Stop It!

810 Words
"Ini kamarku! Kau di kamar utama saja...."usir Lisa pada Allegra yang masih kekeuh bersandar didaun pintu kamarnya. "Aku mau kamarmu. " "Apa kau tidak puas mengambil semua hartaku, kau belum puas aku sengsara?!" "Jangan ngotot. Cepat tua nanti, sering seringlah tersenyum."lembut Allegra. "Ya. Aku akan cepat menua kalau terus bersamamu. Jadi pergilah!!!" "Kalau aku tidak mau jauh jauh darimu bagaimana?"goda Allegra sambil menaik turunkan alisnya. "Aku lelah. Aku mau berbagi kamar asal kau tidak macam macam. Deal?" "Umm, aku tidak berjanji. Kau begitu menggiurkan, tapi akan aku usahakan."ucap Allegra setelah melihat Lisa melangkahkan kakinya kearah balkon karena merasa frustasi dengan Allegra. "Kau marah?"tanya Allegra menghampiri Lisa. Matanya seakan mau keluar melihat Lisa sedang menyalakan rokoknya. Allegra segera menyerobot dan menginjak rokoknya sadis. Nafas Lisa memburu menahan gejolak amarah. Sedangkan Allegra menatapnya tak kalah sengit. "Aku lelah, bisakah kau tak menggangguku. Tak mengurusi hidupku. Pergilah, aku lelah berdebat denganmu."ucap lelah Lisa tanpa ditutup tutupi. "Dengarkan aku baik baik. Maaf, maaf karena kelewatan. Entah kenapa aku susah menghentikan sikapku. Seakan hobi baruku adalah mengganggumu. Kalau kau mulai terganggu. Bicaralah, jangan diam dan merokok seperti ini. Aku tidak suka."lembut Allegra menangkup wajah Lisa dan menatapnya dalam. "Jauhi aku. Aku tak suka. Kau boleh berkuasa, tapi kau tak berkuasa untuk mengatur hidupku. Aku tidak termasuk dalam aset."hempas Lisa dengan kasar. "Mengapa kau selalu berfikir seperti itu? Aku sama sekali tak menganggapmu sebagai jalang. Aku menganggapmu sebagai wanita. Wanitaku."ucap Allegra lembut sambil mengetuk ngetuk kepala Lisa. "Hentikan. Aku membencimu, kalau kau tak mau pergi. Setidaknya aku yang pergi."datar Lisa. "Mau kemana kau?! Monalisa! Kembali!"ucap Allegra naik satu oktaf ketika Lisa meninggalkan kamarnya. "Aku akan kembali, jangan tunggu aku. Aku tahu jalan pulang." "Kau mau kemana? Ini sudah malam. " "I don't care. Aku ingin bersenang senang. Dan kau jangan menggangguku!"ucap Lisa menutup pintu dan membuat Allegra geram. "Kenapa gadis itu selalu membangkang?!" Lisa menaiki mobil sportnya menuju Club. Ia ingin melepaskan rasa frustasinya menghadapi Allegra. Ia baru sehari namun sudah merasa muak. Apalagi harus berlama lama. Ia duduk disalah satu bar. Lain dengan Allegra yang tengah berada di mansion lamanya. Giginya gemeratuk, wajahnya dingin dan datar. "Bagaimana bisa penyelundupan opium kita terbongkar?! Aku bisa rugi besar. Akan aku gantung kalian."bentak Allegra membuat semua orang gemetar. "Maaf tuan, kami sudah berusaha. Tapi-" Belum sempat ia menyelesaikan penjelasan, Allegra sudah menonjok telak anak buahnya hingga terkapar. "Banyak bicara kau. Aku tak butuh penjelasanmu. Yang aku butuhkan adalah ganti rugimu. Apa kau bisa menbayarnya, hah?!" "Maaf tuan." "Sudahlah, membunuhmu juga tak ada untungnya. Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi. Mau bagaimanapun kalian harus bisa mengatasi masalah ini."dingin Allegra yang sudah meninggalkan anak buahnya. Allegra yang baru pulang ke mansion Lisa pukul 11 malam. Suasana yang sepi namun tak membuat amarah Allegra surut. Ia membuka kamarnya dan tidak mendapati Lisa. Dengan rahang yang mengeras, ia mulai mencari Lisa keseluruh ruangan. Semua orang yang bekerja harus terjaga saat Allegra sudah berteriak teriak malam malam. "DIMANA MONALISA?! APA DIA BELUM PULANG?! SIAPAPUN TAK BERNIAT MENGHUBUNGINYA?!"teriak Allegra membuat semua orang gemetar ketakutan. "Maaf tuan, tapi ini sudah wajar. Nona Lisa selalu pulang lebih dari jam tiga dini hari saat keluar rumah seperti ini."ucap salah satu pelayan takut. Gigi Allegra sudah gemeratuk menahan amarah. Hatinya begitu mengkhawatirkan gadis tersebut. Ia baru mendengar penuturan pelayan dan membuatnya semakin marah. "Jam 3!!! Dan itu wajar?! Jika setelah ini ia pulang malam. Kalian yang akan habis ditanganku! Camkan itu."tatap nyalang Allegra memperingatkan. "Maaf tuan, kami tidak akan membiarkan nona pulang malam lagi." "Hoam..." Semua mata langsung terpusat pada pintu utama. Disana ada Lisa yang tanpa dosa berjalan santai menaiki tangga. Allegra meremas tangannya kuat dan menyentak tubuh mungil Lisa. Gadis itu hanya berdecak dan mengedarkan pandangannya malas keseluruh orang yang ada. "Darimana kau?"tanya Allegra begitu dingin dan datar. "Menurutmu? Jangan ganggu aku. Aku mengantuk. Lagi pula ini masih terlalu sore aku kembali. Mengingat ada tamu disini, aku pulang jam 12 tepat."ucap enteng Lisa menguarkan aroma alkohol yang khas. "KAU DARI CLUB? CLUB?! KAU MABUK?!DAN BARU SEKARANG KAU PULANG?"cibir Allegra menaikkan suaranya. "HENTIKAAAAAN....CUKUP. HENTIKAN?! Kau membentakku? KAU MEMBENTAKKU?! Tidak ada. Yang boleh. Membentakku! Ingat itu! Aku tidak suka diatur, terlebih kau bukan siapa siapaku. Mengerti tuan Allegra yang terhormat?!"ucap Lisa penuh penekanan. "Dengarkan aku. Mulai sekarang aku yang punya mansion ini. Dan peraturan rumah, kau tidak boleh keluar rumah kalau bukan atas persetujuanku. Kau mengerti? Itupun kau akan dikawal." "Brengsek! Bedebah sialan."muak Lisa dan mulai berjalan menaiki tangga. Ia sudah merasa tertekan hari ini. Tidak boleh merokok, tidak boleh ke Club. Dan terlebih harus dikawal setiap saat. Bangsat! "Kau mengunci pintunya Lisa?"gedor Allegra diluaran yang diacuhkan Lisa. "DIAM! Apa kau tidak kasihan padaku. Ayolah kasihanilah aku. Aku ingin tidur."gumam Lisa yang masih terdengar diluaran. "Baikhlah Lisa, selamat malam. Mimpi indah."desah pasrah Allegra. Tak ada jawaban maka Allegra segera turun dan memutuskan keluar Mansion. Ia ingin berkumpul bersama teman temannya di Kasino ternama yang ada di Paris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD