Its Show Time

954 Words
"Moooon... kenapa kamu bisa kaya gini sih? Kamu jaga kesehatan dong, makan yang teratur jangan diet. Itukan bahaya, badan kamu juga udah bagus."manja Lisa dikekehi Mona yang sedang terbaring lemah. "Aku gak papa Lisa, kamu kemana aja? Kamu bikin aku khawatir tau gak?"ucap lemas Mona karena banyak selang yang terpasang. "Yaudah aku mau pulang ya, besok pagi sekolah. Cepet sembuh, nanti yang jaga biar kak Gavin." "Iya, sekolah yang bener. Jangan bikin susah." "Hmm." Lisa keluar dari kamar VVIP Mona dengan gusar. Ia menatap mamanya penuh selidik. Disana nampak mama dan papanya saling berpelukan seakan saling menguatkan. "Mama kenapa? Mona sakit apa ma? Kok bisa dibawa kesini?"tanya Lisa menghampiri kedua orang tuanya. "Mona tadi gak sadarkan diri di kamar. Hidungnya mimisan darah, mukanya pucet, mama takut banget. Dari diaknosa dokter Mona kena kanker otak stadium lanjut."raung mama Lisa tertahan dalam pelukan papanya. Bagai ditimpa ribuan ton batu, Lisa sudah terduduk lesu diatas lantai rumah sakit yang dingin. Air matanya mengalir dengan derasnya. Haruskah masalahnya seberat ini? Lisa sudah tak sanggup lagi. "Papa harap kamu dapat mengerti." Dengan tubuh gemetar Lisa bangkit dan menghapus kasar air matanya. Raut wajah yang sangat datar. "Lisa pamit kalo gitu."dingin Lisa pada kedua orangtuanya. Dengan keberaniannya, ia memasuki ruang dokter dan mencengkeram jas milik dokter muda yang menangani kakaknya. "Denger gue baik baik! Lo pasti salah diaknosa kakak gue! Kakak gue gak bakal mati secepat itu! Gue mau dia harus sembuh! Gue gak mau tau! Atau semua keluarga maupun orang terdekat lo gue bantai! PAHAM !!" Sentak Lisa dengan membludak dan membuat dokter wanita tersebut pucat pasi. Ia hanya bisa mengangguk patuh. "Jangan fikir gue maen maen ya?!" Ucap Lisa segera diakhiri dan pergi. Ia sudah berada didalam kamarnya sendirian. Semua orang tengah menjaga Mona dirumah sakit. Ia sudah berkutat dengan laptop dan HP androidnya. "s**t!" Pergerakannya hampir saja terlambat. Ia menjambak rambutnya frustasi. Tak cukup dengan satu laptop, ia mengeluarkan satu laptop lagi dalam lemarinya dan mengherakkan tangannya lincah diatas kedua laptop disisi kanan maupun kirinya bersamaan. "Romeo! Gimana sih kerja lo?! Kenapa ada orang yang pengen bobol privasi gue hah?!"sengak Lisa di skype. "Maaf nona. Kalaupun itu saya baru tahu sekarang." "s**t! BANGSAT! Intel itu ada disekitarku, dan mereka mencurigaiku." "Bagaimana nona bisa tahu?" "Romeo, keberadaan hidung dan telinga sangat dekat dengan mata, karena itu mata tak dapat melihat keberadaannya. Apa kau paham?"jelas Lisadiangguki Romeo. "Aku ingin semua data diriku yang ada di Indonesia terhapuskan dengan segera. " "Baik nona." Tak lama ia mulai menyerigai melihat identitas para radikal yang menjadi rivalnya telah berhasil ia lacak. Lisa menyambar jaket hitamnya, mengambil pistol dan pisau lipatnya lalu memasukkan kedalam sepatu boot. "Its show time Over."seringai Lisa meninggalkan rumahnya menaiki moge kesayangannya. Dengan darah yang mengalir bagai genangan dan bau anyir yang semerbak menusuk indra penciuman. Wajah Lisa sudah dipenuhi percikan darah dan kontras dengan matanya yang memerah. Ia menyerigai dan nafasnya yang memburu. Ia meletakkan kakinya di atas kepala seseorang. "Ohhhh.... Darwin.... sory karena gue gak berminat maun main kali ini sama lo. Dan well... lo sering ngejek klan gue karena gue pemimpin wanita dan masih ABG kan? So, gue udah muak sama muka tanah lo. Tidur yang nyenyak sayang...."serak Lisa memecah kesunyian gedung tua. "Bereskan semua ini. "Titah Lisa diangguki anak buahnya yang selalu ada dibelakangnya menatap ngeri. Tenaga Lisa sudah terbuang malam ini. Dengan gontai ia sudah sampai kekediamannya jam 3 dini hari. Bagaimana tidak? Ia sudah menghabisi 5 orang dalam malam ini tanpa bantuan orang lain. Ia segera merapikan bekas kekacauan ulahnya dan memakai seragamnya lengkap tak beraturan. "Pagi..."sapanya segera masuk keruangan kakak tercintanya. "Pagi banget kamu dateng, Lis? Sekolah aja mesti bangunin 4 kali."rengut Mona menatap jengah adiknya. "Aku kangen kamu, Mon. Kapan kamu bisa pulang?"gumam Lisa lesu namun masih didengar Mona dan kedua orang tuannya. "Emmm, secepatnya."timang Mona. "Nak, kamu gak berangkat sekolah? Ayo mama antar."ucap mama Lisa yang membuatnya kebingungan. "Aku bisa naik motor aku sendiri ma, mama jagain aja Mona."ucap Lisa mulai tak enak hati. "Em Lisa, mama sama papa dan Mona akan pergi ke Jerman untuk pengobatan. Papa meragukan pengobatan yang ada disini. Apa kamu-"ucap papa Lisa terhenti karena kelu. Bahkan mata Lisa sudah membulat, wajahnya pias dan hatinya langsung mencelos. Ia menggeleng lemah, oh apakah dosa yang selama ini perbuat harus berimbas pada kakaknya. Ia tak ingin jauh jauh dari mereka. Lisa ingin ikut dimana kaki Mona berpijak, Monalisa adalah satu. "Aku ikut." "Tapi sekolah kamu gimana? Ada kak Gavin yang akan ngurus." "Gue IKUT!"bentak Lisa mengepalkan tangannya. Semua bahkan tersentak kaget. Brrraaaak. Pintu dibanting Lisa dengan keras. Ia mengendarai motornya dengan kencangnya. Amarahnya begitu membuncah. Dalam tangis diamnya mengapa tuhan adil sekali memberi balasan pada hambanya. "Bukain gak pintunya!"dingin Lisa pada satpam sekolah. Bagaimanapun ucapan Mona harus ia jalankan. Satpam hanya menatap datar Lisa. Nih kok garangnya melebihi hansip? Semua masih kekeuh dengan keterdiamannya. "Gue hitung sampek tiga kalo gak lo buka, gue remukin nih pagar!"geram Lisa tak tertahankan sama sekali tak ditanggapi. Devrio dari kejauhan melihat kejadian tersebut dengan menyunggingkan senyumnya. Ia kemarin sudah mencari data diri Lisa namun keterkejutan menyelimutinya, ia jatuh dalam pesona gadis misterius, Monalisa yang mempunyai teka teki. Fikiran Lisa masih jernih. Ia menyerigai kearah semua orang yang menonton aksinya. Ia lelah menanggapi emosinya. Emosinya sudah terkuras. "Berhubung gue masih punya otak..."ucap Lisa menggantung sambil berjalan santai mendekati pagar yang sudah tergembok. Semua orang menatapnya penasaran. Lisa melepaskan jepit rambutnya dan menduplikat kunci. Dan KLAK! Gembok terbuka lebar selebar mata semua orang yang menatapnya takjub. Ia tersenyum kemenangan. 1 prinsip, tidak ada yang bisa menghentikannya! Geraman motor sport melaju memasuki area sekolah elite. Ia dengan santai memakan permen karet dan menatap datar sekitarnya. "APA YANG LO LIAT!"bentak Lisa pada semua orang yang langsung kelabakan. "Menarik."gumam Devrio yang sejak tadi menjadi salah satu penonton.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD