Oh Noo!

740 Words
Lisa melototkan matanya melihat dari balkonnya. Sial, mobil SUV hitam milik Allegra tengah memasuki halaman mansionnya. Ia memggertakkan giginya dan berjalan cepat menuju pintu dan siap menyumpah serapahi pria tampan tersebut. Dengan gagahnya Allegra keluar dari mobilnya dan menatap bangunan indah minimalis dari kacamata hitamnya. Ia menyugar rambutnya dan menyunggingkan senyumnya melihat gadis manis yang keluar dari mansion tersebut. "Berani sekali kau brengsek!!!"umpat Lisa tepat dihadapan Allegra dan asisten setianya. Allegra hanya mengangkat sebelah alisnya dan menilai penampilan gadis tersebut dari atas ke bawah. Nampak rambut pirang yang selalu dibiarkan terurai dengan indah, sweater putih kebesaran bergambar kelinci dan hotpants memperlihatkan kaki jenjang mulus. Serta sepatu sneakers yang membuat Allegra menahan tawa. Yang benar saja gadis ini memakai sepatu sneakers dirumahnya. Dalam hati Lisa mengumpat melihat Allegra tengah menahan tawa ketika ia memakai sepatu sneakers. Bagaimana tidak? Ia barusaja membuat tatto di bagian tungkai kirinya bergambar kalajengking. Dan Allegra datang secepat ini?! What the f**k! "Nona, apa kau setiap hari memakai sepatu?"tanya Rico menahan tawa. "Iya kenapa?! Masalah?! "Sengak Lisa membuat Allegra terkekeh geli. "Menarik, lucu."ucap Allegra sambil menurunkan kacamatanya. "Damn it! You bastard! Kenapa kalian datang kesini!! Apa rumah kalian tergusur?!" "Manisku, bukannya mansionmu yang akan kami gusur? Mengingat kami yang mengambil alih semua asetmu? Yah, setelah aku melihat lihat. Aku jadi ingin memilikinya. Well, seleramu bagus sekali dalam dekorasi." "Enak saja! Namaku Monalisa. Dan enak saja kau mau menggusur mansion ku?! Langkahi dulu mayatku." "Kalau itu syaratmu. Maaf, tapi aku tak bisa. Membiarkanmu hidup suatu kebahagian untukku. Apa lagi saat kau sedang kesal seperti ini."enteng Allegra membuat Lisa menatapnya sengit. "Fine. Kalian sebenarnya mau apa?!" "Mansionmu." "Mansion ku! Ini mansionku, ayolah Allegra. Aku hanya memohon padamu. Kalu ini biarkan aku memiliki mansionku."mohon Lisa dalam hati mengumpat. "Maaf sayangku, apa yang membuatmu tak rela melepaskan bangunan ini. Aku heran? Apa papamu menaruh berlian disini?"seringai Allegra pada Lisa. "Aku berliannya. Monalisa berlian Devano." "Hmm, kau benar. Bagaimana kalau kau tinggal disini bersamaku? Kau tak akan aku usir. Dengan syarat kau bekerja sebagai pelayan. " "Setelah ku fikir, aku menyerah. Aku mau." "Pelayan khususku dan pelayan nafsuku." Plaaaakkk Tamparan keras membuat bibir Allegra sobek. Nafas keduanya saling memburu menahan amarah. Keduanya saling menatap nyalang. "Bajingan! Aku masih punya harga diri. Meskipun harus makan di tong sampah dan tidur dipelataran. Aku siap asalkan tidak memenuhi nafsu bejatmu itu. Apa kau fikir membuatku kesal itu lucu?! Aku punya batas kesabaran Allegra. Kalaupun aku tak boleh tinggal disini. Aku siap tidur diluar pelataran dan makan bekas tempat sampah."ucap Lisa berkaca kaca menahan amarahnya. Kuku panjangnya hampir menembus kulit menahan supaya tak menghajar pria dihadapannya. Grep. Allegra memeluk erat tubuh Lisa yang langsung menegang. Rico dan semua orang nampak terkejut melihat seorang Allegra memeluk wanita. "Aku tak akan biarkan itu. Jika aku bajingan, aku adalah bajingan yang terhormat. Dan khusus dirimu, tak akan aku biarkan hidupmu menggelandang. Maaf kalau bercandaku keterlaluan." "It's okay. No problem."datar Lisa berusaha melepas pelukan Allegra. Sedangkan pria tersebut nampak kecewa mendapat penolakan Lisa. "Ada apa dengan ku?"batin Allegra merasakan detak jantungnya yang bergemuruh. Lisa mengedarkan pandangannya dan tersenyum ketika melihat deretan anak buah Allegra diantaranya adalah Romeo. Pria itu mengangguk seakan faham kode yang diberikan. "Mari kalau begitu. Aku arahkan kalian semua."datar Lisa serta kata yang terucap begitu dingin. "Anak buahmu bisa tinggal dua sampai lima di paviliun belakang. Lantai atas itu khusus kamarku. Disini ada taman, kolam renang, dan tempat gym. Jadi aku hanya bisa menampung anak buahmu lima orang. Selebihnya ikut dikediamanmu." "Kalau begitu Rico, Justin, Mike, Wile, dan George." "Emm, bisakah aku berpendapat kalau orang itu diganti dengan dia?"tunjuk Lisa pada George dan kembali menunjuk Romeo. Ia nyengir takut takut pada Allegra yang sedang menyerngit heran. "Kenapa?" "Aku takut dengan pria itu. Bukannya bagaimana, cuma... badannya yang besar ditambah kulitnya yang hitam membuatku takut. Berbeda dengan dia yang terlihat seumuran dan kurasa orang muda itu tenaganya optimal. Dia pasti bisa berjaga 24 jam. Apalagi anak muda jaman sekarang pintar pintar, juga tubuhnya kecil. Cukuplah menghemat ruang."ringis Lisa dikekehi garing hingga membuat Allegra tersenyum melihatnya. "Of course baby. Just for you."ucap enteng Allegra membuat Lisa mengembangkan senyumnya dengan lebar. "Terimakasih. Kau orang pertama yang menghargai pendapatku. Terimakasih." "Hmm. Kalau ada perlu, jangan sungkan sungkan minta bantuan padaku."datar Allegra mengacak rambut Lisa. Keduanya menatap canggung dan mengatur nafas akibat debaran yang berpacu 2×. "Ternyata senyummu lebih indah dan menyejukkan."batin Allegra menatap netra kelam milik Lisa. "Jaga hatimu Lisa, bentengi dengan kokoh dan jangan sampai runtuh."batin Lisa merasakan debaran jantungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD