Semua bermula dari pernikahan yang dijalani oleh Bilal dan Mina. Bilal merupakan pria kaya raya dan dermawan. Ia tak pernah melupakan kewajibannya atas diri pribadi dan harta-harta yang ia miliki. Ia juga menyanggupi diri untuk menanggung beban hidup para fakir yang mengabdikan diri untuk agamanya. Namun, pernikahan yang nyaris sempurna itu malah tak memiliki keturunan sejak awal pernikahan mereka. Mina dinikahi sejak 15 tahun silam tapi dia tak kunjung memberikan anak untuk Bilal.
Hari demi hari terus berlalu. Tiba saatnya Bilal berangkat ke luar negeri untuk mengurus beberapa bisnisnya. Sebelum sang suami pergi, Mina mengungkap sesuatu yang menjadi beban pikirannya selama ini.
"Mas," panggilnya pada sang suami dengan lemah lembut.
Gadis berjilbab itu tampak sederhana meski bergelimang harta.
Bilal menoleh pada istrinya yang manis itu.
"Aku sudah memikirkan ini berkali-kali. Tidak, bahkan aku sudah memikirkannya ratusan kali," ucap Mina lagi.
"Apa yang kau pikirikan?" tanya Bilal mengusap kepala istrinya.
"Aku ingin kau menikah lagi—"
"Aku tidak akan melakukannya!" tegas Bilal memotong kalimat tersebut.
Mendapat respon yang seperti itu, Mina menutup rapat mulutnya dan tak berani bersuara sedikitpun. Ia enggan memulai perdebatan.
Setrlah sempat hening sejenak, Bilal menarik napasnya dan memulai semuanya sengan kepala dingin. "Mengapa kau ingin aku melakukannya?" tanya Bilal.
"Aku ingin kau memiliki keturunan yang bisa meneruskan semua ini," jawab Mina.
"Tapi itu akan menyakiti hatimu. Akan ada wanita lain yang akan aku perhatikan selain dirimu. Akan ada wanita lain di rumah ini selain dirimu. Kau bukan lagi satu-satunya jika aku menikah lagi," jelas Bilal.
"Kalau begitu, ceraikan—"
"Tidak!" Bilal kembali memotong kalimat istrinya. "Aku tidak akan menceraikanmu. Meski kau mati sekalipun," lanjutnya.
"Baiklah, aku akan menyanggupi sakit hati itu. Apapun agar kau memiliki keturunan," jawab Mina dengan mata berkaca.
Sejak saat itu Bilal dan Mina mencari seorang wanita yang pantas untuknya mendapatkan keturunan. Hingga ia menemukan sosok Sophia. Seorang p*****r yang terjebak profesi keluarganya. Sophia berusaha melarikan diri dari tempat prostitusi yang dilakukan oleh semua anggota keluarganya. Ia tak ingin melakukan hal itu lagi.
Keluarga Sophia tak memiliki kepercayaan apapun. Mereka hidup dengan nalar mereka sendiri. Mereka percaya akan apa yang mereka pikirkan. Tidak dengan Sophia yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Dunia tak tercipta dengan ketidaksengajaan. Pasti ada penciptanya.
"Tuhan, mungkin aku terlalu durhaka pada kedua orangtuaku karena telah menyakiti hatinya. Tapi aku tahu bahwa Engkau maha mengetahui atas apa yang terjadi padaku. Tuhan, berikan kemudahan untukku beriman kepadamu," ucap batin Sophia sambil terus berlari dari tempat haram itu.
Dalam pelarian Sophia dari keluarganya. Ia bertemu dengan Bilal di tempat yang tak terduga dengan pakaian yang kurang pantas untuk seorang wanita.
Bilal yang sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah tempat dengan mobilnya, tak sengaja menabrak gadis yang ketakutan itu. Sophia terluka dan Bilal membawanya ke rumah sakit terdekat. Sebagai suami yang menghargai istrinya, Bilal memberitahukan hal tersebut kepada Mina melalui ponsel saat menunggu di ruang IGD.
Mina ikut datang ke rumah sakit menemui suaminya tersebut lantaran khawatir akan kondisi Sophia. Bilal tak berani menghampiri Sophia di dalam biliknya lantaran ia takut menyakiti hati istrinya.
Mina dan Bilal berdiri di balik gorden hijau dan mendengar tangisan Sophia. Terdengar jelas bahwa gadis itu berusaha menahan tangisannya. Mina ikut iba mendengar hal tersebut. Mungkin gadis itu sangat kesakitan, pikirnya.
Nyatanya tidak. Sophia menangisi perjuangannya untuk beriman kepada Tuhan. Ada saja yang membuatnya hampir menyerah. Seolah Tuhan tak menyayanginya. Seolah ia dibohongi oleh pikirannya sendiri. Ia percaya Tuhan itu ada. Tapi Tuhan tak mendengar doanya, begitu pikir Sophia.
Dia telah berdoa agar Tuhan mempermudah jalannya dalam beriman, tapi malah ia ditabrak oleh seseorang di jalanan.
"Tuhan, jika ini yang terbaik untukku. Apapun itu akan aku lewati atas namamu. Tapi, berikan sebuah harapan untukku melanjutkan ini semua. Atau berikan aku sebuah petunjuk untukku menghentikan ini semua." Batin Sophia terus mengucapkannya.
"Apa masih sakit?" tanya Mina memberanikan diri masuk ke dalam bilik.
Sophia segera menghapus air mata dan berusaha menutupi tubuhnya yang terbuka. Mina menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu.
"Mafkan suamiku. Kami akan mengurus semua biaya rumah sakit dan mengantarmu pulang," ucap Mina lagi.
"Aku tidak ingin pulang," balas Sophia dengan derai air mata.
"Kenapa?" tanya Mina.
Sophia menceritakan semua yang terjadi padanya. Jilbab yang Mina gunakan menjadi pertanda bahwa Mina adalah seorang muslimah. Mungkin Mina akan mengerti mengapa ia melakukan ini semua.
Mina sempat terkejut akan beberapa hal yang Sophia ceritakan. Wanita itu juga ikut menangis akibat membayangkan perjuangan Sophia. Mungkin iman yang ia miliki tak sekuat p*****r yang berada di hadapannya.
Mina memeluk Sophia sambil mengusap pundak gadis itu untuk menenangkannya. "Aku saudaramu. Jika kau ingin bersyahadat dan memeluk Islam, suamiku bisa mengislamkanmu," ucap Mina.
Mendengar kalimat tersebut, air mata Sophia semakin membanjiri wajahnya. Ia telah menyerahkan semuanya kepada sang pencipta, dan ini balasannya. Tuhan tak pernah mengabaikan doa hamba-Nya. Jalan ini benar-benar dipermudahkan meski harus terjadi kecelakaan dan mematahkan kaki Sophia.
Setelah kejadin itu, Sophia dibawa ke rumah mewah milik Bilal bersama istrinya. Di Mushola rumah itulah Sophia mengucap syahadat dan berjanji akan menjadi hamba yang taat kepada sang pencipta.
Lambat laun kehadiran Sophia menjadi sebuah keberkahan di rumah tersebut. Mina dan Bilal sepakat untuk menjadikan Sophia istri kedua. Setelah mendengar alasannya dari Mina, Sophia menyetujuinya. Lagipula Bilal tak kekurangan harta untuk berlaku adil pada istrinya. Bilal juga mampu memperhatikan istrinya dengan seadil mungkin.
3 bulan lamanya pernikahan kedua itu terjadi, diketahui bahwa Sophia sedang mengandung anak Bilal. Di sinilah awal cobaan lainnya terjadi.
Sophia yang sedang hamil sering merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama pada pinggang dan tulang belakangnya. Sophia yang sakit-sakitan mengharuskan Bilal merawatnya dan menjaga anaknya yang sedang Sophia kandung.
Sophia yang kadang kala susah tidur akibat perutnya yang tak nyaman, juga lebih banyak menyita waktu Bilal untuk menemaninya tidur. Sementara Mina tak pernah merasakan itu semua.
Mina mulai cemburu sebagaimana layaknya seorang wanita. Dia bukan malaikat yang tak memiliki nafsu akan apapun. Dia juga ingin diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Dia juga ingin diperhatikan lebih dari Sophia. Dia ingin dipelakukan istimewa seperti Sophia.
Mina mulai menyematkan rasa iri pada pada madunya tersebut.
"Mungkin kau lupa karena apa kau dinikahi. Aku akan menunggu hingga anak suamiku dilahirkan dari seorang p*****r sepertimu," ucap Mina di balik pintu kamarnya kala itu.