Setelah sampai di rumah sakit, dengan serampangan Aaron membawa tubuh Siena dan berteriak seperti orang gila.
"Dokter! Perawat!"
Beberapa perawat dan seorang dokter datang dengan cepat membawa ranjang dorong. Aaron membaringkan tubuh Siena, kemudian dibawa dengan cepat ke ruang emergency. Aaron ikut berlari mengikuti para perawat yang membawa tubuh Siena. Ketika tiba di depan ruang emergency, ia dilarang masuk.
"Aaarrhh sial!!" Aaron mengerang frustrasi sembari menjambak rambutnya dengan kuat. Ia menatap ke dalam ruangan yang pintunya tertutup rapat.
"b******n kau, Aaron, kau puas? Kau memang iblis! Kau melukai Siena dengan kejam, dia pasti akan meninggalkanmu.” Aaron mendesis pada dirinya sendiri. Mata hijaunya berkilat dengan misterius. Kemudian bibir seksinya yang sedikit tebal menyeringai. "Tapi aku tidak akan membiarkan Siena meninggalkanku, sampai kapan pun,” desisnya dengan suara rendah dan berbahaya.
Aaron bangun dan berjalan menuju tempat administrasi. Setelah sampai disana ia menyelesaikan administrasinya.
"Hubungi kakak dari pasien Siena Lovey. Ini nomornya dan katakan padanya bahwa Siena Lovey berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan.” Aaron memberikan sebuah kertas pada wanita yang ada di depannya.
"Tapi tuan––" Sang pegawai wanita hendak menyela, namun raut wajah Aaron berubah menggelap dan nampak mengerikan untuk dibantah.
"Aku bisa saja mencari tahu identitasmu dan keluargamu, aku bisa mendepakmu dari rumah sakit ini dan membuat keluargamu berakhir di jalanan jika kau membantahku.” Aaron mendesis tajam dan wanita di depannya mengangguk mengerti serta mengangkat telepon untuk memberitahukan keluarga pasien.
(*0*)(*0*)
"Ughh ...” Terdengar suara erangan lirih dari atas kasur.
Dengan bibir yang sudah mengering karena salep, dan kedua pipi nya yang memar dan membiru, selang infus membelit tangan kirinya.
Kedua bulu mata lentik itu mengerjap-ngerjap pelan dan bola mata cokelat keemasan itu mengintip dari baliknya. Dengan perlahan Siena membuka kedua matanya, cahaya lampu membuatnya menutup kembali kedua matanya. Bau obat-obatan membuat hidungnya mengerut.
"Siena,” panggil seseorang dengan lembut.
Tangan Siena bergerak meraba kepalanya yang terasa sakit dan memberat. Ia membuka kedua matanya yang bulat dengan sempurna, dan ruangan dengan warna putih mendominasi pandangannya.
Siena terlihat pucat, matanya sayu dan napasnya berembus berat. Ia hanya mengenakan pakaian rumah sakit, dan rambutnya diikat dengan asal.
Di sisi kanannya ada Julie yang sedang duduk di kursi dan menatap Siena dengan pandangan khawatir. Gadis itu memiliki mata biru dan rambut pirang yang panjang. Wajahnya british-nya tidak secantik Siena. Siena mengernyit melihat Julie tersenyum hangat sambil menggenggam tangannya erat.
"Kau sudah sadar. Aku panggilkan dokter dulu ya,” ujar Julie dan bersiap bangun. Siena menahan tangannya dan menggeleng agar ia tidak ditinggalkan.
"Kenapa aku ada disini?" tanya Siena dengan suara pelan sambil menyentuh kepalanya.
"Kau ada di rumah sakit. Kemarin pihak rumah sakit mengatakan bahwa kau kecelakaan. Aku menunggumu di apartemenmu. Apa kau tertabrak mobil? Tapi, kau tidak terluka parah.” Julie menatap Siena dengan cemas.
Siena mengerutkan dahinya dengan dalam. Bagaimana bisa dia kecelakaan, karena setahu Siena dirinya sedang berada di kantor Aaron. Pria itu berbuat kasar padanya kemudian kembali memaksanya serta memukulnya beberapa kali.
