Chapter 18

2180 Words
Aaron mendekat dan meraih pinggang Siena, mendekapnya dan merapatkan dengan tubuhnya. Siena menahan napasnya dan menahan d**a Aaron yang berbenturan dengan dadanya. Siena mendongak dan tersenyum menggoda, bibir dengan lipstik merah terang itu mencium rahang Aaron, membuat Aaron mengerang. "s**t!" Aaron menggeram dan menarik rahang halus Siena, mendongakkannya kemudian mencium bibir merahnya. Tangan Siena mengerat jas Aaron, sedangkan matanya menutup menikmati ciuman Aaron yang selalu hebat. Bibir tebal Aaron mencium Siena, melumat bibirnya dan lidahnya menerobos masuk, mengulum bibir manis itu. "Unghh.” Siena melenguh dan mendorong tubuh Aaron menjauh hingga ciuman mereka terlepas. "Kau mengacaukan lipstikku,” gerutu Siena seraya membenarkan lipstiknya di dinding lift. Aaron mengulum bibirnya agar tidak terkekeh, melihat bibir Siena yang lipstiknya berantakan. Saat ia berbalik menatap dinding lift, Aaron hampir mengumpat melihat bibirnya ada jejak lipstik Siena. "Gunakan untuk menghapus lipstikku, jika kau tak mau ditertawakan semua karyawanmu.” Siena memberikan tisu basah pada Aaron, namun pria itu hanya diam. Dengan kesal Siena mendekati Aaron dan menghapus jejak lipstik di sekitar bibir Aaron. Tring! Sampai pintu lift berbunyi dan terbuka, Siena menjauhkan tubuhnya dari Aaron dan membenarkan penampilannya. Ia juga menaikkan leher bluse nya agar Aaron tidak marah-marah lagi karena dirinya menampakkan dadanya. Aaron dan Siena berjalan melewati koridor untuk menuju ruangan Aaron. Beberapa karyawan wanita maupun pria yang berpapasan dengan mereka menunduk hormat dan menyapa Aaron dengan sopan. "Selamat pagi, Presdir,” sapa salah satu karyawan pria. Pria itu melirik Siena dan tersenyum sopan dengan wajah canggung, sedangkan Siena balas tersenyum. "Aku tidak suka kau tersenyum pada mereka,” gumam Aaron setelah karyawan itu pergi. Siena mendengus kembali sambil memutar bola matanya sebal. Bagaimana bisa hanya tersenyum pada sesama karyawan saja ia tak boleh. Aaron pria yang sangat merepotkan, dan hidupnya dibuat rumit. Begitulah apa yang Siena pikirkan. "Ya, ya. Terserah kau saja,” balas Siena sebal. Aaron membawa Siena masuk ke sebuah ruangan yang dibatasi kaca, didalam ruangan itu ada satu meja kerja dan seperangkat komputer. Ada pintu lainnya, yang merupakan ruangan Aaron. "Ini meja kerjamu, dan itu ruanganku,” jelas Aaron. Siena mengangguk dan berjalan ke balik meja kerjanya yang baru, sedangkan Aaron langsung masuk ke ruangannya tanpa menoleh lagi pada Siena. Setelah Aaron masuk, Siena menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. "Bagaimana bisa seorang arsitek sepertiku harus menjadi sekretaris seorang Presiden direktur? Kau lucu sekali, Siena Lovey.” Siena bergumam sendiri. Saat Siena mengambil cermin dan lipstiknya, memulaskan kembali lipstiknya yang dirusak Aaron, tiba-tiba pintu ruanganya dibuka dari luar. Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja biru dan celana kain masuk, menghampiri meja Siena dan mengejutkannya. "Dimana Aaron?" tanya pria itu. Siena terkejut dan buru-buru menyembunyikan cermin dan lipstiknya kemudian menunduk hormat pada pria di depannya. Saat ia menegakkan kembali tubuhnya, hampir saja Siena tersedak ludahnya sendiri, melihat seorang pria berusia 60 tahunan dengan rambut putih dan setengah botak sedang menatapnya tajam. Siena sangat hapal tatapan tajam dan mata hijau pria itu, sama seperti Aaron. Tapi tatapan Aaron lebih tajam dan menggoda, begitulah menurut Siena yang sempat-sempatnya berpikir mengenai Aaron. "Presdir berada di ruangannya,” jawabnya dengan nada anggun yang sopan. Pria itu adalah ayah Aaron, pemilik Ackerley group yang sesungguhnya. Meski penampilannya tidak seperti pemilik perusahaan besar, tapi tuan besar Ackerley sangat dihormati. "Kau