Chapter 19

1865 Words
Siena dan Aaron keluar dari mobil, setelah selama dua jam mereka menikmati waktu bersama, saling berpelukan dan berciuman hangat, di sebuah taman kota. Siena melangkahkan kakinya menuju teras rumah besar Aaron. Rumah itu sangat besar jika hanya diisi oleh Aaron dan Kiara juga beberapa asisten rumah tangga. Rumah besar dengan teras tinggi dan pilar-pilar yang besar dan kokoh. Di depan ada taman kecil dengan lampu-lampu taman yang menerangi. "Apa kalian lembur?" Kiara muncul dari dalam rumah dan menunggu di teras. Siena tersenyum dan mengangguk, ia berbohong kembali pada Kiara. Setelah sampai di depan Kiara, Siena mencium pipinya pelan kemudian berlalu untuk segera masuk. Di pintu, Siena menoleh untuk melihat Aaron yang sedang memeluk pinggang Kiara dan mengecup bibirnya. Kedua tangannya saling mengepal, tatapannya tak suka, namun ia sadar bahwa Kiara adalah istri sah Aaron. Hanya saja melihat bibir seksi Aaron yang selalu menciumnya, kini mencium Kiara. Siena meneruskan langkahnya tanpa menoleh lagi, tanpa ia ketahui Aaron menyeringai melihatnya kesal. Siena tinggal di lantai bawah sedangkan lantai atas adalah kamar Aaron dan Kiara. Ia sengaja tak ingin satu lantai dan bersebelahan dengan kamar mereka. Jika Aaron dan Kiara melakukan sesuatu yang intim maka Siena akan mendengarnya. Setelah tiba di dalam kamar, Siena langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, merentangkan kedua tangannya dengan mata terpejam. Rasa lelah seperti menggerogoti dirinya sampai ke tulang. Bukan hanya lelah fisik namun juga lelah hati. Bagaimana ia bisa satu rumah dengan Kiara dan Aaron. Itu konyol. Kepalanya diisi oleh Aaron, Aaron dan Aaron. Ia memikirkan bagaimana hubungan mereka ke depannya. Tak mungkin mereka terus bersembunyi dan menjalin kasih secara diam-diam seumur hidup. Tapi jika ia meninggalkan Aaron, entah bagaimana hatinya memberat. Dan apa yang akan Aaron lakukan pastilah hal gila. "Aku harus mencari apartemen secepatnya. Aku tak ingin terus tinggal bersama mereka,” gumam Siena seraya membuka matanya. Rumah orang tua Siena di London dalam keadaan kosong, karena kedua orang tuanya pindah ke desa. Jika ia tinggal disana, ketika Aaron datang mengunjunginya maka tetangganya akan tahu. "Aku tidak boleh tinggal di rumah mom dan dad, Kiara akan tahu bahwa suaminya selalu pulang bersamaku,” gumamnya lagi. Siena bangun, melepaskan stiletto-nya dan melemparkannya dengan asal ke lantai. Ia juga melepaskan ikatan di rambutnya yang ia ikat di mobil Aaron, hingga tergerai. Melepaskan blusnya dan juga roknya, hingga kini Siena hanya mengenakan bra dan celana dalam. Ia meregangkan otot-otot di tubuhnya yang kaku dan sakit. Siena akan melangkah ke kamarnya ketika ponselnya berdering pertanda telpon masuk. Dengan kesal Siena meraih tasnya diatas kasur dan mengambil ponselnya. Dahinya mengerut saat melihat si penelpon. Tanpa buang waktu ia mengangkatnya. "Hallo?" "Siena. Aku dengar kau menjadi sekretaris Mr. Ackerley? Bagaimana bisa? Kenapa kau tidak bekerja saja padaku? Aku akan menempatkanmu sebagai kepala tim arsitek di perusahaanku.” Suara berat seorang pria menyapa pendengaran Siena. "Andrew hentikan. Kita sudah berakhir, oke.” Siena membalas dengan pelan. "Tapi, Sien, aku