Malam ini Allegra menghabiskan waktunya di Club seperti yang dulu. Ia mabuk mabukan bersama ketiga teman temannya sambil bermain wanita.
Sedangkan Lisa tengah berdiri di balkonnya sambil menatap kosong. Sudah ada makanan yang diantar namun berubah dingin karena ia sama sekali tidak nafsu makan.
"Nona, nona suka pada tuan Alle?"tanya Romeo yang membuat Lisa menoleh.
"Tidak. Dan tidak akan pernah."
"Nona, jujurlah pada hatimu yang terdalam. Apa anda akan selamanya seperti ini? Anda pasti akan membutuhkan cinta. "
"Aku takut apa yang terjadi padaku dan Devrio terulang kembali. Setidaknya sejak awal aku tahu ia rival."
"Cinta mengubah segalanya nona. Kalau kekuatan cinta kalian kuat, maka rasa dendam dan kekecewaan akan menguar hilang."
"Apa yang harus aku lakukan?"desah berat Lisa.
"Katakan kalau anda cinta pada tuan Alle. Saya juga dapat melihat ada cinta dimata tuan Alle."
"Apa menurutmu aku pantas dicintai? Cinta?"
"Ya nona. Semua akan terasa indah dengan adanya cinta. Semua akan terasa lengkap dengan adanya cinta. Semua orang butuh cinta. Katakan kalau anda mencintainya."
"Ya."senyum keduanya merekah.
Dilain sisi nampak Daniel, Leon dan Angelo yang berusaha menceramahi Allegra. Keadaannya sudah tepar. Ia nampak seperti orang yang depresi berat.
"Dengar Alle, kau harus membuat dia menyadari akan cintamu. Buat dia seakan kehilanganmu."
"Caranya? Caranya bagaimana?! Ia membenciku."teriak Allegra sambil menjambak rambutnya.
"Buat dia cemburu, cemburu adalah salah satu bukti cinta Alle. Aku punya ide untuk bisa membuat Lisa menyadari akan besarnya cintamu."ucap Leon sedangkan yang lain menatapnya serius.
Semua nampak terdiam dan berfikir keras. Nampak Leon yang tersenyum pongah. Lama terdiam, datanglah wanita sexy yang berpakaian sangat minim.
"Alle.... kau tak rindu padaku? Kita sudah lama tidak bersenang senang. "Goda wanita berpakaian merah yang sangat kontras dengan make up menornya.
Semua nampak bergidik ngeri melihat Allegra yang sudah dibelai dengan jari lentiknya. Memang tubuhnya proposional. Namun hati dan fikiran Allegra hanya untuk Lisa.
"Menjauhlah Beca. Allegra sedang banyak fikiran saat ini."tolak dingin Angelo.
"Tidak. Aku membutuhkannya. Beca, maukah kau ke mansion baruku?"tanya Allegra datar yang membuat semua temannya membulatkan mata.
"Kau gila?!"ucap Daniel naik satu oktaf. Sedangkan Allegra hanya diam dan Leon yang mulai menyerigai.
"Tentu saja aku mau."ucap senang wanita bernama Beca tersebut.
"Rencana yang bagus Alle. Buat dia cemburu dengan kemesraanmu dengan Beca. Buat ia menyadari kesalahannya karena telah menyia nyiakan cintamu."tepuk tangan Leon sambil menyerigai.
"Dia berani menjalin hubungan dengan bodyguardku sendiri. Apa menurutnya aku tidak bisa membalas perbuatannya? Aku ingin lihat seberapa besar cintanya padaku. Benarkah ia tak mencintaiku? Akan kita buktikan."seringai Allegra.
"Tidak. Ini ide yang buruk Alle, sebelum terlambat. Jangan lakukan ini. Ini terlalu menyakitkan."peringat Angelo.
"Tahu apa kau?!"ketus Allegra yang malah mengajak Beca keluar ruangan dan pulang bersamanya.
Alle benar benar mengajak Beca ke mansion Lisa. Sedangkan Lisa begitu senang saat mengetahui mobik Allegra sudah memasuki halamannya.
"Romeo! Itu Alle. Alle sudah datang.... Romeo, ayo..."girang Lisa membuat Romeo ikut tersenyum bahagia.
Lisa sudah membukakan pintu dengan raut bahagia. Namun senyum itu langsung pudar melihat Allegra yang nampak dipapah wanita sexy.
Nafasnya langsung memburu. Ia segera membalikkan tubuhnya dan merapatkan matanya kuat kuat. Allegra yang melihat hal tersebut, menahan geram. Lisa sama sekali tidak berefek. Lihat saja apa yang akan Allegra lakukan untuk kedepannya.
Romeo yang sudah berada di samping Lisa hanya terdiam beku. Ia nampak prihatin melihat Lisa yang menahan dirinya, terlebih pasti ia merasakan sakit hati.
"Alle, dia siapa?"tanya Beca manja menunjuk Lisa. Sedangkan Lisa sudah berbalik menghadap mereka namun menunduk dalam.
"Pelayan dirumah ini."datar Allegra yang membuat hati Lisa terasa teriris.
"Ya nona."ucap Lisa seadanya yang semakin membuat Allegra geram.
"Yasudah Lisa. Tutup pintunya dan segera tidur. Aku akan bersama Beca di kamar atas."ucap Allegra enteng namun berimbas parah pada Lisa. Lisa hanya berani mengangguk patuh layaknya pelayan. Ia memang menyadari kalau ia memang diperlakukan pelayan saat ini. Bukan pemilik lagi, untungnya Allegra mengingatkannya akan posisi. Jadi memang benar ia hanya pelayan dimata Allegra.
Allegra merengkuh pinggang Beca dan berjalan melewati Lisa. Disana mata Lisa sudah terpejam. Netranya menggelap.
"Romeo, siapkan borgol."ucapnya serak yang membuat Romeo membulatkan matanya.