Siena terduduk di depan meja rias dengan tatapan setengah kosong nya. Tangannya terus menyisir rambut hitamnya yang panjang, dengan poni depannya. Matanya bergerak redup menatap pantulan wajahnya yang cantik tanpa make up. Sambil menghela napas, Siena mengambil bedak dan menepuk-nepuk wajahnya yang putih mulus. Kebanyakan wanita Inggris memiliki kulit putih yang berbintik merah, tapi wajah Siena sangat mulus, hanya tahi lalat kecil dibawah mata kirinya.
Ia mengambil kuas eyebrow, karena rambutnya hitam maka alisnya pun diwarnai gelap. Memakai maskara dan memulaskan lipstik merah terang di bibirnya. Wajah Siena terlihat fresh dan dewasa. Ia akan merubah sedikit demi sedikit kesan polos di wajahnya yang selama ini menjadi identitasnya.
Setelah selesai Siena mengambil stiletto merahnya. Ia mengenakan peplum blouse dan rok span dengan stocking hitam. Sebelum melangkah gadis itu menghela napasnya pelan kemudian menatap kembali pantulan dirinya.
"Bagaimana aku harus bersikap pada Kiara?" bisiknya pada pantulan dirinya sendiri dengan tatapan sayu.
Siena teringat sesuatu, ia mengambil kertas dari dalam tasnya kemudian memandangnya. "Disatu sisi aku tak ingin Kiara tahu, tapi di sisi lain aku ingin Kiara tahu bahwa suaminya sangat b******k,” gumamnya seraya menaruh kertas laporan keuangan perusahaan di laci nakas.
Sambil memantapkan hatinya, Siena membawa langkahnya keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke ruang makan untuk sarapan bersama Kiara dan Aaron. Meski rasanya tidak mau bertemu dengan Kiara dan Aaron dalam satu meja makan.
Gadis itu mengulas senyumnya pada Kiara yang sudah duduk disamping Aaron. Sedangkan Aaron hanya diam tanpa kata dengan wajah yang tanpa ekspresi sambil membaca koran bisnis.
"Morning,” sapa Siena.
"Morning, Siena. Kau terlihat tak semangat, ada apa?" tanya Kiara tanpa merasa curiga sama sekali.
"Ah tidak, aku hanya merasa sedang tak enak badan saja,” balasnya seraya melirik Aaron sesaat. Namun Aaron fokus dengan korannya, mata hijau seksinya melirik Siena sesaat.
Siena menahan senyumannya yang akan meledak saat melihat bagaimana Aaron membaca koran, padahal ia tahu Aaron orang yang tak suka membaca koran.
"Sayang, koranmu terbalik,” kata Kiara menepuk Aaron dan memberitahukan bahwa korannya terbalik.
"Ehem.” Siena berdeham dan menahan tawanya melihat Aaron menaruh korannya terbalik. Ia tahu, ternyata Aaron hanya pura-pura membaca koran.
"Tapi bagian dalamnya tak terbalik,” kata Aaron membual.
Dasar pembual, gerutu Siena dalam hati.
Tiga orang pelayan mendorong troli makanan untuk dihidangkan di meja makan. Melihat tiga orang pelayan di rumah ini Siena merasa iri pada Kiara, karena Aaron benar-benar memanjakannya dan menjadikanya nyonya muda Ackerley yang kaya raya. Bahkan Kiara tak perlu repot-repot masak.
Setelah semuanya tersaji, Siena langsung memakan sarapannya begitupun dengan Kiara dan Aaron.
"Honey, aku ingin memiliki butik sendiri,” celetuk Kiara tiba-tiba.
Aaron tak menggubris sedangkan Siena menatap Kiara heran. Padahal ia tahu Aaron tak menyukai percakapan di meja makan.
"Lakukan sesukamu,” balas Aaron singkat.
Kiara mengulum senyumnya dan mengangguk kemudian wanita itu melirik Siena. "Siena, akhirnya impianku memiliki butik akan terlaksana.”
Melihat wajah bahagia Kiara, membuat Siena tak ingin menghancurkan kebahagiannya. Namun bagaimanapun juga, ia tak mungkin meninggalkan Aaron.
"Aku juga akan mencari apartemen,” kata Siena.
"Kenapa? Memangnya kau tak nyaman tinggal disini? Apa ada yang membuatmu merasa tak nyaman?" tanya Kiara.
Ya, suamimu yang b******k membuatku tak nyaman. Bagaimana bisa aku tinggal dengan istri dari kekasihku. Siena membatin.
"Aku akan mencarikan apartemen yang dekat dengan kantor untukmu, agar kau tak terlalu jauh jika harus lembur,” Aaron ikut menimpali.
Dalam hati Siena bersorak, akhirnya Aaron menyetujuinya untuk pindah. Resiko hubungan mereka akan ketahuan memang lebih besar, jika mereka tinggal bersama.
"Aku sudah selesai,” Aaron bangun dan mengusap bibirnya dengan tisu.
Kiara pun menyudahi sarapannya dan ikut bangun. Aaron menarik pinggang sang istri kemudian mengecup bibirnya singkat di depan Siena. Hal itu membuat Siena kesal dan cemburu, tapi ia tak berhak cemburu.
Siena pun ikut bangun dan bersiap akan pergi ke kantor bersama Aaron.
(^¤^)
Tepat jam 12 siang waktunya makan siang, Siena masih berkutat dengan pekerjaannya kemudian menyelesaikannya. Ia merenggangkan otot-otot tangannya dan lehernya. Bangun dari duduknya dan membenahi pakaian juga roknya yang sedikit naik. Gadis itu berjalan ke ruangan Aaron yang masih tertutup rapat.
Ketika membuka pintunya, Aaron masih berkutat dengan pekerjaannya tanpa menoleh sedikitpun pada Siena.
"Apa kau akan duduk sepanjang hari? Bagaimana jika kita makan siang? Aku akan pergi keluar dan membawakanmu makan.” Siena berdiri di depan meja kerja Aaron, membungkukkan tubuhnya hingga kerah bajunya yang longgar ke bawah, menampilkan belahan dadanya.
"Tidak bisakah kau berpakaian yang lebih tertutup?" Aaron mendongakkan kepalanya. Tatapannya menajam dan tangannya mengerat bolpoin dengan erat.
Siena tersenyum dan mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. Ia bangun dan mengangguk pelan, melipat kedua tangannya di d**a.
"Jadi, kau mau makan siang?" tanya Siena lagi
"Aku lebih tertarik memakanmu,” balas Aaron.
"Dasar gila,” Siena menggerutu dan melepaskan tangannya kemudian bersiap akan keluar. "Baiklah, aku bawakan satu cangkir kopi dengan gula low calorie. Atau kau ingin cemilan?"
"Aku tak suka makan saat bekerja.”
"Oke, aku bawakan satu cangkir kopi.”
Kemudian Siena meninggalkan Aaron, keluar dari ruangan Aaron dan juga ruangannya. Ia berjalan di sepanjang koridor menuju pantri yang ada dilantai paling atas itu. Di koridor, Siena bertemu dengan beberapa karyawan yang menyapanya dengan ramah. Karena mereka tahu Siena sekertaris sekaligus adik ipar Aaron.
Ketika tiba di dekat sebuah ruangan yang merupakan pantri kantor, Siena mendekati seorang office boy dan bertanya.
"Apa ini ruang pantri? Dimana aku bisa membuat kopi untuk presdir?"
"Benar, bisa saya bantu untuk membuatkannya?"
"Oh, kalau begitu terima kasih.”
Siena mengikuti office boy itu masuk ke dalam pantri. Ia berdiri di dekat lemari gelas dan memperhatikan bagaimana office boy itu membuatkan kopi untuk Aaron.
"Gunakan sweetener low calorie, dua sendok teh saja,” perintah Siena yang diangguki oleh si office boy.
Siena masih berdiri memperhatikan ketika dua orang pria masuk ke dalam pantri, mereka berbincang dan tertawa karena bercanda. Sampai mereka melihat seorang gadis cantik berpakaian sekretaris sedang berdiri menunggu kopi.
Tanpa Siena sadari dua pria berambut pirang itu mendekatinya dan tersenyum jahil satu sama lain.
"Halo nona manis. Sepertinya kau pegawai baru di lantai ini ya?" pria dengan kemeja biru menghampiri Siena.
"Kami belum pernah melihatmu di kantor ini,” sambung pria satunya.
Siena melirik dua pria itu sesaat, karena ia merasa tak tertarik menjawab pertanyaan mereka. Bagi Siena tak ada tampannya sama sekali di wajah mereka. Bahkan yang satu bertubuh kurus.
"Sudah selesai nona.” Office boy itu memberikan nampan dengan cangkir kopi di atasnya yang sudah ditutup.
Siena tersenyum manis dan mengangguk. "Terima kasih,” katanya.
Tanpa mempedulikan dua pria itu, Siena berjalan membawa nampan dengan wajah biasa saja. Namun tanpa diduga dua pria itu menghadang jalannya ketika akan keluar, membuat Siena terkejut.
"Apa mau kalian?" tanya Siena dengan nada kesal.
"Wow! Nona ini jutek sekali.” Pria kurus menggelengkan kepalanya dengan matanya yang bergerak liar menatap tubuh Siena.
Pria yang satunya tersenyum pongah dan mendekati Siena, membuat Siena menjauh dengan sikap waspada.
"Kalian menghalangi jalanku, minggirlah,” katanya.
Dua pria itu saling bertatapan kemudian melemparkan tatapan nakal pada Siena, membuat gadis itu semakin marah. Melihat pada tubuh Siena yang ramping dengan pinggul seksinya. Salah satunya bersiul, dan satunya lagi mencekal lengan Siena.
"Lepaskan!" Siena menyentakkannya.
"Tidak akan sebelum kau katakan siapa namamu,” pria kurus bersiul kembali.
"Apa urusan kalian denganku?" Siena mendesis dan hampir hilang kesabaran. Ia yakin jika Aaron melihatnya pasti pria itu akan marah.
"Nona, jika kau tak ingin mengenalkan diri, biarkanlah kami para pria menyimpan nomor ponselmu. Aku selalu mengadakan pesta di apartemenku setiap akhir bulan, jika kau tertarik bisa bergabung bersama kami. Kami sangat hebat dan tangguh di ranjang,” pria dengan kemeja biru berbisik dengan tubuh dirapatkan pada Siena.
"Kurang ajar!" Siena berteriak kesal dan mendorong tubuh pria itu menjauh, namun sayangnya kopi diatas nampan tumpah mengenai pakaiannya. "Akh panas!" Siena menjerit panas dan melepaskan nampannya hingga terjatuh ke lantai
Seorang office boy di belakang tak bisa melakukan apapun bahkan hanya untuk membantu Siena dari dua pria penggoda itu.
"Oh! Pakaiannya basah,” goda salah satu diantara mereka.
"Satu, dua. Aku akan kehilangan dua pegawaiku hari ini,” suara rendah dan berat terdengar begitu mengintimidasi dan penuh bahaya dari ambang pintu.
Siena berjengit dan dua pria itu terkejut mendengarnya. Buru-buru mereka menoleh dan melihat Aaron dengan segala aura berbahaya dan seringai misteriusnya yang terlihat mengerikan. Aaron sedang berdiri menjulang di ambang pintu pantri.
Dua pria itu buru-buru menundukkan kepala mereka di hadapan Aaron, sedangkan Siena menghela napas lega dan membersihkan pakaiannya yang basah dan kotor.
"Kalian tahu siapa dia? Gadis yang baru saja kalian sentuh dan goda,” Aaron kembali berbicara. Suaranya kali ini terdengar semakin dalam dan penuh ancaman.
Tak ada yang menjawab satupun membuat Aaron merubah ekspresinya menjadi geram dan murka. Kedua tangannya saling mengepal dan rahangnya mengeras bahkan sampai menonjolkan urat-urat lehernya.
"Dia Siena Lovey, adik iparku dan juga sekretaris baruku,” desis Aaron yang bagai desisan ular.
Dua pria itu melebarkan mata mereka tak percaya, mereka mengangkat kepala dan berbalik melirik Siena yang masih membersihkan pakaiannya. Dengan wajah yang sudah memucat, mereka kembali menatap Aaron. Mereka tahu apa yang akan terjadi pada mereka jika sudah membuat Aaron marah.
"Aku pecat kalian tanpa uang sepeserpun. Mobil dan apartemen kalian aku sita untuk menutupi segala hutang kalian pada perusahaan. Silahkan tinggal di jalanan manapun yang kalian suka,” ujar Aaron. Suaranya bagai ultimatum yang tak bisa dibantah, begitu dingin dan tegas.
Siena yang mendengar hal itu pun terkejut, mata bulatnya melirik dua pria yang kini menjatuhkan diri mereka dan berlutut di hadapan Aaron. Semua orang mampu berlutut di hadapan seorang Aaron Ackerley, tapi seorang Aaron bahkan hanya mampu berlutut pada Siena. Melihat hal itu membuat Siena sedikit berbangga diri, melihat Aaron begitu tak suka dirinya disentuh pria lain.
"Presdir, maafkan kami. Kami tidak akan melakukan hal itu lagi.” Si pria kurus sudah berlutut dan menundukkan kepala, karena pesta yang selalu diadakannya akan musnah.
"Presdir kami mohon, kami sungguh tak tahu.” Pria satunya menimpali.
Tatapan tajam Aaron melirik Siena yang sedang menatapnya juga. Tanpa kata Aaron maju, menarik tangan Siena dengan kasar membuat gadis itu hampir tersandung.
"Akh!" Siena memekik terkejut.
"Presdir. Maafkan saya, jangan pecat saya dari perusahaan ini.” Si pria kurus menyentuh kaki Aaron.
Dengan tangan mengepal kuat dan sebelah memegang tangan Siena, Aaron mengibaskan kakinya dan menendang pria di bawahnya.
"Jangan sentuh aku, sialan,” desis Aaron kemudian pergi sambil menarik tangan Siena.
Disepanjang koridor menuju ruangan mereka, Aaron masih belum bersuara. Wajahnya begitu dingin dan tatapannya sangatlah tajam, seperti seolah-olah bisa menerkam siapa saja yang mengganggunya.
Sedangkan Siena sendiri masih diam tak menyahuti apapun. Mata bulatnya hanya mengerjap beberapa kali. Setidaknya Siena bersyukur bahwa lorong dalam keadaan kosong karena semua orang sedang pergi makan siang.
Tiba di ruangan mereka, Aaron membawa Siena masuk ke ruangannya. Lalu menghempaskan tangan Siena di genggamannya dengan kasar, membuat Siena tak mengerti dengan perlakuan Aaron.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa mereka sedang menggangguku?" Siena mendudukkan dirinya di meja kerja Aaron, sedangkan pria tampan itu mendudukkan dirinya di kursinya kembali.
Aaron memajukan tubuhnya. "Kau tak akan tahu, karena aku memiliki feeling itu. Aku membuka CCTV koridor sampai pantri.”
Oh! Sial. Aaron benar-benar sudah terobsesi pada Siena dengan begitu dalam. Ia tak menyangka seorang Aaron Ackerley bahkan sampai membuka CCTV hanya untuk memantaunya.
Siena menyeringai dengan wajah sedikit puas melihat Aaron begitu menjaganya dengan posesif. Aaron pun balas menatap Siena dengan tajam dan dalam, menyalurkan sebuah tatapan godaan.
"Ugh! Pakaianku kotor. Sepertinya aku akan membeli pakaian baru,” Siena menundukan kepalanya seraya membersihkan pakaiannya yang terkena tumpahan kopi.
Mata hijau tajamnya Aaron bergulir, menatap pada pakaian Siena yang nodanga tepat dibagian d**a. Tanpa diduga bibir tebalnya yang seksi menyeringai kecil. Menarik tangan Siena mendekat padanya dengan masih duduk di meja. Siena menurut sampai tubuhnya duduk didepan tubuh Aaron.
"Aku akan memerintahkan Sammy untuk membelikanmu pakaian baru,” bisik Siena.
"No, aku bisa pergi sendiri,” tukas Siena.
"Kau yakin akan keluar dengan pakaian kotor seperti itu?" tanya Aaron. Tangan besarnya menyentuh paha Siena dan merayap ke atas, semakin ke atas hingga ke perut Siena, membuat Siena tergelitik. Kemudian tangan Aaron menyentuh noda di pakaian Siena, tapi sedikit menekannya membuat Siena mengerang.
"Aahh.” Tangan Siena mencengkeram bahu Aaron ketika pria itu menyentuh dadanya. "Stop! Aku ingin makan siang.” Siena meraih tangan Aaron dan menggenggamnya.
Aaron mendongakkan wajahnya, menatap tepat di wajah cantik Siena. Tatapannya masih dingin dan penuh misteri. Tanpa mengindahkan ucapan Siena, Aaron kembali melanjutkan tangan-tangan nakalnya, mengangkat blouse yang digunakan Siena. Merayap ke dalam pakaiannya dan menyentuh d**a ranum Siena.
"Aaron!" Siena memperingati.
"Pakaianmu harus dilepas, sayang,” bisik Aaron.
Bukannya melepaskan pakaian Siena, Aaron justru mengangkat pakaian Siena dan memajukan wajahnya, mencium p******a Siena yang masih berbalut bra. Siena melengkungkan punggungnya dan meremas rambut Aaron dengan kuat.
"A-aron!" Siena mengerang. Merasakan bagaimana godaan lidah dan bibir seksi Aaron di dadanya. Menciumnya dengan lembut.
Aaron menciumi d**a Siena, merasakan wangi khas yang menguar dari tubuh Siena. Wangi parfum stroberi yang manis. Ia menyusupkan wajahnya diantara belahan d**a Siena, sebelah tangannya menggoda d**a kiri Siena, dan sebelah tangan lagi menekan punggung Siena. Menggoda gadis itu dengan kejam.
"Ughh!" Siena mengerang.
Tok. Tok. Tok.
"s**t!" Aaron mengumpat keras dan melepaskan wajahnya dari d**a Siena ketika terdengar ketukan dari luar.
(*0*)(*0*)