"Siapa yang bilang aku kecelakaan?" bisik Siena tak mengerti.
Julie ikut mengerutkan dahinya tak mengerti, ia menatap Siena bingung, begitupun dengan Siena.
"Bukankah kau kecelakaan saat akan pulang?"
Siena ingat, ini pasti ulah Aaron lagi yang membuat semua fakta seakan terbalik. Siapa lagi yang berani mengancam orang-orang dan membuat kebohongan, selain pria itu. Sambil mengepalkan kedua tangannya di selimut, Siena mendengus kesal.
"Aaron dimana?" tanya Siena dengan suara berbisik nyaris tak terdengar, namun Julie masih mendengarnya.
"Aku tidak tahu. Aku sedang berada di apartemenmu, dan Kiara baru saja sampai saat ada telepon dari rumah sakit bahwa kau korban kecelakaan,” jelas Julie.
"Sekarang Kiara dimana?" bisik Siena lagi. Suaranya terdengar lemah, sambil menahan sakit di kepala dan wajahnya ia mencoba bangun dibantu Julie.
"Kiara baru saja pulang untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Semalaman kami menjagamu, Sien,”
"Julie, aku sebenarnya tidak kecelakaan,” ujar Siena.
Julie mengerutkan dahinya tak mengerti. "Maksudmu?"
Siena meraih tangan Julie dan menggenggamnya, ia melirik pintu sebelum menceritakan yang sebenarnya pada Julie. Julie adalah sahabat Siena sejak sekolah, ia percaya Julie akan menjaga rahasianya. Bahkan gadis itu pun mengetahui hubungan Siena dan Aaron yang sebenarnya.
"Julie, sebenarnya aku tidak kecelakaan. Aaron kembali kasar padaku. Dia––dia memaksaku dan kembali melukaiku di kantornya. Aaron bohong! Aku tidak kecelakaan.”
Julie membulatkan matanya tak percaya. Siena mengangguk untuk meyakinkan Julie yang baru saja dia katakan.
"Tapi, bagaimana bisa?" bisik Julie.
"Aaron––"
Pintu ruangan Siena dirawat dibuka dari luar, tak lama Kiara masuk membawa makanan untuk mereka. Membuat Siena menghentikan ucapannya.
Siena dan Julie sama-sama menoleh dan melihat Kiara yang masuk dan tersenyum. Kiara mengangkat kotak makanan di tanganya, menghampiri Siena kemudian mengusap rambutnya dengan sayang.
"Kiara,” ucap Siena berbisik.
"Oh Tuhan terima kasih. Kau tak sadarkan diri sejak kemarin. Dokter bilang, tak terjadi apa-apa denganmu, hanya luka-luka ringan. Aku sangat takut kehilanganmu.” Kiara membungkuk dan memeluk Siena.
Siena balas memeluk Kiara, ia meredupkan tatapannya. Tangannya mengusap bahu Kiara. Ia sendiri merasa bersalah pada Kiara, dia tak tahu apa-apa, bahkan dengan mudahnya Aaron menciptakan kebohongan pada semua orang.
Kiara terisak kecil di bahu Siena, membuat gadis itu semakin merasa bersalah dan sesak. Ia ingin berhenti dan meninggalkan Aaron, tapi itu tidak mungkin. Aaron akan semakin berbuat jahat dan menyakitinya. Dia sudah terjebak dengan Aaron
Aku bertekad akan membuat Aaron semakin bertekuk lutut padaku, aku akan membalaskan semua rasa sakit ini dan luka yang dia berikan padaku. Siena bergumam dalam hati.
Siena melirik Julie yang duduk di dekatnya, tapi Julie hanya menggeleng pelan kemudian pindah ke sofa. Memberikan ruang lebih besar untuk Kiara memeluk Siena.
Kiara melepaskan pelukannya, ia menyentuh pipi Siena dan bibirnya yang memar juga terluka. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya, karena takut kehilangan Siena.
"Bagaimana bisa terjadi? Apa kau ditabrak? Atau mobil yang kau tumpangi kecelakaan?"
Siena mengulas senyum, untuk membuktikan pada Kiara bahwa dirinya baik-baik saja. "Taksi yang aku tumpangi mengalami kecelakaan karena ada orang yang menyeberang tiba-tiba saat lampu baru saja menyala hijau,” jelas Siena yang tentu saja sebuah kebohongan. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Kiara. Karena Siena belum siap.
"Syukurlah,” balas Kiara kembali memeluk Siena singkat.
"Kenapa kau belum kembali ke Inggris?" tanya Siena.
Kiara menggeleng. "Bagaimana bisa aku meninggalkanmu disini. Besok kita akan pulang ke Inggris, karena mom dan dad menyuruh mu untuk kembali,”
"Kenapa mom dan dad menyuruhku pulang?" Siena mengerutan dahinya.
"Aku memberitahu mereka. Kau kan anak bungsu keluarga kita, jadi mom dan dad sangat cemas, apalagi kau kan masih lajang. Jika kekasihmu tak setuju, aku yang akan menemuinya langsung,” jawab Kiara.
"Jangan. Baiklah aku akan pulang,” balas Siena akhirnya.
"Nanti setelah tiba di London, kau akan tinggal bersama kami. Di rumahku dan Aaron,”
Siena menengerutkan dahinya tak mengerti. Kenapa dia harus tinggal bersama kakaknya dan kekasih gelapnya. Justru itulah yang sangat Siena hindari, ia tak mungkin tinggal bersama Aaron dan Kiara.
"Tidak, Kiara. Aku akan tinggal bersama mom dan dad,” balas Siena seraya menggeleng.
"Mom dan dad pindah ke desa, Sien. Aku belum sempat memberitahukan ini padamu. Mereka bilang ingin menikmati masa tua di desa. Jadi rumah yang di London kosong.”
Siena menghembuskan napasnya dan menundukkan kepalanya sedih. Sepertinya tinggal di desa bersama orang tuanya adalah jalan terbaik, daripada tinggal bersama Kiara dan Aaron.
"Julie, kau akan pulang ke Inggris kan? Siena bilang kau dipecat.”
Julie mengangguk. "Iya, aku akan ikut pulang.”
"Aku tidak tahu bagaimana bisa kau dipecat, aku akan mencoba membujuk Aaron untuk memberimu kesempatan bekerja di perusahaannya,” kata Kiara.
"Terima kasih banyak Kiara.” Julie bangun menghampiri Kiara dan memeluk wanita itu singkat.
Siena memandang Julie dan Kiara, tatapannya meredup dan kedua tangannya mengerat selimut. Ia merasa sangat marah pada Aaron, karena sudah melibatkan Julie yang tak tahu apapun. Bahkan Kiara meminta pada Aaron agar Julie bekerja di perusahaannya. Tanpa mereka ketahui bahwa ini semua permainan gila Aaron.
"Terima kasih, Kiara,” ujar Julie sekali lagi.
"Nanti kau berterima kasih pada Aaron, jadi kau bisa tetap tinggal di London dan mudah untuk bertemu keluargamu,” balas Kiara yang diangguki Julie.
Melihat Julie yang tak tahu apapun dan Kiara yang terus dibohongi Aaron membuat Siena kembali bertekad. Dia tidak akan melepaskan Aaron dengan mudah, dan dia tidak akan mengakhiri hubungan gelap mereka. Siena bertekad, ia akan membuat skenario yang sudah dibuat oleh Aaron berakhir dengan buruk, seburuk-buruknya. Siena akan mengikuti semua alur permainan Aaron, sebelum menghancurkan Aaron secara perlahan.
Julie melirik pada Siena, melemparkan senyuman kecil untuk menenangkan gadis itu. Karena Julie tahu bahwa yang membujuk Aaron untuk memberikan kesempatan padanya adalah Siena. Ia juga merasa bersalah pada Kiara, karena telah membantu Siena menyembunyikan hubungan gelap Siena dengan Aaron.
Pintu kembali dibuka dari luar, Julie dan Kiara menoleh ke arah pintu sedangkan Siena memalingkan wajahnya saat matanya bertabrakan dengan tatapan hijau Aaron yang seksi.
Kiara menghampiri Aaron dan mengusap dadanya yang bidang, hal itu tak lepas dari penglihatan Siena dan Julie. Mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang sempurna.
Siena dapat melihat wajah Aaron yang terlihat kusut dan stress, meski Aaron menyembunyikannya dibalik wajah dinginnya, tapi Siena bisa melihatnya.
"Aku sudah mengurus kepulangan kita besok,” ujar Aaron dengan suara rendah yang dibalas senyuman oleh Kiara. "Aku ingin berbicara denganmu, sebaiknya kita keluar,” lanjutnya.
Kiara mengangguk, sebelum keluar ia menghampiri Siena dan mencium keningnya. Sedangkan Aaron tak melepaskan tatapannya dari Siena. Meski matanya sangat tajam dan tak bisa ditebak, tapi Siena melihat ada binar kecemasan. Kemudian mereka berdua keluar meninggalkan Julie dan Siena.
"Siena.” Julie memanggil Siena dengan iba. Pasti Siena sangat sakit saat melihat Aaron bersama Kiara, menggandeng tangannya di hadapan Siena.
Siena menghela napasnya dan satu tetes air mata menuruni pipinya, ia mengusapnya dan kembali menghela napas. Julie menggenggam tangan Siena untuk memberikannya dukungan.
"Siena, kau bisa menceritakan padaku, jangan memendamnya sendirian. Aku tidak akan mengatakan pada siapa pun.”
Siena menghela napas berat. "Kemarin aku bertemu dengan Andrew di perusahaan Aaron. Aku tak tahu mereka ternyata bekerjasama. Aaron melihatku dan Andrew berpelukan, dia marah padaku dan entah dari mana dia tahu bahwa Andrew mantan kekasihku,” Siena menceritakannya dengan lirih.
Julie menutup mulutnya dengan wajah terkejut. "Kau serius? Bagaimana bisa?"
"Aku tidak tahu, Julie. Aaron tiba-tiba marah dan tahu bahwa Andrew Choi adalah mantan kekasihku. Dia bahkan tahu aku pernah hamil dan keguguran.”
"Aaron pasti sudah mencari tahu masa lalumu. Sekarang kau harus bagaimana? Kau tidak boleh terus bersama Aaron, dia akan semakin menyakitimu.
"Aku tidak mengerti dengan tempramen Aaron, disatu sisi dia akan sangat marah padaku, disisi lain dia berlaku lembut dan tak ingin kehilanganku. Sikapnya yang mengerikan membuat wanita manapun akan ketakutan.” Siena bercerita dengan tatapan setengah kosong. "Dia bahkan bilang tak suka anak kecil, tapi Kiara bilang dia menginginkan anak dari Kiara, sedangkan padaku dia murka.”
Julie meredupkan tatapannya, ia meraih tubuh Siena dan memeluknya dengan sayang.
"Selanjutnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Julie seraya mengusap punggung Siena.
"Aku akan pulang ke London, mengikuti semua permainan yang Aaron ciptakan. Aku akan membuat dia semakin bertekuk lutut padaku dan menghancurkannya secara perlahan, Julie.” Siena melepaskan pelukan Julie dan menatapnya dengan penuh tekad.
"Jadi kau tak akan meninggalkan Aaron?"
"Ya, aku tidak akan melepaskan Aaron begitu saja. Dia harus membayar semua yang telah dia lakukan padaku. Aku keguguran karena dirinya, tapi dia justru meminta anak dari Kiara. Aku tak akan membiarkan Aaron menang dan terus menyakitiku.”
"Tapi dia akan melukaimu kembali, Sien.”
"Aku akan melawan, Julie,” jawab Siena sungguh-sungguh. "Aku akan membuat Aaron merasakan kesakitan yang aku terima karena kehilangan anakku,”
Tak berapa lama pintu dibuka dari luar, baik Siena maupun Julie tak ada yang berbicara lagi sampai seseorang masuk ke dalam.
"Andrew?" Julie membelalakkan kedua matanya tak percaya. Andrew datang dengan balutan celana kain hitam, kemeja berwarna hitam. Wajah yang sangat tampan, tegas dan dia juga tinggi, wajah khas Korea. Julie semakin membelalakkan kedua matanya melihat Andrew yang berbeda jauh saat terakhir mereka bertemu. Ternyata benar bahwa Andrew ada di New York.