Andrew tersenyum membalas Julie, pria tampan itu mengalihkan perhatiannya pada Siena yang terbaring di atas ranjang. Siena hanya menatap Andrew dengan datar, dan membaringkan kembali tubuhnya dengan nyaman.
Andrew melangkah mendekati Siena, ia tersenyum hingga menampakkan lesung pipinya yang membuat wajahnya semakin tampan.
"Kau baik-baik saja?" Andrew bertanya dengan suara lembut dan tatapan mata yang sangat cemas.
Siena justru memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Andrew atau membalas pertanyaannya. Sedangkan Andrew hanya tersenyum getir karena lagi-lagi Siena menolaknya.
"Kiara menghubungiku dan mengatakan bahwa kau kecelakaan. Bagaimana bisa? Apa kau kecelakaan setelah pulang dari hotel Ackerley group?" Andrew bertanya kembali dengan cemas. Tangan besarnya menyentuh rambut Siena dan mengusapnya.
Siena masih bergeming, membiarkan Andrew mengusap tambutnya dengan lembut. Ia sangat malas menyahuti Andrew setelah teringat bahwa Aaron berbuat kasar padanya karena melihat Andrew bersamanya.
"Sien, aku akan keluar.” Julie buru-buru berlalu setelah mendapat anggukan dari Siena. Meninggalkan Siena dan Andrew berdua.
"Kau masih marah padaku karena aku meninggalkanmu?" Andrew bertanya seraya menggenggam kedua tangan Siena.
Siena menarik kembali tangannya dari genggaman Andrew. "Tidak Andrew, ayahmu benar bahwa aku hanya gadis miskin yang tak pantas bersanding denganmu. Perpisahan kita dulu memang hal yang baik. Karena seharusnya kau memang bersanding dengan perempuan yang mempunyai status sosial setara denganmu,”
"Omong kosong." Andrew mendesis. "Status sosial tak ada artinya jika perasaan dan cinta mendominasi,” lanjutnya.
Siena memang menjadi trauma dan menutup diri dari pria manapun setelah Andrew meninggalkannya. Dulu ia memang masih mencintai Andrew saat mereka berpisah, namun kini tak ada lagi perasaan itu. Andrew hanya kepingan masa lalu yang sudah Siena lupakan.
"Dulu aku memang tak bisa melawan ayahku saat dia memisahkan kita, tapi sekarang aku bisa mendapatkanmu kembali tanpa ancaman ayahku,” kata Andrew lagi.
"Kita sudah berakhir, Andrew. Aku tidak ingin mengulangnya lagi, itu hanya masa lalu. Sebaiknya kau cari gadis yang benar-benar sesuai dengan keinginan keluargamu.”
"Tidak Siena. Aku masih sangat mencintaimu. Bertahun-tahun aku menahan diri untuk tidak mencarimu, tapi setelah kita bertemu aku ingin kau menjadi milikku. Menjadi wanitaku. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik.” Andrew meraih tangan Siena kembali, meski Siena menahannya tapi ia menariknya dan menggenggamnya.
"Aku sudah memiliki seseorang,” balas Siena lirih.
Mendengar perkataan Andrew ia sedikit goyah, karena ia yakin Andrew adalah pria tampan yang baik hati. Namun Siena tak ingin ditinggalkan lagi seperti dulu, meski sebaik apapun Andrew.
"Apa tidak ada kesempatan lagi untukku?" Andrew bertanya dengan nada kecewa.
"Tidak ada Andrew, aku sudah memiliki seseorang dalam hidupku,” balas Siena. Meskipun dia sangat kejam, lanjutnya dalam hati.
"Apa kau mencintai pria itu?"
Siena meringis dalam hati. Ternyata Andrew pun sama saja egoisnya, bagaimana bisa nasibnya mempertemukan ia dengan dua pria egois seperti Aaron dan Andrew.
"Kau tidak perlu tahu, itu bukan urusanmu,” tukas Siena seraya memalingkan wajahnya.
"Aku sudah memiliki semuanya. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, tidak akan ada lagi yang menentang kita.”
"Andrew aku mohon, hubungan kita sudah berakhir.”
"Aku hanya––"
"Seharusnya kau mengerti dengan semua ucapan Siena, Mr Choi.” Seseorang memotong ucapan Andrew dengan dingin. Siena terperanjat saat melihat Aaron sedang berdiri di belakang Andrew dengan wajah dingin.
Tidak ada yang menyadari kedatangan Aaron, karena Siena dan Andrew terlalu fokus dengan pembicaraan mereka. Andrew menoleh ke belakang dan mendapati Aaron yang sedang berdiri dengan angkuh dan dingin. Andrew menghela napas dan menoleh kembali pada Siena.
"Aku akan menemui mu lagi nanti,” ujar Andrew dengan lembut seraya tersenyum hangat pada Siena.
"Senang bertemu dengan Anda, Mr. Ackerley,” sapa Andrew.
Namun Aaron tak menggubris bahkan tak menatapnya sama sekali, merasa diabaikan Andrew pun berlalu dari ruangan itu tanpa kata lagi.
Setelah Andrew keluar dari ruangan itu, Aaron berjalan menghampiri Siena. Wajah Aaron sangat datar bahkan setelah dia duduk di kursi samping ranjang Siena. Sedangkan gadis itu membuang tatapannya, ia masih marah setelah Aaron memperlakukannya dengan kasar.
"Siena," panggil Aaron dengan nada lembut seraya mengusap rambut cokelat Siena. "Maafkan aku, sayang,” lanjutnya.
Siena menoleh cepat dan menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa Aaron meminta maaf padanya? Siena tahu pasti Aaron akan merayunya agar kembali padanya dan tak meninggalkannya.
"Aku minta maaf, baby. Aku sangat menyesal sudah menyakitimu, aku tidak ingin kehilanganmu.” Aaron meraih tangan Siena dan menggenggamnya serta mencium tangan lembut gadis itu dengan lembut.
Siena terkesiap saat Aaron meminta maaf padanya dan memohon untuk tidak ditinggalkan. Siena menyeringai samar saat Aaron menciumi tangannya. Matanya berkilat sedikit licik.
Bagus. Aaron kembali merayuku, aku akan mudah mengendalikannya. Siena bergumam dalam hati dengan licik.
"Besok kita kembali ke Inggris,” kata Aaron.
Aaron melembutkan tatapannya saat melihat wajah Siena yang cantik kini lebam-lebam. Bibir merah yang menjadi candunya kini terluka. Bahkan ada memar di dekat mata bulat Siena.
"Aku minta maaf sayang. Aku sudah menyakitimu,” Aaron bergumam kecil, mencium bibir pucat Siena dengan singkat, namun Siena masih bergeming. "Katakan sesuatu, baby,” lanjutnya. Tangan Aaron mengusap bibir Siena.
"Aku harus mengatakan apa?" balas Siena dengan suara datar.
"Katakan apapun. Aku akan menuruti semua yang kau inginkan, sayang,”
"Aku ingin menjadi sekretarismu,” tukas Siena dengan mantap.
"Apa?" Aaron menjengit tak percaya dengan ucapan Siena. Permintaannya sangatlah konyol.
"Tapi––"
"Terserah, aku hanya ingin jadi sekretarismu agar hubungan kita semakin dekat dan tak ada yang mengetahui nya. Kita bisa berhubungan di kantor juga.”
Aaron semakin melebarkan kedua matanya namun buru-buru kembali mengubah ekspresi wajahnya seperti semula. "Kau tidak akan meninggalkanku kan?"
"Humm.” Siena hanya bergumam.
"Baiklah, kau akan menjadi sekretarisku mulai minggu depan.”
Siena mengulum senyumnya, ia menahannya agar tidak menyeringai di depan Aaron. Kini Aaron sudah kembali dalam genggamannya. Menjadi sekretaris Aaron akan memudahkannya semakin menjerat Aaron, dan membuat pria itu bertekuk lutut padanya.
(*0*)(*0*)
Seminggu sejak kepulangan Siena dan Aaron kembali ke London. Saat ini, Siena sedang duduk di kursi belakang mobil, dalam balutan pakaian kantor. Rok span warna hitam selutut dengan belahan pinggir yang tinggi, dipadu blouse berwarna baby pink dengan pita dan perpotongan d**a yang sedikit rendah. Kaki jenjangnya yang ramping dibalut stocking hitam dengan stiletto tinggi yang memberikan kesan seksi.
Gaya rambut Siena kembali dirubah. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai lurus di punggung sempitnya, berwarna hitam legam, dengan poni depan, lurus dan pendek di dahinya. Wajahnya dipoles make up sedikit tebal, untuk menyembunyikan sisa-sisa lebam yang masih ada. Bibirnya berwarna merah terang hingga memberikan kesan seksi dan dewasa.
Setelah pulang ke London, Aaron memberikan perawatan intensif untuk Siena. Untuk menyembuhkan luka dan lebam di wajah juga tubuhnya, terlebih di daerah pribadinya. Aaron sangat panik saat dokter mengatakan bahwa daerah pribadi Siena mengalami lecet karena ia telah melakukannya dengan kasar.
Hari ini tepat hari pertama dimana Siena akan menjadi sekretaris Aaron, atas permintaan dirinya untuk menggantikan sekretaris Aaron yang dulu.