sungguh-sungguh saat aku mengatakan ingin kembali padamu. Aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik dari sebelumnya. Aku––" "Andrew dengar, kau adalah pria baik dan kau selalu memperlakukanku dengan baik. Carilah perempuan baik-baik yang cocok mendampingimu.” "Tapi aku hanya menginginkanmu.” Andrew membalas dengan kukuh. Siena mendengus kecil dan memijit kepalanya yang berdenyut, menghadapi dua pria tampan yang sama-sama egois. Baginya Andrew pun tak kalah egois dari Aaron. Hanya saja bedanya Andrew adalah pria baik-baik bagi Siena, bukan pria b******k macam Aaron. Andrew jelas masih mengharapkannya dan menjanjikan sebuah hubungan yang pasti, namun Siena tak ingin meninggalkan Aaron. Meski Aaron hanya memberikannya harapan semu. Kini Siena dilema, antara memilih Aaron yang jelas pria yang sudah merebut segalanya dari dirinya, atau Andrew yang merupakan mantan kekasihnya yang pernah meninggalkannya. "Cukup Andrew! Aku sudah memiliki kekasih, mengertilah,” "Aku tidak percaya selama kau tidak mengenalkan kekasihmu secara resmi padaku.” Andrew pun membalas tak mau kalah dengan suara yang bagi Siena sangat menyebalkan. Oh ya Tuhan. Kenapa aku selalu bertemu pria egois, gerutu Siena dalam hati. "Terserah kau, Andrew.” Siena memijit kepalanya pelan dan mematikan teleponnya kemudian melemparkan ponsel berwarna rose-nya ke atas ranjang. Siena mendudukkan kembali tubuhnya diatas kasur. Ia merenung dan memikirkan sesuatu. "Jika Aaron tak mencintaiku, tidak seharusnya dia marah besar saat aku ingin menyerah dan dengan kedatangan Andrew. Aku hanya wanita simpanannya, tidak seharusnya dia tak ingin kehilanganku, seharusnya dia bersikap seperti itu pada Kiara. Aaron juga membenci anak-anak. Kenapa?" Siena bergumam dengan pikiran berkelana dengan kemungkinan-kemungkinan yang ia punya. "Aaron sering mengubah-ubah tingkah lakunya, dia baru saja menyakitiku, tapi dia meminta maaf padaku dan tak ingin aku pergi. Keesokannya dia bersikap dingin dan menyebalkan, malamnya dia berubah romantis dan menjadikanku kekasihnya,” lanjutnya. Siena mengerutkan keningnya berpikir keras. "Apa dia pernah menikah sebelumnya dan istrinya mati saat melahirkan? Atau dia ... tidak, tidak. Jangan berpikiran yang macam-macam, Siena.” Siena menggelengkan kepalanya. Ia bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan hanya mengenakan bra dan celana dalam. Di kamar mandi Siena segera menyalakan kran dan memenuhi bathtub, ia mencelupkan kakinya dan seluruh tubuhnya. Merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya. "Aahh, rasanya nyaman sekali,” ujarnya sambil menghela napas lega, merasakan air hangat dengan aromaterapi seakan memijat tubuhnya. Siena mulai memejamkan kembali matanya, ia bahkan tak melepaskan bra dan celana dalamnya. Kenyamanan dari air hangat dan aromaterapi membuat Siena sedikit terlelap dan tanpa sadar ia tertidur. Suara pintu kamar mandi terbuka, tak membangunkan Siena sama sekali. Satu sosok masuk, dalam pakaian santainya, mendekati Siena dengan pelan dan tatapan tajamnya menghujam tubuh Siena di dalam bathtub. Seperti seekor serigala pengintai, dan geramannya sedikit terdengar. Sosok itu adalah Aaron yang sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Ia mengunci pintu kamar mandi kemudian mendekati Siena kembali. Aaron memasukan tubuhnya ke dalam bathtub dengan pelan, tangan besarnya meraih leher Siena yang bersandar dengan mata terpejam dan napas teratur. Siena masih belum juga terbangun, Aaron pun menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Siena. Kecupan kecil tak membangunkan Siena, wajahnya nampak kelelahan, namun Aaron melumat bibirnya. Memberikan sentuhan lebih di tubuh Siena. "Uughh.” Siena mengerang dan perlahan membuka matanya. "Aaron?!" Ia memekik kecil saat kesadarannya sepenuhnya kembali dan melihat Aaron sedang berendam bersamanya sambil melumat bibirnya. Aaron melepaskan ciumannya dan menjauhkan tubuhnya, tapi masih berendam bersama Siena. Tatapan datarnya menghujam Siena seperti akan marah namun ditahan. "Kau ingin bunuh diri? Kau ingin mati dan meninggalkan aku?" desis Aaron dengan suara berat. Siena mengerutkan dahinya tak mengerti. "Aku baru saja tertidur dan kau datang,” balas Siena. "Bisa saja sewaktu-waktu kau tenggelam dan mati.” Aaron masih mendesis. Siena memutar bola matanya sebal, ia akan bangun untuk menyudahi berendamnya. Aaron pun ikut bangun, tapi malah membuka kaos dan celananya hingga telanjang bulat. Siena yang sedang menyalakan shower membulatkan matanya tak percaya. "Aaron! Disini ada Kiara.” Siena memekik kecil dan menatap pintu kamar mandi. "Kiara baru saja tidur,” balas Aaron. Tatapan tajamnya mengintai Siena, dari atas sampai bawah. Dari kaki jenjangnya naik ke pinggul dan b****g sekalnya kemudian naik ke p******a bulatnya yang berbalut bra. "Kau memberinya obat tidur lagi?" Siena menyipitkan matanya. Aaron terkekeh dan mendekati Siena dengan langkah pelan dan berbahaya. Tangan-tangan besarnya meraih tubuh Siena dan merapatkannya dengan tubuhnya. Bibir seksinya yang sedikit tebal menciumi rahang Siena, merambat sampai ke sudut bibirnya kemudian mencari-cari bibir Siena dan memagutnya. Siena menopangkan kedua tangannya ke leher Aaron, untuk menahan tubuhnya. Matanya terpejam dengan bibir yang terbuka, dilumat oleh Aaron. Lidah hangat Aaron masuk dan menggoda mulut Siena, mengecupnya kemudian memberikan ciuman yang lebih dalam. “Aaron, disini ada Kiara.” "Dia tidak akan terbangun,” Aaron berbisik dan menyandarkan tubuhnya di pinggir bathtub. Tangannya menarik tubuh Siena untuk mendekat. Karena godaan Aaron yang membuat tubuhnya terbakar dalam gairah, Siena menurut saat tangan Aaron mengangkat pinggangnya ke atas, kemudian memposisikannya diatas pangkuannya. Rasa menggelitik dari tubuh besar Aaron membuat Siena menggelinjang dan menahan desahannya. Siena menyandarkan tubuhnya di d**a kekar Aaron, kepalanya ia sampirkan di bahu kokohnya. Sedangkan Aaron sedang menciumi bahu Siena, kedua tangannya menggoda tubuh Siena dengan sensual, menggodanya dan memainkannya. "A-aron.” Siena mendesah pelan dengan mata tertutup dan mulut terbuka. Kedua tangannya mengerat tangan Aaron di dadanya. Bibir hangat Aaron menelusuri bahu telanjang Siena, naik ke lehernya dan rahangnya. Kemudian menciumnya dengan lembut mendapatkan godaan di tubuhnya sekaligus membuat Siena menggila. Dengan wajah misteriusnya, Aaron menaikkan tubuh Siena, menyentuh tubuhnya yang membuat Siena hampir menjerit. Tangan lentiknya dengan kuku berkuteks merah, Siena mencakar tangan Aaron karena tak kuasa menahan godaan Aaron. Aaron masih menggoda tubuh Siena. Ia hanya diam, mengambil spon dan sabun cair. Menuangkan sabunnya pada bahu Siena, membelainya dengan spon sampai ke punggung halus Siena. Sedangkan Siena masih mengatur napasnya, wajahnya sudah memerah dan matanya sayu dengan rambut panjangnya yang berantakan. "Apa Kiara tak akan bangun?" bisik Siena. "Kiara tidak akan tahu, rumah ini kedap suara jadi dia tak akan bangun hanya mendengar suara desahanmu yang seksi,” bisik Aaron di telinga Siena, dengan tangan yang mengusap bahu sempitnya sampai ke dadanya. "Aaron, aku rasa ayahmu mengetahui hubungan kita,” ujar Siena. Aaron menaikkan sebelah alisnya, mata hijaunya yang tajam menatap dan membalikkan wajah Siena agar menoleh padanya. "Bagaimana kau tahu dia mengetahuinya?" Siena balas menatap mata tajam Aaron. "Tadi siang kami bertemu, dia mengatakan aku menjadi sekretarismu bukan karena sesuatu. Aku pikir dia sudah menaruh curiga,” Aaron mengecup bibir Siena kemudian kembali mengusap tubuh putihnya yang sangat mulus dengan spon mandi. "Jangan pedulikan orang tua itu, dia tak berhak ikut campur meski aku mengumumkanmu sebagai simpananku.” "Memangnya kau berani mengumumkanku sebagai simpananmu?” Siena mencibir. "Tentu saja, sayang,” bisik Aaron sambil mendorong pinggulnya. "Aaron sial!" Siena mengerang terkejut karena Aaron tiba-tiba menggerakkan pinggul nya. "Ugh! A-aron!" Siena kembali mengerang, ia menutup mulutnya agar tak mengerang keras. Tuk. Tuk. Tuk. Siena membulatkan matanya dan wajahnya berubah pucat pasi dan panik saat terdengar suara langkah kaki dari luar kamar mandi, suaranya seperti mengelilingi kamar yang ditempati Siena. Itu suara langkah seorang wanita, dan Siena sadar. Dari belakang tubuhnya Aaron menutup bibir Siena agar tak bersuara. "Siena? Kau dimana, Sien?" Suara panggilan dari luar kamar mandi menyapa mereka, dan itu suara Kiara. Aaron melepaskan tangannya dari bibir Siena dan berbisik. "Katakan kau sedang mandi.” "A-aku sedang mandi, Kiara. Ada apa?" sahut Siena dari dalam dengan suara yang ia buat normal. Wajah Siena sudah memerah, ia menggigit bibirnya dengan kuat agar Kiara tak curiga. "Kau melihat suamiku? Aaron tak ada di kamar saat aku terbangun,” tanya Kiara lagi. Siena merutuk dalam hati karena kelakuan Aaron yang b******k. Bagaimana bisa dia meninggalkan istrinya dan menemui dirinya yang sedang mandi. "Ti-tidak! Aku tidak tahu, mungkin di ruang kerjanya,” balas Siena lagi. Matanya sudah berair siap menurunkan air mata, karena merasa tak kuat dengan godaan Aaron pada tubuhnya, dan juga rasa bersalahnya pada Kiara. "Baiklah. Kau jangan terlalu lama berendam, nanti sakit.” Terdengar sahutan lagi dari Kiara bersamaan dengan langkah kaki yang menjauh. Siena menggigit bibirnya dan menurunkan air matanya hingga mengalir di pipinya. Ia melemaskan bahunya dan menyandarkan tubuhnya pada d**a Aaron. "Aku sangat jahat pada Kiara,” bisik Siena.” Apa kau tak merasa bersalah pada Kiara?" tanya Siena sambil mengusap air matanya. "Tidak,” jawab Aaron dengan suara rendah dan berat, membuat Siena bungkam. (^¤^)(^¤^)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD