"Wah, itu Alle?"tanya tak percaya pria bule pada ketiga temannya yang sedang duduk santai di ruang VIP.
"Menurutmu? Aku arwahnya."acuh Allegra dengan wajah masamnya.
"Wow, ada apa dude?"tanya salah satu pria tak kalah tampan yang sedang asyik bermesraan dengan dua wanita penghibur.
"Entahlah, aku sedang banyak fikiran. Penyelundupanku gagal dan menanggung banyak kerugian. Terlebih gadis yang selalu membangkang."
"Gadis?"tanya salah satu pria yang awalnya nampak datar kini mulai penasaran.
Allegra mempunyai tiga sahabat yang terkenal jajaran usahawan muda nan sukses dengan sejuta pesona.
Ada Daniel, pria bule yang sikapnya sangat sombong dan songong. Ada Leon, cassanova dengan cap playboy. Pria tampan ketiga diantara teman temannya. Dan Angelo, pria berwajah datar nan irit bicara. Gaya cool dan macho membuat semua wanita akan jatuh pesonanya, namun sayang ia sangat garang.
Dan yang terakhir adalah Allegra, pria paling tampan diantara teman temannya. Ia terkenal pedas berbicara dan selalu digadang gadang memiliki konflik cinta dengan model model papan atas.
"Ya, aku sedang tertarik dengan seorang gadis. Ia sangat membangkang dan membuatku gemas sendiri. Semua amarahku seakan sirna melihat wajahnya."
"Wah wah wah....Alle kita sedang jatuh cinta rupanya. Sudah tobatkah dia? Apa mainnya diranjang begitu panas?"tanya Leon tanpa dosa dan dihadiahi jitakan Angelo.
"Hilangkan fikiran kotormu itu Le, dia ku sentuh saja langsung tampar. Lihatlah ini."tunjuk Allegra pada bekas sobekan dibibirnya.
"Wow, aku jadi penasaran dengan gadis itu. Kau punya fotonya?"tanya Daniel penasaran.
"Ya, tapi ia punyaku."peringat Allegra ditatapi jengah ketiga temannya.
"Iya iya...."
Allegra mulai menunjukkan ponselnya. Disana terdapat foto Lisa yang pertama kali dikenal publik. Semua teman Allegra membulatkan matanya.
"Bukannya dia model baru itu? Putri Devano. Rivalmu kan?"tanya Angelo memastikan sambil menelisik.
"Ya. Kau benar. Nampaknya aku kena karma karena sering menyakiti banyak wanita. Dan sekarang, saat aku mulai tertarik dan jatuh cinta. Malah dia putri rivalku."desah lesu Allegra.
"Wah, jangan mudah menyerah. Allegra yang kami kenal tidak pantang menyerah kan?"semangat Daniel menepuk punggul Allegra.
"Thanks, kalian benar benar sahabat. Yah, meski terkadang ngeselin."
"No problem. It's okay."
Allegra pulang ke mansionnya dengan hati yang lega. Ia baru pulang jam 3 dini hari. Dari arah balkon, Lisa berdecak menatap mobil Allegra yang baru masuk pekarangan. Ia berdecih kesal penuh kebencian.
Lisa segera memakai stelan olahraganya dan memakai earphone dan segera turun kebawah dengan santai. Sedangkan Allegra tengah membolakan matanya kaget.
"Pagi pagi mau kemana?"tanya Allegra tak dihiraukan Lisa dan tetap melenggang pergi.
Allegra menyentak tubuh mungil Lisa dan menatapnya tajam. Lisa hanya memandang sebentar pundaknya yang tengah disandari kedua lengan kekar Allegra.
"Don't touch me."datar Lisa memandang Allegra dingin.
"Mau kemana sayang?"
"Perlu tahu? Olahraga. "
"Jam 3 olahraga? Kamu serius?"
"Jam 3 baru pulang? Serius? Gak salah?"remeh Lisa sambil terkekeh garing dan membuat Allegra terdiam sejenak.
"Maaf."
"Oh, wow wow wow. Sori, kapasitas maafmu sudah penuh. Kau harus perbarui ulang. "Ucap Lisa bertepuk tangan dan membuat Allegra menahan geram.
"Lisa, listen me. Kalau mau jogging. Kamu harus sama aku."
"Hah?! Are you crazy, Mr? You thinking again. See you. And good bye."
"Lisa! Sebenarnya ada apa denganmu?"
"Kau tak paham? Aku tak ingin melihat wajahmu okay, kalau kau ada. Maka aku yang pergi. Karena setiap aku berjumpa denganmu pasti berakhir ribut. Dan aku benci kebisingan."
"Yasudah. Aku ikut denganmu."
"Tidak usah tidak perlu, kau istirahat saja. Biar dia yang menemani."tunjuk Lisa pada Romeo yang barusaja selesai berjaga.
"Aku tahu. Kau tak ingin aku selalu berdekatan denganku bukan?"
"Paham kan."
Lisa tanpa hati meninggalkan Allegra yang sedang menatapnya. Ia mengkode Romeo untuk mengikutinya.
"Bagaimana Romeo?"tanya Lisa setelah berlari cukup jauh dari mansion.
"Cukup terkendali. Aku dengar tuan Allegra barusaja rugi karena penyelundupan opiumnya gagal."
"Hahaha, aku yang menggagalkannya."tawa puas Lisa membuat mata Romeo membulat.
"Nona Ovy yang melakukannya?"panik Romeo.
"Aku ingin balas dendam. Enak saja ia sudah membuat hariku tidak nyenyak dan tidak nyaman. Aku sudah gemas ingin membalasnya. Jadi aku meretas sistem dan membongkarnya."
"Saya terpukau."tepuk bangga Romeo sambil tersenyum pada ketuanya.
"Hahaha, ya ampun aku senang sekali. Kita kembali sekarang, sudah jam 7 mungkin ia akan mencari kita."
"Ya nona."
Lain dengan keadaan mansion yang tiba tiba ramai karena kedatangan Daniel, Leon dan Angelo.
"Kalian sedang apa disini?!"frustasi Allegra melihat teman temannya yang sedang berleha leha disofa ruang tamu.
"Kami ingin berkunjung."enteng Daniel yang tambah membuat frustasi Allegra.
"Arrrgghh...bagaimana kalau Lisa tahu..."
"Oh, gadis itu namanya Lisa..."
"Ya."sahut merdu dibalik pintu yang membuat keempat pria tampan serempak menoleh kearahnya.
"Aku tadi malam tidak berjanji untuk merebutnya dari Alle kalau sebenarnya secantik dia."ucap ngelantur Leon tanpa sadar. Sedangkan Lisa disamping Romeo menyerngit kebingungan. Lain dengan Allegra yang sudah menjitak kepala Leon dengan sadis.
"Allegra, I don't talk with you, okay. Lakukan semaumu."datar Lisa segera melangkah ke lantai atas.
"Lisa, kau jogging malah mengurai rambut?"tanya Allegra melihat keringat yang bercucuran deras.
"Your problem?"
"Ternyata sikapnya sama dengan Angelo. Ketus sekali, sebenarnya apa yang mebuat Alle tertarik padanya?"celetuk Daniel hingga membuat Lisa menyerngit sedangkan Angelo yang awalnya hanya diam kini menaikkan sebelah alisnya.
"Menurutmu apa? Dia Angelo?"tunjuk Lisa pas menghadap Angelo dan yang lain hanya mengangguk patuh.
"Aku suka gayamu."seringai Lisa hingga membuat Allegra terkejut. Bahkan saat ini Lisa sudah berjalan mendekati mereka.
"Apa?"loading Angelo yang seketika membuat Lisa tertawa.
Semua melongo takjub akan kecantikan Lisa. Wajah Asia yang khas blasteran sekan memancarkan cahaya dan waktu seakan berhenti. Terlebih Allegra yang berkali kali meneguk ludahnya susah payah.
Lisa kebingungan dan menghentikan tawanya melihat keempat pria yang sedang terbengong. Ia melihat Romeo seakan kode bertanya dan yang dikodepun hanya mengulas senyum.