Broke

1002 Words
"Nona, ada sesuatu yang sudah terbaca."telfon Romeo pada Lisa. "Kita adakan rapat."ucap Lisa di taman belakang dan sesekali melihat sekeliling. "Saya masih belum yakin. Orang itu kemungkinan ada di SMA anda dan sedang menyamar atau sejenisnya." "Lakukan dengan cepat dan tepat. Kalau perlu besok kau menyamar menjadi siswa disana. Aku akan atur semua malam ini. Seragamnya akan dikirim pagi sekali."ucap Lisa sedikit resah. "Baik nona." Lisa kembali kekamarnya sambil memijit pelipisnya lelah. Tapi tenang saja, ia sudah mengaturnya. Apapun akan jadi mudah untuknya. Ia melihat Mona yang sudah terlelap di kasurnya. Ia mendesah dan menuju tempat tidurnya. Ia benar benar merindukan kakaknya. Keesokan harinya Mona dan Lisa duduk di Kantin yang sedang dipenuhi pelajar yang istirahat. Lisa dan Mona duduk sambil memakan baksonya. "Lis, gimana pendapat kamu tentang kak Dev?"tanya Mona menatap Devrio yang nangkring bersebelahan meja bersama teman temannya. "Cowok halu, pemaksa, playboy, kasar, badboy."ucap Lisa menatap Devrio yang juga sama sama menatap dalam. "Kak, Dev makan apa?"tanya adik kelas menyapa Devrio. Lisa yang melihatnya, tak jadi memasukkan baksonya. "Jauh jauh lo. Pacar gue kalo liat bisa bikin rusuh."datar Devrio yang membuat semua melototkan matanya termasuk Lisa. "Kakak punya pacar?"tanya gadis tersebut gugup. "Menurut lo gimana?" Mona manarik lengan Lisa dan membuatnya menyerngit bingung. Otaknya masih blank. "Ternyata kak Devrio udah punya pacar."gumam Mona. "Lo naksir?"tebak Lisa yang sudah melihat gelagat aneh kakaknya. "Emm, enggak. Toh udah punya pacar." Lisa menggangguk dan melihat suasana sekitar. Ia tak sengaja melihat Devrio yang seakan tersenyum kearahnya. Mati matian ia menahan grogi hingga menuturnya penolong datang. Romeo berjalan dengan gaya coolnya. Baju yang tak dirapikan dan rambut basah acak acakan. Di sebelah tangannya menggenggam dasi. Semua mata terfokus padanya seakan titik bumi terpusat padanya. Lisa tersenyum melihat penampilan Romeo yang terbilang keren. Laki laki itu melambaikan tangannya pada Lisa dengan senyuman memabukkan. Semua ikut menatap arah Lisa termasuk Devrio. Kasak kusuk lambe lambe turah menguar. Devrio mengepalkan tangannya melihat Romeo mendekati Lisa. "Nona, benar dugaan saya selama ini. Dia sekolah disini. Dan terimakasih atas bantuannya, saya akan mengoptimalkan pencarian saya."bisik Romeo ditelinga Lisa. Semua penasaran dengan apa yang dibisikkan Romeo pada Lisa hingga gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Kau menyamar tapi masih menjadi pusat perhatian."bisik Lisa ditelinga Romeo yang membuat pria itu tersenyum manis. "Hai, ini kakak anda?"sapa Romeo pada Mona yang ikut menjulurkan tangannya. "Kau temannya Lisa?"ceria Mona menatap Romeo dengan terkesima. "Ya, saya temannya di area balap."bisik Romeo pada Mona yang diangguki. "Saya tahu saya terlalu tampan."cengir Romeo menyadarkan Mona dan malah mendapat jeweran dari Lisa. "Gak usah modus lo."tarik Lisa dengan sadis hingga membuat Romeo memelas. Braaaaak. Gebrakan meja terdengar hingga membuat semuanya terkejut. Disana ada Devrio yang sudah menatap nyalang Lisa dan Romeo dengan amarah. "Jauh jauh dari mereka berdua."peringat Devrio pada Romeo. "Suka suka saya."ucap Romeo enteng dan malah menatap Lisa menggoda. Devrio mencengkeram kerah Romeo hingga membuat seisi kantin menegang. "Jauh. Jauh dari Lisa. Lisa pacar gue, dan siapa yang deketin Lisa. Lo harus berhadapan sama gue."dingin Devrio penuh penekanan. Semua orang yang ada shock mendengar penuturan Devrio. Lisa sudah membolakan matanya pada kedua pria tersebut. "Jaga mulut lo ya, Dev!" "Lisa, aku ke toilet bentar."pamit Mona pada Lisa yang sudah berkaca kaca. "Mon...."kejar Lisa dengan panik. Ia bahkan sudah menyumpah serapah Devrio. Mona berhenti dipintu toilet. Lisa yang langsung tekejut melihat hidung Mona yang sudah mimisan darah. "Mon, sadar mon. "Panik Lisa menyangga tubuh kakaknya. Devrio dan Romeo menyusul keduanya. Lisa dengan panik meminta Romeo menggotong Mona ke UKS dan menyiapkan kendaraan untuk mengantarkannya pulang. Devrio yang semakin geram melihat Romeo yang pertama kali dimintai tolong dan bukannya dia. Bahkan dia harus menanggung malu karena ulahnya di kantin. "JAUHI GUE, MAU LO TU APA? PUAS LO?!"ledak Lisa pada Devrio. Devrio meraih tubuh Lisa dan membekapnya erat. Dari awalnya berontak, kini Lisa sudah tenang dalam pelukannya. "Urusan kakak kamu lebih penting."lembut Devrio pada Lisa. "Mon, maafin aku. Aku gak bermaksud nyakitin kamu."gumam Lisa memeluk tubuh kakaknya di mobil Romeo. "Aku gak masalah, mencintai seseorang itu hak kita. Kalaupun kamu suka sama kak Devrio jujur aja sama aku, Lis. Kenapa kamu gak bilang ke aku?"tanya Mona lemah menahan kecewa. "Kamu suka sama dia. Biar dia aja yang pacaran sama kamu. Mungkin dia cuma obsesi semata, muka kita sama. Mungkin dia mau sama kamu." "Cinta gak bisa dipaksa, Lis. Kamu jangan terlalu dingin. Buka hati kamu sama dia. Kamu punya masalah apa sih? Kok tambah judes." "Gak papa, Mon. " Lisa membantu Mona memasuki rumahnya. Ibu dan kakaknya sudah panik melihat wajah pucat Mona. "Kamu istirahat aja, Mon. Jangan banyak pikiran. Aku mau antar Romeo dulu." "Mana Lisa?"tanya dingin papa Lisa yang barusaja datang dari kantornya namun pakaiannya yang cukup berantakkan. "Ya."ucap Lisa yang membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka berdua. "Ma, urus Mona. Nanti kita chek up. Papa mau ngomong sama Lisa."datar Devano, papa Lisa. Lisa terdiam di ruang olahraga. Ada rasa gemetar menyelimutinya saat melihat wajah ayahnya yang begitu mengerikan. Plaaaak Tamparan keras tak diduga Lisa. Ia melototkan matanya menatap papanya nyalang. "Kamu pernah mengancam dokter kan?! GARA GARA KAMU BELIAU TIDAK MAU MENGOBATI MONA. SIAPA YANG MENGAJARIMU SEPERTI INI LISAAA!" "Apa ini balasanku?"sinis Lisa membuat papanya naik pitam. "Bisakah kamu tidak cari masalah? Bisakah kamu bersikap seperti Mona? Kenapa kamu selalu membuat masalah? Papa tau kamu terlibat tawuran kan? Apa ini ilmu yang papa ajarkan? Untuk menghabisi orang lain? "Usap kasar papa Lisa diwajahnya menahan lelah. "Ngomong aja langsung, pa. Papa sebenarnya terbebani karena aku kan? Aku cukup paham. Aku tidak sama dengan Mona yang selalu tunduk. Jangan merasa jika orang tua selalu benar."tenang Lisa. "Pa, kita harus bersiap sekarang untuk kemotherapi Mona selanjutnya."ucap mama Lisa yang membuat Lisa langsung membelakangi mamanya. "Lis, kamu juga ikut ?" "Gak, ma. Daripada bikin susah disana."dingin Lisa yang malah meraih barbel. "Ya sudah. Kakak kamu juga ada pertemuan di Australia. Kamu bisa jaga diri kan?" "Tenang saja, ma. Lisa sudah pintar menjaga diri."datar papa Lisa menatap punggung Lisa yang sedang mengangguk setuju. Mama Lisa hanya bisa menyerngit melihat interaksi yang tidak wajar dari suami dan anaknya. Ada yang janggal?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD