"Ada yang diperlukan tuan?"
Tanya Romeo diruang kerja Allegra setelah semua teman Allegra pulang.
"Aku sekarang menunjukmu sebagai bodyguard Lisa. Kemanapun ia berada, ia jadi tanggung jawabmu. Apapun yang ia suka dan ia tidak suka. Kau harus tahu dan bicarakan padaku laporan khususnya. Jika sesuatu terjadi padanya, kau. Akan. Habis ditanganku. Mengerti?!"dingin Allegra membuat Romeo patuh. Dalam hati, Romeo bersorak kemenangan. Rencananya berhasil.
"Baik tuan."
"Dan jangan dekat dekat dengannya. Karena ia milikku. Kau mengerti?!"sentak Allegra membuat Romeo kaget.
"Jadi Allegra suka pada nona Lisa?"batin Romeo yang tambah bersorak kemenangan.
"Kamu akan jatuh Alle. Kau salah dalam memilih lawan."seringai dalam hati Romeo ketika meninggalkan ruangan Allegra.
Kini Allegra sudah menghampiri Lisa yang tengah bermain ayunan. Ia mendorong pelan Lisa hingga gadis itu menoleh kebelakang menatapnya.
"Hai, sedang apa?"
"Bukan apa apa. Aku sedang membaca buku."
"Buku apa?"
"Hitler."
"Hitler? Kau mengidolakan Hitler?"
"Hmm, ya. Dia menurutku keren."
"Masih tampan aku dari segi manapun."
"Tolong jangan mulai lagi. "Jengah Lisa membuat Allegra terkekeh.
"Aku sudah memindahkan barangku dikamar kita."ucap enteng Allegra membuat Lisa menghentikan ayunanya.
"Kita? Ayolah... nadamu seperti pengantin baru."
"Kau mengkode? Boleh. Aku akan menikahimu. Kapan? Kau mau yang seperti apa?"
"Yang jelas aku tak mau denganmu. Kau jahat. Kau menjauhkanku dari keluargaku. Kau mengancam papaku."gumam Lisa membuat Allegra terdiam.
"Begitukah? Kau membenciku?"
"Menurutmu?"
"Tak apa. Lambat laun aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Siapa yang berani menolak pesonaku."ucap Allegra mengayun pelan Lisa.
"Hahaha, aku. In your dream..."tawa lepas Lisa karena ia dalam ayunan yang tinggi.
Allegra tersenyum dan mengadah keatas seakan meminta tuhan untuk menghentikan waktu saat ini. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama Lisa dipenuhi dengan tawa.
"Lisa, kau pernah jatuh cinta?"
"Pernah. Dan aku jadi benci dengan namanya cinta. Rasanya begitu menyakitkan."
"Aku ingin tahu, siapa yang membuat definisi cinta hingga kau tak ingin mencintai lagi."
"Sudah. Lupakan saja dia. Aku tak ingin melihatnya lagi. Aku doakan ia tenang disisi tuhan."ucap Lisa yang hanya membuat Allegra terdiam.
"Mau jalan jalan?"alih Allegra membuat mata Lisa berbinar.
"Aku mau makan es krim di perayaan."
"Tapi sekarang tidak ada perayaan."
"Taman bermain."
Allegra terkekeh dan mengacak rambut pirang Lisa dan mengangguk. Ia menghubungi seseorang lalu menggandeng tangan Lisa.
"Bersiaplah. Akan aku tunggu 5 menit dibawah."
"Sungguh? Terimakasih. Aku sudah lama sekali tidak ke taman bermain."
"Iya. Untukmu akan aku lakukan. Demi kau apapun akan aku lakukan. Lalu apa imbalanmu?"
"Kau minta imbalan. Aku kira kau baik, ternyata aku salah. Pria arogan itu selalu perhitungan. Setidaknya aku selalu mematuhi peraturan yang kau buat."
"Baiklah baiklah, aku cuma minta imbalan cium bagaimana?"
"Mimpimu."pukul sadis Lisa sebelum ia beranjak pergi. Sedangkan Allegra terkekeh geli.
Lisa memakai dress yang santai dan memakai sepasang sepatu sneakers serta headset yang terpasang di lehernya. Ia menyapukan make up natural yang nampak membuatnya seperti gadis remaja..
"Ayo."ajak Lisa bersemangat menuruni tangga.
Sejenak Allegra terdiam memandang wajah cantik Lisa. Degub jantungnya bertalu ketika menatap netra kelam milik Lisa.
"Maaf Lisa. Ada masalah dikantor. Bagaimana kita undur malam ini?"ucap tak enak Allegra.
Lisa hanya terdiam dari posisinya. Sungguh hatinya terasa patah. Ia sangat memimpikan dunia lamanya, ia berfikir laki laki itu mau mengembalikan sedikit memori indahnya. Ternyata? Sesakit inikah?
"Oh, masalah kantor papaku?"tanya Lisa dengan senyum simpul yang membuat Allegra merasakan sakit didadanya.
"Ya. Kau tak apa? Aku janji malam ini."
"Aku tak apa. Pergilah, dan selesaikan masalahmu. Aku tak ingin perusahaan papa mengalami kebangkrutan. Jangan berjanji Alle, aku benci."
Allegra hanya terdiam menatap netra kelam tersebut. Ia melangkah mendekati Lisa dan menangkup wajahnya. Ia akui, ia semakin dibuat jatuh cinta pada gadis itu. Lisa, seakan melihat kekecewaan dimata Lisa membuatnya sesak.
"Aku akan usahakan. Perusahaan papamu akan baik baik saja. Kau pasti kecewa ya?"
Lisa mengangguk pelan dan tersenyum simpul. Begitu manis, tidak seringai ataupun senyum mengejek. Bibirnya begitu indah hingga membuat Allegra berani menciumnya.
Keduanya saling tersentak. Lisa yang seakan blank dan Allegra yang terkejut akan sensasi bibir Lisa yang begitu lembut dan manis. Ia menyercap bibir Lisa tak henti seperti candu.
Lisa melepas pagutannya karena kehabisan nafas. Ia menatap mata Allegra dalam, sungguh fikirannya saat ini kosong.
"Bibirmu manis. "Ucap Allegra tersenyum sambil membelai lembut bibir Lisa yang membengkak.
"Pergilah."dingin Lisa yang membuat Allegra terkejut. Sedangkan gadis itu sudah pergi meninggalkannya dan naik kelantai atas.
"Lisa...."tak ada sahutan sama sekali yang membuat Allegra mendesah pasrah.
"Argghh... bodoh bodoh bodoh!!!! Jangan! Jangan Lisa! Jangan sampai kau jatuh cinta pada pria bajingan seperti dia. Sekarang fokus. Apa yang menimpa perusahaan papa."
Lisa melihat mobil Allegra yang sudah pergi meninggalkan pekarangan. Ia dengan segera mengetukkan kakinya tiga kali dilantai marmer kamarnya dan seketika ruang bawah tanah terbuka.
Ia membuka program dan mulai berkutat. Nampak ada kebocoran data dari perusahaan papanya. Ia dengan menahan geram kesal kini mulai membalas perbuatan lawan perusahaan papanya.
Kalaupun ia menjaga atau menduplikat data perusahaan papanya, maka Allegra akan curiga dengan kemampuannya. Ia akan lakukan halnya yang sama pada lawannya. Ia percaya Allegra akan memperbaiki sistemnya. Sedangkan ia mulai memasuki sistem data perusahaan lawan dan mulai meretas sistemnya dan menyebar luaskan datanya kesemua perusahaan lain.
Setelah data tersebar, ia segera keluar dan membuat pergerakan yang rumit sehingga hacker maupun informan sulit menemukannya. Jangan remehkan kemampuannya. 10 negara sudah mengincarnya dan memburunya, ia adalah Hacker yang paling berbahaya dan yang paling cerdik. Ia sulit untuk dibaca pergerakannya.
Ia tersenyum simpul karena sudah meleburkan pergerakannya dan menghapus akun, lalu membuat 1000 aku yang sama dalam waktu 5 menit.
Ia segera keluar dan mencabut kabel data lalu kembali naik kelantai atas. Dengan bersiul dan berdiri di balkon kamar menatap indahnya senja.