adik dari menantuku kan? Aku pernah melihatmu saat pernikahan Kiara dan Aaron,” katanya sambil menatap Siena,” "Benar, saya Siena Lovey,” balas Siena sopan. Sesungguhnya Siena merasa sedikit cemas pada ayah Aaron, takut ayah mertua dari kakaknya itu mengetahui sesuatu. "Kau seorang Arsitek kan? Bagaimana bisa kau menjadi sekretaris Aaron?" "Saya, saya berhenti dari kantor Arsitetkur, jadi Mr. Aaron memberikan saya kesempatan untuk menjadi sekretarisnya,” jelas Siena. Pria itu memicingkan matanya tajam. "Bukan karena sesuatu yang lain kan?" Siena menelan ludahnya dan merutuk dalam hati. "Sama sekali bukan. Ini semua karena Mr. Aaron tahu saya baru saja dipecat dan kecelakaan di New York.” Bagus Siena, kau penipu ulung sekarang. Ringisnya dalam hati. "Baiklah, sepertinya kau memang bisa diandalkan oleh Aaron. Atau Aaron bisa juga membantu adik iparnya untuk memulai karir.” ayah Aaron menganggukkan kepalanya paham. Kemudian pria tua itu berjalan meninggalkan Siena dan masuk ke ruangan Aaron. Siena menghembuskan napasnya lega dan duduk si kursinya sambil memandang pintu ruangan Aaron. Dia mulai cemas ayah Aaron mengetahui sesuatu. Siena mulai bersiap akan bekerja, dia membuka-buka berkas yang ada di atas mejanya, tangannya berhenti saat melihat salah satu berkas dari divisi keuangan. Tangannya membuka-buka berkas itu, kemudian matanya membulat saat melihat perincian pengeluaran perusahaan minggu lalu. Ia diam membaca laporan itu sampai selesai dan kemudian memekik kecil dalam hati. "Transfer sejumlah uang dari uang perusahaan ke rekening atas nama Siena Lovey. Aaron menggunakan uang perusahaan untuk membelikanku barang-barang mewah,” Siena menoleh ke pintu ruangan Aaron yang masih tertutup kemudian berjalan ke mesin foto kopi. Siena mengkopi berkas-berkas pengeluaran perusahaan yang seharusnya menjadi rahasia perusahaan. Siena mencium kertas kopian itu dengan wajah senang dan mata coklat keemasannya berpendar misterius. Ia menyelipkan kertasnya ke dalam tas tangannya. Kemudian bangun membawa berkas-berkas yang akan Aaron tanda tangani. Siena mengetuk pintu pelan dan membukanya setelah mendapat sahutan dari dalam. Ia berjalan ke meja Aaron dan memberikan berkas-berkas di tangannya. "Ini laporan keuangan yang harus Anda tanda tangani, Presdir,” ujar Siena dengan suara lembutnya. Aaron menatap Siena dengan dingin, sedangkan Siena mengedipkan sebelah matanya, menjulurkan lidahnya untuk menjilat bibir merahnya, bermaksud menggoda Aaron. Sedangkan Siena tahu di sofa ruangan Aaron, ada ayah Aaron. Aaron hanya menggeram samar mendapat godaan dari Siena. Setelahnya Siena kembali berbalik untuk kembali ke ruangannya. Sebelum keluar ia membungkuk singkat pada ayah Aaron. (^¤^)(^¤^) Jam sudah menunjukan pukul 7 malam saat Siena menyelesaikan pekerjaannya kemudian bangun dan membawa berkas yang harus ditanda tangani Aaron. Ia harus lembur, karena ternyata Aaron pria yang gila kerja. Siena berjalan menuju ruangan Aaron. Saat ia membuka pintu, seseorang langsung menarik tanganya membuat Siena hampir kehilangan keseimbangan dan heels nya hampir patah. "Uhh.” Siena mengerang dan memukul d**a bidang Aaron yang kokoh. Ia mencoba melepaskan bibirnya yang sedang dikulum oleh Aaron, dan tangan-tangan besar Aaron meremas dadanya, yang sangat Aaron sukai. Aaron melepaskan ciumannya pada bibir Siena dan merengkuh pinggangnya yang ramping. "Seharian ini rasanya aku nyaris gila. Aku dekat denganmu tapi tidak bisa menyentuhmu, Siena,” Aaron berbisik di telinganya dengan suara beratnya. Siena melenguh pelan saat napas hangat Aaron menerpa lehernya dan menjilatinya. "Aaron lepaskan. Aku ingin segera pulang dan beristirahat, kau tidak tahu ya bahkan bibirku masih sakit.” Siena mendorong tubuh Aaron dan menjauh. "Cepat tanda tangani ini dan kita pulang,” lanjutnya. "Oke, oke. Kita pulang sekarang.” Aaron merebut berkas ditangan Siena dan menaruhnya di meja kerjanya. Aaron meraih tangan Siena mengajaknya untuk keluar dari ruangannya. Tiba diluar, Aaron berjalan terlebih dahulu dan meninggalkan Siena di belakangnya, karena masih ada beberapa karyawan yang lembur. Mereka tak mungkin terlihat bergandengan tangan. Tiba didepan lift, mereka langsung masuk begitu pintu lift terbuka. Aaron memasukan kedua tangannya di saku celana, sedangkan Siena bersandar di dinding lift. Tring! Ada satu pesan masuk ke ponsel Siena. Dengan cepat gadis itu merogoh tasnya, membukanya dan mengerutkan dahinya. Andrew: Siena, kau baik-baik saja? Aku sangat mencemaskanmu. Aku dengar kau sudah kembali ke London. Aku akan ke sana beberapa minggu lagi. Andrew. Siena menahan napasnya sebentar sebelum jari-jarinya bergerak lincah diatas layar ponsel, untuk membalas pesan Andrew. Siena: Kau tak usah cemas, aku baik-baik saja. Pintu lift terbuka, Aaron berjalan terlebih dahulu meninggalkan Siena. Dengan buru-buru Siena memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, ia berjalan di belakang Aaron. Lobi perusahaan terlihat masih ramai karena masih banyak karyawan yang harus lembur. Ketika Aaron dan Siena tiba di depan pintu, mobil mewah Aaron sudah terparkir dengan sang supir yang siap membuka pintu. "Aku pulang naik taksi saja,” ucap Siena pelan dan bersiap meninggalkan Aaron. Namun pria itu menginterupsinya. "Kau pulang saja membawa mobil kantor. Aku yang akan menyetir dan pulang bersama Siena,” titah Aaron pada supirnya. Tanpa mendengarkan ucapan Siena, Aaron langsung masuk ke bagian pengemudi. Ia membuka kacanya dan menatap Siena dengan tajam, tatapan yang tak ingin dibantah. Dengan terpaksa Siena harus masuk ke kursi penumpang. Beberapa karyawan yang melihat hal itu terus memperhatikan Siena yang masuk mobil Aaron. Aaron pun menjalankan mobilnya meninggalkan perusahaan. "Aku kan sudah bilang akan pulang dengan taksi.” Siena menggerutu sambil menyandarkan tubuhnya dan memalingkan wajahnya. Menatap pada gedung-gedung dan gemerlap jalanan kota London yang tak akan pernah padam. "Diamlah. Aku hanya sedang ingin menikmati waktu berdua denganmu.” Aaron menimpali dengan nada dingin. "Ini sudah malam, ada Kiara yang sedang menunggu dirimu untuk pulang lalu tidur sambil memeluknya. Bukan menghabiskan waktu bersama wanita simpananmu,” tukas Siena. "Aku hanya sedang membagi waktu antara istriku dan kekasihku,” balas Aaron lagi dengan nada yang rendah. Siena berdecih sebal dan malas. "Kekasih? Yang kau maksud adalah aku? Ingat Aaron, aku bukan kekasihmu tapi aku wanita simpananmu.” "Diamlah Siena, kau terlalu berisik akhir-akhir ini.” Aaron menggeram kesal. Ia mengeratkan genggamannya di setir dan tatapannya melirik Siena dengan kesal. "Dasar egois.” Siena kembali membuang tatapannya ke luar Setelah beberapa saat di perjalanan tiba-tiba Aaron membelokkan mobilnya ke sebuah taman kota yang masih sangat ramai dikunjungi. Aaron membawa mobilnya ke pojokan yang lebih sepi kemudian menghentikannya. Lagi-lagi Siena mengerut heran, karena Aaron kembali berbuat sesuka hatinya tanpa mempedulikan Siena. Padahal ia ingin segera pulang, istirahat dan tidur. Siena baru saja akan marah, namun ia urungkan saat melihat Aaron menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Mata hijaunya tertutup, dan raut wajahnya terlihat lelah. Meskipun Aaron menyebalkan, tapi jika dia kelelahan, Siena tak tega mengganggunya. Jari-jari ramping Siena yang berkuteks merah meraih rahang Aaron, mengusapnya dengan lembut. Merasakan janggut-janggut halus yang belum Aaron cukur bersih. "Kau nampak lelah,” bisik Siena. Tangan Aaron memegang tangan Siena dan menciumnya. "Siena, mungkin selama ini aku memperlakukanmu dengan buruk. Aku minta maaf untuk