”
"Tidak apa-apa, aku akan makan nanti saja.”
Setelah mengucapkan itu Siena keluar dari restoran dan berjalan ke depan untuk menyetop taksi.
Saat di dalam taksi Siena merenung. Sesaat ia teringat permintaan Aaron yang ingin ia berhenti bekerja, tapi jika memang Aaron melakukan sesuatu agar dirinya dipecat dan kembali ke Inggris, Siena akan terima dan ikuti semua permainan Aaron. Namun dia melibatkan Julie yang bahkan tak tahu apapun.
"b******n kau Aaron.” Siena mendesis kesal. "Meski kau mentransfer uang padaku, tapi kau membuatku dan Julie kehilangan pekerjaan.”