Di samping Siena ada Aaron yang sedang duduk dengan gagahnya sambil menyilangkan kedua kakinya. Dalam balutan jas formal yang membungkus tubuh kekarnya yang seksi. Rambut kecokelatannya ia sisir ke belakang. Di depan mereka ada sopir, tapi tak menyurutkan nyali Aaron untuk menggerayangi Siena.
Jari-jari kokohnya merambat dari lutut Siena naik ke pahanya yang dilapisi stocking hitam, terus naik ke balik rok span Siena.
"Aaron hentikan,” desis Siena sambil menahan tangan Aaron yang berada dibalik rok nya. "Aku tidak mau penampilanku berantakan dan supir mu tahu,” lanjutnya.
Aaron menaikkan sebelah alisnya kemudian menarik kembali tanganya dan mengangkat bahu. "Bermain sebentar dengan sekretarisku tak masalah kan,” bisik Aaron.
"Dasar gila,” gerutu Siena dengan nada kesal. Ia takut jika sopir Aaron akan melaporkannya pada Kiara, meskipun itu mustahil mengingat tak ada satupun yang akan berani menentang Aaron.
Siena membuang tatapannya keluar, melihat pemandangan kota London dari dalam mobil. Bibir merahnya yang mungil melengkung, menatap pantulan dirinya di kaca yang samar-samar. Kini ia sudah berhasil menjadi sekretaris sekaligus wanita simpanan Aaron. Aaron sudah menang atas dirinya sejak awal, jadi Siena berpikir ia akan meneruskan hubungannya dengan Aaron.
Aku merasa diriku sudah dirusak Aaron, meski Andrew datang dan menawarkan perbaikan, tapi aku hanya ingin Aaron lah yang memperbaiki semuanya. Menerima semua akibatnya. Meski aku harus mengorbankan masa depanku, perasaanku dan juga mengorbankan Kiara, tapi aku harus maju untuk membuat Aaron bertekuk lutut padaku. Bisik Siena dalam hati.
Mobil mereka berhenti di depan gedung Ackerley group yang menjulang tinggi sebagai gedung pencakar langit. Sopir Aaron turun dan berputar membukakan pintu untuk Aaron dan Siena. Yang pertama turun adalah Aaron kemudian melangkah masuk tanpa menunggu Siena.
Sedangkan Siena turun, melangkahkan kakinya dengan wajah sedikit takjub memandang gedung Ackerley group yang besar dan mewah. Siena melangkah masuk ke lobi, beberapa karyawan bahkan hampir semua karyawan yang berada disana, menatap kehadiran Siena. Sekretaris baru Presdir mereka yang cantik, menggoda dan begitu segar. Dengan kaki rampingnya yang berjalan anggun, membuat stiletto-nya berbunyi di lantai.
Siena melemparkan senyumannya dengan sopan, sedangkan beberapa karyawan wanita ada yang terang-terangan menatapnya dengan pandangan menghina dan meremehkan. Mungkin mereka berpikir jika Siena lebih cantik dari mereka. Berbeda dengan pegawai pria, mereka menatap Siena dengan tatapan memuja, mengagumi dan tertarik. Karena malu menjadi pusat perhatian Siena menurunkan poni depannya dan menyembunyikan wajahnya yang cantik.
Tapi saat ia menatap ke depan, Aaron sedang menatapnya di depan lift dengan kesal. Mata hijau seksinya menyorot Siena seakan melarangnya tebar pesona. Merasa tertantang, Siena justru nekat berjalan dengan menyilangkan kakinya membuat pinggulnya sedikit bergoyang, mencoba untuk menggoda para lelaki. Ia tahu, Aaron sangat benci jika dirinya ditatap para pria lain.
Tiba di depan lift Siena hampir saja memencet lift, namun Aaron berdeham dari sisi lain memberikannya isyarat untuk masuk ke lift khusus pemilik perusahaan.
Siena menurut dan berjalan ke pojok dimana lift khusus Aaron berada, ia masuk mengikuti Aaron. Hingga di dalam lift hanya ada mereka berdua. Siena berdiri sambil menyilangkan tangannya di d**a, sedangkan Aaron berdiri menatapnya seakan mengintai dirinya bagai predator mengintai mangsa.
"Sebenarnya aku marah melihatmu mengumbar dadamu," desisnya. "Ganti pakaianmu atau aku robek saat ini juga,” lanjutnya.
Siena menghela napasnya dan menaikkan perpotongan blusnya hingga menutupi dadanya yang berpotongan rendah.
"Sudah,” balasnya.
"Aku akan meminta karyawanku untuk membawa pakaian baru.”
Siena mendengus dan tak percaya dengan sikap Aaron yang berlebihan. Bahkan pakaiannya saja dikomentari. "Berhentilah Aaron, ini bukan masalah. Ini hanya pakaian.”