minggu lalu," ujar Aaron. Siena memperhatikan Aaron yang masih memejamkan matanya dan menciumi punggung tangannya. "Mendengar mantan kekasihmu kembali dan kau pernah keguguran, aku merasa takut kehilanganmu. Kau harus tahu, bahwa aku sangat takut kehilanganmu lagi,” lanjutnya. "Aku tidak mengerti apa maksudmu, Aaron.” Aaron membuka matanya dan tiba-tiba menarik tangan Siena, membawa tubuh mungil gadis itu dalam dekapannya. Menciumi kepalanya dengan lembut, tangan-tangan Aaron juga mengusap punggung Siena. "Aku tidak suka anak kecil, Sien. Aku membenci anak-anak. Aku bahkan takut kau akan meninggalkanku,” bisiknya diatas kepala Siena. "Kau sangat hangat, dan aku suka memelukmu.” Siena membelalakkan matanya, ia tak percaya mendengar Aaron mengatakan bahwa ia membenci anak kecil. Bagaimana bisa ada pria seperti Aaron, semua pria bahkan ingin menjadi ayah, tapi Aaron sungguh berbeda. "Kau membenci anak-anak? Kenapa?" bisik Siena. Hening sesaat, Aaron nampak ragu untuk mengatakannya. "Aku hanya tidak suka keributan dari mulut anak-anak,” Alasan yang diberikan Aaron membuat Siena tak percaya, ia yakin ada hal lain yang membuat Aaron membenci anak-anak. Aaron melepaskan pelukannya kemudian menatap Siena dalam-dalam. Mata hijaunya yang tajam dan seksi, menatap dalam pada mata cokelat keemasan yang sayu milik Siena. "Kau mau menjadi kekasihku, kan? Meski kau wanita simpananku, tapi kau bukan pelacurku, kau kekasihku, meski kekasih gelap. Kau mau kan?" "A-apa?" Siena membulatkan bibir dan matanya. "Tapi Kiara––" "Sstt ... Jangan pedulikan apa pun mengenai Kiara, kau dan Kiara mempunyai posisi yang berbeda. Aku sangat menginginkanmu, Siena,” "Tapi dia kakakku, Aaron,” balas Siena dengan suara berbisik seraya membuang tatapannya. "Apa karena kau mencintaiku?" Aaron bergeming, ia diam dan membalikkan wajah Siena agar bertatapan dengannya. "Jangan tanyakan apa pun mengenai cinta, karena aku tak suka.” "Yah, aku tahu kau hanya menginginkan tubuhku.” Siena kembali membuang wajahnya dengan tatapan sendu, ia menjauhi Aaron dan menatap pada sekumpulan anak muda yang sedang bernyanyi sambil main gitar di taman. Ia ingin merasakan cinta dari Aaron, mendapatkan tempat khusus di hati Aaron. Tapi sayangnya tempat itu sudah ada Kiara. Kiara dan Siena adalah wanita baik-baik, seharusnya mereka tak mendapatkan pria sebrengsek Aaron. Begitulah apa yang ada dibenak Siena. Aaron menarik kembali tubuh Siena kemudian mencium bibirnya, membuat Siena terkesiap dari lamunan singkatnya, saat merasakan bibir Aaron yang hangat sedang menyesap bibirnya dengan lembut. Siena tak menolak, ia justru menikmati sesapan bibir Aaron. Ciuman Aaron begitu lembut dan hangat, terasa manis bagi Siena. Siena membalas ciuman Aaron, dan mereka berciuman dengan lembut. "Bibirmu selalu manis, Siena,” bisik Aaron tepat di depan bibir Siena saat ia melepaskannya. Aaron menarik tubuh Siena dan memundurkan tubuhnya agar Siena duduk di kursinya yang dia sisakan ditengahi kedua pahanya. Siena menurut dan ia meringkuk dalam dekapan hangat Aaron, menyandarkan kepalanya di d**a bidang yang kokoh itu. Menghirup wangi mint bercampur kayu-kayuan yang khas di tubuh Aaron. "Apa kau mau menjadi kekasihku?" tanya Aaron lagi, sedangkan Siena hanya menggeliat pelan. "Hanya kekasih gelap kan? Jika memang itu menjadikan hubungan kita baik-baik saja, aku akan terima,” balas Siena. Aaron mengangguk dan menciumi kepala Siena, mendekap gadis itu semakin dalam. Biarkan malam ini Siena menikmati rasanya dimanjakan layaknya kekasih oleh Aaron. Diam-diam tanpa diketahui Aaron, Siena sedikit menarik sudut bibirnya membentuk seringai samar. Tatapan matanya berkilat dan ia bertekad akan membuat Aaron bertekuk lutut dan semakin jatuh pada pesonanya. (^¤^)(^¤^)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD