Meet You

804 Words
Langkah kaki terdengar beriringan dimalam hari. Sekumpulan pria berpakaian hitam mengiringi pria tampan berbadan tegap. "Tuan, apa anda yakin putri Devano ada disini?"tanya pria berbadan kekar pada pria muda bertampang datar. "Ya, aku dengar kabar dari informan kalau esok putri Devano akan dimunculkan dimuka publik. Entah apa tujuan pria bangka tersebut, tapi kita tak bisa melewatkan kesempatan emas ini." "Apa menurut anda gadis itu mempunyai ilmu yang sama dengan ayah dan ibunya?" "Aku rasa tidak. Mana mungkin Devano mengenalkan dunia mafia yang begitu kejam pada putrinya, terlebih ia sudah berjanji untuk keluar dunia mafia setelah ia menikah." "Kalau begitu, apa rencana anda tuan Alle?" "Ayah pasti sangat menyayangi anaknya. Apa lagi kalau seorang gadis, aku ingin menjadikannya pancingan supaya Devano berhadapan denganku. Aku juga ingin gadis itu merasakan penderitaanku. " "Saya dengar dengar gadis itu sangatlah cantik tuan, identitasnya sangat dijaga rapat oleh pihak keluarga." "Kita akan dapatkan dia. Karena Allegra selalu mendapatkan semuanya. Aku juga ingin bertemu dengan ketua mafia terbesar di Paris. Aku dengar potensinya sangat hebat mengingat usianya masih sangat muda." "Ya, nona Ovy tak pernah menampilkan raut wajahnya langsung disetiap pertemuan. Tapi, kemampuannya tak bisa diragukan. Dia terpaut tiga tahun dari anda." "Aku akan membuatnya bertekuk lutut padaku. Siapa yang berani menolak pesona Allegra? Tak akan ada yang mampu." Pagi ini, Lisa sudah disambut wartawan yang sudah memenuhi bandara. Ia mengenakan masker dan kacamata hitam hingga membuat semua orang penasaran dibuatnya. Disana juga berdiri Allegra bersama anak buahnya menatap gadis berambut pirang dengan penampilannya yang glamour. Ia berdecak sinis menilai penampilan Lisa. "Dari penampilannya saja sudah mencerminkan wanita papan atas. Di gertak sedikit saja pasti sudah menangis."cibir Allegra. "Nona Monalisa, bolehkah kami melihat wajah anda langsung? Kami ingin melihat putri Devano yang selama ini disembunyikan dari publik."ucap salah sat wartawan yang menjadi provokasi. Seakan sudah menjadi rencana, Lisa tersenyum menyeringai dalam maskernya. Ia mengangguk manis dan melepas kacamatanya. Semua seakan terhipnotis dengan mata bulat hitam kelam milik Lisa, bahkan Allegra merasakan tubuhnya bereaksi aneh saat menatap netra hitam tersebut. Lisa dengan hati hati melepaskan maskernya dan semua kamera langsung memotret wajah cantik manisnya. Ia tersenyum dan membuat para pria langsung memekik kelimpungan. Allegra bahkan sudah terdiam bagai patung. "Ada apa dengan tubuhku? Jangan. Jangan sampai aku jatuh cinta padanya, jangan sampai. Ia yang harus aku perbudak!"tanam dibatin Allegra. Lisa mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok Allegra. Ia bertatap sekilas dengan pria tersebut dan langsung pamit undur diri dari hadapan publik. "Dapat kau! Pesona Monalisa tak pernah bisa dielakkan. Allegra, mari bermain denganku."batin kemenangan Lisa. Lisa duduk bensandar sofa empuk disalah satu hotelnya. Ia dengan santainya menyalakan rokok dan mengebulkan keudara. Beberapa panggilan berdering membuatnya tersadar dan mengumpat kasar. "Gimana gue bisa lupa kalo ada M&G hari ini.... bego! Pake baju apa ini?!" Dengan segera Lisa mandi dan bersiap. Ia mengenakan sweater biru muda dengan celana levis putih. Tak lupa ia menaburkan aksen make up diwajahnya. Semua orang menyorotnya. Dengan senyum terpaksa, ia melenggang dan duduk ditempat yang disediakan. Acara meet and great berlangsung dengan lancarnya hingga membuatnya sedikit bosan. Ia menahan hasratnya untuk tidak pergi ke Club minggu ini. Ia tahu kalau semua pergerakannya akan dipantau oleh Allegra. Ia tak boleh melakukan kesalahan sedikitpun. Romeo sudah bergabung dengan Allegra. Ia menyamar menjadi asisten Allegra, hal itu membuat Lisa gembira bukan main. Malamnya ia memutuskan untuk pergi ke galeri Monalisa. Ia ingin menatap lukisan Da Vinci yang fenomenal dan membuat orang tuanya menamainya Monalisa. Lisa menelusuri tekstur lukisan tersebut penuh penghayatan. Tak jarang kepalanya ia miringkan ke kanan maupun kekiri. "Aku sudah memperhatikanmu hampir setengah jam untuk memandangi lukisan itu. Apa begitu menarikkah?"tanya pria bersuara bass yang membuat Lisa menoleh dan terkejut seketika. Allegra berdiri dengan jarak yang begitu dekat. Pria itu tersenyum padanya, sedikit menyeringai. "Aku sedang memperhatikan lukisan ini. Orang pasti akan mengerti. Sedangkan kau? Memperhatikanku selama setengah jam?"tanya membuat Allegra terkejut tanpa sadar. "Aku penasaran. Bukannya kau adalah orang yang sedang dibicarakan media saat ini? Aku memperhatikanmu. Lucu."ucap Allegra entah tanpa sadar pada kalimatnya terakhir. "Hah? Kau kurang kerjaan sekali tuan."cibir Lisa. "Sadar diri."kekeh Allegra. "Apa aku mengenalmu? Aku rasa tidak. Di asalku tidak memperbolehkan berbicara dengan orang asing." "Kau tidak mengenalku? Allegra?"respon Lisa hanya datar dan menaikkan sebelah alisnya tanpa minat dan membuat Allegra gregetan sendiri. "Aku tidak tahu dan tidak mau tahu." "Baiklah, kalau kita kenal. Apa kita bisa jadi teman?"ajak Allegra membuat Lisa nenyerngit tak paham dengan jalan fikir pria itu. "Kau tadi sudah tahu aku yang dibicarakan banyak media. Jadi aku tak usah berkenalan." "Tapi aku belum." "Dan aku tidak mau. Sampai jumpa."dadah Lisa dan beranjak pergi meninggalkan Allegra yang gemas sendiri. "Kenapa dia gadis yang membuatku gemas sendiri? Kenapa harus dia? Arrrrgggh..."teriak frustasi Allegra. "Monalisa, kalaupun kau yang membuatku jatuh cinta. Maka kamu yang harus bertanggung jawab. Because you are mine. Dan siapun tidak ada yang boleh mengambil apa yang jadi milikku."seringai tajam Allegra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD