"Mas, kalau Nawa nanya sesuatu sama Mas boleh gak? Tapi Mas gak boleh marah" Aku hanya menatap Mas Adam yang tepat berdiri didepan cermin sembari juga ikut merapikan bahan-bahan kuliahku, melihat Mas Adam yang berdiri dengan fokusnya malah membuat aku semakin ingin bertanya. "Satu pertanyaan harganya 100 ribu" jawab Mas Adam dan tersenyum manis setelahnya, hah? Seriusan satu pertanyaan 100 ribu? Mending gak usah nanya sekalian. "Wuhu, bakat terpendam ya Mas, kalau harganya segitu mending gak jadi, gak makasih, kemahalan" "Mau nanyak apa sayang?" "Kenapa Mas bisa sahabatan sama Kak Zya? Maaf sebelumnya, bukan maksud Nawa lancang, tapi dari segi manapun Nawa coba mikir, Nawa tetap gak bisa nemuin alasan untuk kedekatan Mas sama Kak Zya, gak ada istilahnya sahabat antara laki-laki sama pe

