Jack

761 Words
"Ah, s**t! kampret! Untung bisa menguasai 6 bahasa. Indo, inggris, mandarin, rusia, jerman, dan perancis." Umpat Lisa berjalan tergesa gesa. Ia barusaja mendapatkan pekerjaan untuk membunuh orang orang yang ada di Paris malam ini. Itu memakan waktu, dan kalau bukan ada nafsu membunuh, pasti Lisa tak akan sudi menerima tawaran tersebut. Toh uang yang diberikan tidak lebih besar dari pendapatannya sebagai pemilik Club dan Restoran berbintang. Lisa memakai jubah satin berwarna hitam. Ia ditugaskan membunuh 3 orang laki laki tanpa harus meninggalkan jejak. Simpel. Targetnya bernama Louis, Eddy, dan Jack. Mereka semua pengendali di Kasino ternama yang ada di Paris. Keindahan kota Paris tak menggoyahkan niatnya untuk membunuh. Ia segera menuju ke lokasi setelah mendapatkan foto yang dikirim client kaya yang menghubunginya tadi. Pertama, ia memutuskan untuk mendekati Louis. Pria berbadan tegap berkulit putih dan cukup tampan. Ia menyeringai dan memutuskan untuk membuka jubahnya memperlihatkan pakaian minim yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya. Ia juga mengenakan sarung tangan rajutan yang indah senada dengan pakaian merah menyala. Saat kakinya mendekati Louis, semua mata langsung tertuju padanya. Ia tersenyum manis kearah Louis dan mengkode pria tersebut untuk bermain dengannya dalam artian s*x. Kabut gairah pria tersebut sudah tak tertahankan melihat gadis secantik Lisa dan semenawan Lisa. Semua tatapan lapar harus mendesah kasar karena Louis yang beruntung mendapatkan Lisa. "Hai."sapa Louis yang sudah menggandeng Lisa kekamar khusus yang sudah disetting. Semua CCTV sudah terhack sempurna. Ia akan mengedit kejadian dan menghilangkan sosoknya. Lisa hanya tersenyum berusaha menggeget giginya supaya tidak gemeretuk. Setelah pintu berhasil ditutup, Lisa menembakkan pistolnya tepat kejantung Louis dan membuat pria tersebut berjenggit kaget dan tumbang seketika. "Warna darahmu berkilauan, Lou."senyum mematikan Lisa. Dengan cepat ia melancarkan aksinya pada target kedua. Eddy berada dikamar sebelah bersama wanita panggilan. Dengan sedikit actingnya, Lisa menggedor pintu kamar Eddy dan memasang raut panik. Pintu terbuka dan membuat Lisa menyelonong masuk membuat pria buncit bertelanjang dada itu kebingungan. "Tolong saya, pria itu mau membunuh saya."ucap ketakutan Lisa. "Siapa?" "Tuan Louis." "Ada apa dengan Louis? Kenapa ia ingin membunuhmu?" "Entahlah, bantu saya tuan. " Tanpa curiga, Eddy mengikuti Lisa. Pintu seketika ditutup Lisa dengan tangan kanannya dan langsung menembakkan pistolnya kearah kepala Eddy dengan tangan kirinya. "Whahaha... gotha."senyum puas Lisa menatap kedua mayat yang sudah limbung berceceran darah. "Aku bawakan kalian pistol masing masing, supaya orang orang mengira kalian terlibat cekcok dan saling membunuh. Cerdas bukan?" Kali ini tinggal satu korban lagi yang harus diselesaikan. Lisa kembali mengenakan jubahnya dan mencari target yang terakhir. Pria yang berbadan tegap namun sudah beruban. "Hello."sapa Lisa didekat Jack yang membuat pria itu menatap sebentar lalu fokus kembali pada permainan judinya. Oke, yang terakhir mungkin akan sulit dikelabuhi. Uban adalah penanda berapa banyak pengalaman yang orang peroleh. "Kau akan menang dalam waktu 5 menit. Kau punya kartu kartu keberuntungan disini. " "Tau apa kau?" "Jangan keluarkan dia saat ini. Jika kau berfikir angka ini paling buruk diantara kartu besarmu itu, yakinlah padaku. Lalu keluarkanlah dia pada saatnya. Maka ialah keberuntunganmu."ucap Lisa menunjuk angka 2 keriting diantara kartu kartu besar. Pria itu hanya menyerngit dan mencoba kemampuan gadis yang baru ia lihat dikasino tersebut. Dan benar saja. Lima menit berjalan dan Lisa menepuk bahu Jack sambil mengarahkan angka 2 tersebut diatas kartu kartu lawan. Dan hasilnya jackpot! Semua taruhan yang ada dimeja dimenangkan Jack. Pria itu menoleh dan mengagumi kecerdasan bermain otak gadis muda disebelahnya tersebut. Bila wanita wanita yang sering menemani judi hanya menunjuk sesuai hati nurani. Tapi dari penghilatannya dan dari perkataan gadis tersebut, sepertinya ia sangatlah cerdas. "Kau yang dapatkan semua ini nona." "Tidak perlu. Aku hanya ingin membantumu." "Kau sangat pandai berhitung." "Bukan menghitung, tapi analogis. Berfikir jauh melebihi orang genius fikirkan. Dan itu semua harus simetri dan terencana dengan rapi. Bila ingin bisa memanah, maka belajarlah menembak. Bila ingin bermain sulap, belajarlah mengendalikan fikiran, bila ingin hasil yang sempurna maka rencanakan matang matang." Ucapan Lisa membuat Jack terdiam sebentar lalu tersenyum. Pemikiran Lisa adalah pemikiran seorang psikopat. "Jadi nona siapa anda?" "Aku rasa cukup rahasia." Jack mengangguk paham dan mengikuti arah Lisa pergi. Lisa menggiring Jack ketempat pembantaiannya tadi. Perkiraannya tak meleset. Pergerakannya sudah terbaca Jack, gerakan pistolnya kini sudah dibalik oleh Jack secepat kilat setelah laki laki tersebut melihat genangan darah. "Jangan berfikir kalau orang tua itu mudah dibodohi nona. Kau apakan kedua rekanku?" "Aku sedang menjalankan tugasku saja pada mereka. Dan kini giliranmu."ucap Lisa meraih kalung peraknya dan memutar lihai pisau lipatnya. Jack membulatkan matanya saat melihat tulang selangka kiri Lisa yang menyimpan pisau lipat tersebut ada tatto kecil mawar hitam sepanjang 10 cm. "Devano." Pergerakan Lisa terhenti seketika ketika pria itu menggumamkan nama ayahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD