The Jerk

961 Words
"Tuan dari mana saja?" "Bersenang senang dengan gadis sombong."ucap Allegra sambil terkekeh mengingat wajah Lisa. "Club?"tanya anak buah Allegra yang hanya disahuti gelengan. "Apakah kesenanganku berasal dari Club? Lagipula apa yang membuatku bahagia disana?" "Saya hanya bertanya. Nona Ovy sangat sulit ditemui tuan, bagaimana?" "Tujuan utama kita adalah Monalisa. Aku ingin mendapatkan gadis itu segera." "Jangan bilang anda tertarik?"ucap penuh selidik. "Rico, menurutku ia tak ada sangkut pautnya dengan ayahnya. Kalaupun ia menyukaiku, maka ia akan bertekuk lutut padaku. Dan Devano bisa apa?"seringai Allegra pada Rico, anak buahnya yang setia. "Entah mengapa, saya rasa anda tertarik dengannya. Berhati hatilah tuan, dia juga musuh kita." "Hmm. Ya, rasa tertarik itu bisa hilang tergantikan oleh bosan. Aku harap seperti itu pandanganku padanya." "Jangan sampai rasa itu tergantikan oleh kata cinta." "Allegra tidak mungkin bisa jatuh cinta. Allegra bisa dengan mudah menaklukan siapa saja. Aku ingin esok, perusahaan Devano berpindah tangan padaku." "Baik tuan." Allegra dengan senyum penuh arti memasuki kamarnya yang bernuansa merah maroon. Ia melihat warna merah seakan darah segar. "Cepat atau lambat, kau akan berpasrah diri padaku Monalisa. "Ucap Allegra sambil menyesap wine. Lain dengan Lisa yang sedang frustasi karena beberapa kali menolak panggilan untuk menghack situs dan membunuh orang. "Arrggghh, gara gara pria itu aku bisa bangkrut." Lisa memilih untuk pergi ke tempat gym dimansionnya sendiri. Mansion bekas ibunya tinggal di Paris lalu ia rombak besar besaran. Semua bernuansa hitam dan putih, dilengkapi tempat gym dan kolam renang yang luas. "Oh, aku merindukan istanaku. Sudah lima tahun aku tak kesana. Bagaimana bentuknya? Aku rindu buaya dan piranha. Aku juga merindukan desain ruang kerjaku yang dipenuhi senjata. Daripada disini? Hanya ada satu tempat menyimpan senjata yaitu ruang bawah tanah dan lainnya sama seperti mansion biasa." Dering telfon membuat Lisa terbangun. Dengan malas ia mengangkat panggilan dari Romeo. "Apa, kampret?!" "Em, maaf mengganggu nona. Tapi ada info disini. Mr. Alle sedang berusaha mengubah kepemilikan perusahaan ayah anda atas nama Monalisa. Itu berarti anda akan mengalami kebangkrutan. Semua penanam saham mulai berkurang setiap menitnya." Mata Lisa membulat. Ia menggertak geram mendengar laporan Romeo. Ia segera menyalakan laptopnya dan melihat perkembangan perusahaan ayahnya atas nama saudarinya. Dan betul, semua sudah terlambat. Perusahaan itu sudah diambang kebangkrutan. "Bagaimana bisa?! Aku barusaja bertemu dengannya dan dia sudah seperti ini?! Apa maksudnya?! Alleggraaa.... awas saja kau."umpat kesal Lisa. "Nona. Lindungi saja perusahaan anda. Anda seorang hacker bukan?" "Romeo, aku saat ini berperan menjadi Monalisa. Bukan Ovy, kalau aku menghentikan Allegra. Bisa saja ia curiga. Ia tahu aku orang yang lemah, kalau tahu aku bisa hack. Maka penyamaranku bisa terbongkar." "Maaf nona. Lalu bagaimana anda menghadapinya?" "Ikuti alur mainnya. "Seringai Lisa sambil menutup telfonnya. Ia meluapkan amarahnya dengan meninju samsak yang ada. Ia menyinkirkan semua yang berkaitan dengan alat tajam maupun warna merah di rumahnya. Ia sudah menyusun rencana dengan cepat. Kemungkinan besar Allegra membuat Lisa bangkrut sebangkrut mungkin. Semua aset atas nama Monalisa hanya diberikan ayahnya berupa Mansion, perusahaan, dan pesawat pribadi. Kalaupun bangkrut Lisa tenang tenang saja. Cuma actingnya harus meyakinkan bukan? Keesokan harinya, apa yang jadi bayangan Lisa menjadi kenyataan tanpa meleset sedikitpun. Lisa yang saat itu tengah berada dikantornya harus mendapatkan tamu yang tah punya sopan santun. Siapa lagi kalau bukan pria songong bernama Allegra Axello. Ia menyerngit tak suka pada pria yang sedang duduk sok bosy dihadapannya. Sedangkan anak buahnya nampak berdiri dibelakangnya. "Aku sudah muak melihat wajahmu tuan. Apa kau tak paham?"ucap Lisa menyangga tangannya menatap jengah pria yang sedang tersenyum pongah dihadapannya. "Aku sedang berbaik hati nona. Kau dalam ambang kebangkrutan, semua orang tidak berani menanamkan sahamnya padamu. Dan aku dengan baik hati ingin memperbaiki masa krisis perusahaanmu ini." "To the point saja langsung. Kau ingin membeli perusahaanku bukan? Aku sudah bangkrut dan aku tahu itu. Entah ada orang yang berusaha membuatku hancur. Aku tahu ada hacker yang berusaha membobol kemarin. Dan mereka berhasil." "Cerdas. Wanita yang cerdas. Dan aku suka itu." "Dan aku sangat membencimu." "Hati hati, antara benci dan cinta itu beda tipis. Bagaimana penawaranku?" "Aku tidak punya apa apa lagi untuk dipertaruhkan. Aku bangkrut. Aku juga tidak bisa kembali pada papaku. Aku sudah bertekad untuk mempertahankan Mansion keluarga di Paris."lesu Lisa. "Oh, sayang sekali. Apa kau tetap mau tinggal di mansion itu sebagai pembantu?" "Pembantu??? Kau gila! Aku anak orang yang terpandang. Kau ingin menjadikanku pelayan. Tidak sudi! Bajingan!" "Apa kau mau jadi gelandangan. Kau sudah tak punya apa apa lagi sekarang. Apa kau berniat jual diri? Yah, lumayanlah. Tubuhmu juga menggiurkan. Siapa yang tak mau."enteng Allegra membuat Lisa geram dan naik pitam. Plakkkkk.... Tamparan keras dilayangkan Lisa dengan tatapan nyalang menantang hingga pria tampan tersebut tertoleh kekanan. "Lebih baik aku jadi pembantu dari pada pemuas nafsu. Pikiranmu sempit, aku kira dengan jas mahalmu ini membuat pemikiranku kalau pemikiranmu itu terpandang dan terhormat. Ternyata, cuih." Lisa dengan geram meninggakkan ruang kantornya untuk kembali ke Mansionnya. Cukup. Ia sudah cukup tak kuat menghadapi pria songong tersebut. "Kenyataannya dia adalah gelandangan elite yang pernah aku temui." Bletak! Lemparan highheels mengenai tepat kepala asisten Allegra yang membuat kedua pria tersebut berjenggit kaget dan menoleh kebelakang. "Setidaknya itu akan membuat otakmu pintar."ucap Lisa memungut kembali sepatunya dan tanpa dosa meninggalkan kedua pria yang sedang cengo menatapnya. "Ya tuhan...ingin rasanya aku membunuhnya. Sebenarnya ia pakai otaknya tidak? Sepatunya itu sakit sekali. Aku ingin membunuhnya atau setidaknya menjahit mulutnya." "Rico, kalau kau membunuhnya. Aku pastikan kau duluan yang mati. Mulutnya itu membuatku terasa terus tertantang. Kalau kau jahit, dia bisa apa?"senyum geli Allegra pertama kali hingga membuat asistennya heran. "Tapi dia target kita, mana mungkin tanpa menyakitinya tuan. Sedangkan kesakitannya adalah kebahagian tuan." "Terkecuali dia Rico. TERKECUALI DIA. Akan aku bunuh kalau kau menyakitinya. Aku ingin ia dalam keadaan yang sempurna dan bisa berinteraksi denganku seperti ini setiap saat."dingin dan datar Allegra menatap asistennya nyalang. "Baik tuan. Tidak akan pernah."getar ketakutan Rico. "Good job."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD