"Lisa, jangan tertawa."peringat Allegra membuat semuanya menyerngit.
"Kenapa?"
"Senyum dan tawamu tidak baik untuk kesehatan jantungku."celetuk Allegra membuat ketiga temannya tertawa.
"Oh ya, Alle aku datang kesini punya tujuan daripada anak anak lain yang kurang kerjaan."ucap Angelo membuat semuanya terdiam.
"Apa?"
"Aku barusaja membeli pistol paling mematikan didunia. Harganya sangat mahal. Glock 20, sangat mudah digunakn karena ringan dan memuat 15 peluru. Kecepatannya 1600 kaki/detik. Aku jatuh cinta karena warnanya silver menawan. Namun aku sangat kesulitan karena mekanisme bongkarnya sangat sulit. Biasanya senjata ini dipakai para FBI. Kau cerdas bukan? Bantu aku merakitnya."
Allegra memasang mimik serius menatap pistol bongkaran didepannya. Memang bagus dan klasik. Lain dengan Lisa yang menyeringai tipis melihat pistol tersebut.
"Akan aku coba. Apa aku boleh memilikinya nanti?"
"Kau kan sudah punya Colt 1911, lebih bagus dan andalanmu kan? Si klasik gold berisi 7 peluru dengan kecepatan 1.225kaki/detik."
"Ya, tapi ini sangat menawan."
"Jangan serakah."celetuk Lisa menatap jengah dan disenyumi Allegra.
"Baikhlah."
Hanya keheningan dan suara benda dari pistol yang saling bergesekan. Semua menatap serius tak terkecuali Lisa. Ia sangat gatal melihat Allegra merakit senjata tersebut. Jika senjata itu ditangan Lisa, pasti akan selesai dalam 5 menit.
"Aku menyerah. Ini sangat sulit."ucap lelah Allegra membuat Lisa tersenyum remeh.
"Ayolah Alle, kau paling pintar diantara kami."
"Saya bisa."ucap Romeo membuat semua mata terfokus padaku. Kini Lisa tersenyum penuh kemenangan. Ia ingin melihat Allegra jatuh.
"Benarkah?"tanya Daniel yang hanya diangguki Romeo sambil tersenyum tipis.
Semua mata kembali fokus padanya. Tangannya begitu terampil merakit pistol tersebut. Ia dapat menyelesaikannya selama 10 menit.
Lisa memekik girang dan bertepuk tangan heboh, membuat Allegra memasang muka masam.
"Bagaimana kau bisa?"tanya Angelo penasaran.
"Saya dulu pernah berguru pada nona Over. Ia punya senjata lengkap dari seluruh dunia. Colt, Glock, Desert Eagle, dan macam macam revolver tercanggih dan termahal seperti Ruger Super Redhawk dan N+W 500Magnum. Semuanya termasuk senjata zaman perang kedua juga ada."
"Sungguh?"kini Leon sudah memekik terkejut.
"Over? Si ratu Hacker dan pembunuh bayaran itu? "Tanyanya memastikan dan diangguki Romeo yang tengah menahan takut apalagi ia tak berani menatap Lisa.
"Ya. Dulu. Sekarang kami sudah lama tak berhubungan kontak."
"Dia sangat misterius, semua tidak tahu wajah aslinya seperti apa. Suaranya begitu serak dalam. Ia selalu memakai masker jocker."pendapat Angelo.
"Anda tahu dia?"tanya Romeo juga membuat Lisa penasaran.
"Aku pernah menyewanya untuk membunuh seseorang. Aku tak mengira ia begitu cerdik."
"Aku juga sedang mencarinya. Tapi, sangat sulit sekali. Seakan ia sedang bersembunyi."ucap Allegra membuat Lisa terkejut.
"Aish, aku tidak paham. Aku mau tidur saja. Aku bosan."ucap Lisa pamit.
Hatinya tidak tenang. Ia sangat dekat dengan para musuhnya. Bahkan ia sudah jadi incaran banyak orang.
"Nona Ovy sangatlah berbahaya dan misterius. Kadang rupanya seperti wanita biasa. Kadang disekitar kita, dan kadang kita tak mengira ngira. Ia tak bisa diragukan. Ia seorang psikopat yang sangat berbahaya."ucap Romeo seakan menerawang.
"Apa lagi yang kau ketahui? Kau melihat wajahnya dengan jelas?"tanya Allegra.
"Ya, dulu saat ia masih SMA. Ia gadis yang cantik dan berwibawa, berkharisma saat diusia belia. Ia sudah banyak menghabisi nyawa saat umurnya 17 tahun. Dan sekarang yang aku dengar, ia punya mansion yang indah namun disana terdapat ruang pembantaian dan kolam buaya serta kolam penuh piranha."
"Kau tahu tempatnya?"tanya Angelo gemas.
"Maaf tuan. Saya tidak tahu lagi. Semua yang orang ketahui, pasti akan tewas mengenaskan ditangannya."
"Dan kau takut?"cibir Allegra diangguki Romeo membuat keempat pria tersebut mengangguk.
"ROMEOOOOOO......"teriak Lisa dari kamarnya yang membuat semua orang panik termasuk Allegra dan Romeo.
"Nona. Ada apa?"tanya Romeo yang sudah memasuki kamar Lisa.
"Bunga-bunga mawar."tunjuk Lisa pada setangkai bunga mawar diatas meja.
Ia mundur ketakutan sambil nafasnya yang begitu berat. Semua hanya kebingungan menatapnya terlebih Allegra yang sengaja menaruh mawar tersebut sebagai tanda maaf.
Dengan actingnya, Romeo mendekati Lisa dengan tenang sambil memeluk tubuhnya erat. Allegra sudah mengepalkan tangannya dan matanya menatap tajam. Semua temannya seakan menahannya ketika mengetahui ia sedang menahan amarah.
"Nona takut mawar?"tanya lembut Romeo pada Lisa yang membuat Allegra terdiam beku.
"Jauhkan dariku. Aku mohon..."tangis Lisa dalam dekapan Romeo.
"Baik nona."
Romeo melepas dasinya lalu menutup mata Lisa dengan dasinya dan ia beranjak membuang bunga mawar tersebut kearah balkon dan Allegra hanya menatap miris bunga tersebut yang sudah jatuh kebawah.
"Sudah tidak ada nona. Kalau nona ada apa apa, panggil saja saya. Saya tidak keberatan."
"Terimakasih."lemas Lisa.
"AMBILKAN AIR BODOH"teriak Allegra pada salah satu pelayan yang langsung kelabakan.
"Santai Alle, tenanglah. Jangan buat Lisa tambah takut. Kau yang bawa mawar itu ?"tepuk Angelo dipundak Allegra.
"Ya, aku tidak tahu ia takut dengan bunga mawar."lesu Allegra.
"Sebaiknya kau mengandalkan Romeo untuk menjaga Lisa sewaktu kau tidak ada di Mansion. Kalaupun Lisa pergi, kau pasrahkan saja pengawasan pada dia. Buat ia mengorek informasi tentang gadismu. Ia suka apa, dan dia benci apa. Supaya kau tahu."
"Aku tidak tahan kedekatannya."
"Lalu saat kau tidak ada di mansion, dan dia dalam bahaya bagaimana?"
"Hah, baiklah."lesu Allegra menatap wajah Lisa yang masih pucat.
"Aku harus apa sekarang? Dia akan tambah membenciku."
"Panggil Romeo kebawah. Dan ajak dia berbicara."