Sophia berjalan melihat-lihat sekeliling rumah Faiz yang terbuat dari kayu dan papan. Terdapat ukiran Assalamu'alaikum di atas pintu rumahnya. Sophia juga memasuki pekarangan ladang yang akan digunakannya untuk bercocok tanam. Kebun itu sangat luas, akan banyak tenaga yang ia gunakan untuk mengurusi ladang tersebut terlebih lagi tak ada mesin maupun listrik di kota itu.
"Bagaimana aku bisa menyirami semua sayuran dengan ladang seluas ini?" tanya Sophia pada dirinya sendiri.
"Gunakan otakmu. Aku tidak membelimu dengan harga yang murah karena otak itu," jawab Faiz di belakangnya dan membuat wanita itu terkejut sambil menoleh.
"Dengan apa biasanya orang-orang menyirami tanamannya di sini?" tanya Sophia.
"Dengan ember besi itu," tunjuk Faiz pada kumpulan ember besi yang berjejer di sungai.
Sophia mendekati sungai yang sangat deras di sebelah ladang tersebut. Bebatuan besar mengelilingi sepanjang aliran sungai. Sophia berjongkong di sana sambil menikmati bias air yang melayang bak debu.
Ia mencoba mengangkat ember besi itu dan beratnya tak pernah Sophia bayangkan. "Apa tidak ada ember yang lebih ringan?" tanya Sophia pada tuannya.
"Ember kulit di dalam gudangku. Tapi kau tidak boleh menggunakannya untuk menyiram ladang, karena itu sangat mahal dan jika kau lupa menaruhnya pasti akan dicuri!" tegas Faiz.
"Aku bahkan tak sanggup mengangkat embernya, apalagi dengan air di dalamnya," ucap Sophia.
"Gunakan otakmu," ucap Faiz lagi dan lagi. Seolah ia tak ingin merugi dengan 250 karung gandum yang telah ia tukarkan menjadi seorang b***k.
"Aku membutuhkan sesuatu," ucap Sophia.
"Katakan."
"Aku butuh 2 orang laki-laki," jawab Sophia membuat Faiz mendorongkan alis-alisnya.
"Kita bisa membuat sumur dekat rumah untuk aku mengairi ladang dengan cepat," jelas Sophia sambil menunjuk kemana arah air akan ia alirkan nantinya.
"Aku tidak akan memberikannya," jawab Faiz sambil memalingkan wajah ke arah lain. Sophia segera menghampiri pria itu.
"Begini, Tuan. Posisi rumahmu berada lebih tinggi dari ladang yang luas ini. Jika terdapat sumur di atas sana, aku bisa menyiraminya lebih cepat dari atas karena air akan turun ke ladang paling bawah menuju sungai karena efek gravitasi," jelas Sophia agar pekerjaannya bisa diringankan.
"Bagaimana bisa? Ladang hanya akan disiram menggunakan air dari sungai! Sudah seperti itu sejak berpuluh-puluh tahun!" tegas Faiz.
"Itu dulu! Sebelum aku berada di sini. Seharusnya kita bisa mempermudah semua pekerjaan sehingga sistem p********n ini dihapuskan!" Sophia ikut mempertegas kalimatnya.
Faiz membesarkan kedua matanya menatap wanita itu. Sophia terpaksa menunduk karena tak seharusnya ia menggunakan nada bicara seperti itu pada sang tuan.
"Kau yang mengatakan aku harus menggunakan otakku," ucap Sophia pelan.
"Sirami ladang dengan sebagaimana mestinya!" tegas Faiz dan menghempas langkahnya menuju rumah.
Lokasi rumah Faiz tak sama seperti pondok Sophia kemarin. Air tidak mungkin berjalan menanjak, satu-satunya cara tercepat untuk menyirami ladang adalah membuat sumur di dekat rumah Faiz.
***
Sehari telah berlalu, meski matahari belum terbangun namun keadaan rumah-rumah telah ramai. Gemercik air juga ikut meramaikan suasana di subuh yang gelap itu.
Semua orang sibuk mengerjakan sholat subuh, termasuk Sophia yang dibawa oleh Faiz ke Masjid untuk sholat berjamaah. Di sana Sophia menemui banyak wanita lainnya. Mereka semua membuat bising Masjid itu dengan suara-suara dan kata-kata yang tidak bermakna.
Sophia hanya berdiam diri sambil menunggu waktu sholat. Terdengar olehnya beberapa wanita mengobrol tentang Faiz dan dirinya.
"Tuan Faiz yang membeli b***k tawanan itu dengan harga 250 karung gandum!"
"250?! Memangnya secantik apa wanita itu?"
"Entahlah, aku tidak turun ke rumah Tetua kemarin, jadi aku tidak tahu."
"Memangnya untuk apa dia membeli b***k perempuan? Bukankah ladang Tuan Faiz adalah ladang terbesar di kota kita? Bisa mati b***k itu jika ditugaskannya berkebun."
Sophia terus mendengarkan percakapan mereka.
"Mungkin dia membeli b***k itu untuk menggantikan istrinya!"
"Istri? Memangnya pria itu memiliki istri?" ucap Sophia dalam benaknya.
Namun percakapan para wanita itu terhenti karena suara adzan.
***
Sepulang dari Masjid, Faiz membawa Sophia ke pasar. Saat di perjalanan menuju pasar, mereka menemui beberapa orang di jalanan yang gelap.
"Assalamu'alaikum, Faiz!" ucap seorang pria menghampiri Faiz.
"Wa'alaikumussalam," jawab Faiz menjabat tangan pria itu dalam kegelapan.
"Mau pergi ke mana?" tanya pria itu sambil tersenyum.
"Membawa dia ke pasar," jawab Faiz ramah sambil menunjuk Sophia.
"Hum, baiklah. Lanjutkan perjalananmu, Assalamu'alaikum!" ucap pria itu enggan menangapi lebih soal Sophia.
Sesampainya di pasar, mereka mendapati kedai s**u milik pria bernama Gana'an itu telah mendapat ramai sekali pembeli yang mengantri. Faiz menghela napasnya karena ia tak suka menunggu. "Sophia! Kau hamba sahayaku yang cerdas, gunakan otakmu agar kita mendapatkan s**u itu tanpa menunggu!" perintah Faiz.
"Bagaimana bisa? Kita harus mengantri seperti yang lain!" bantah Sophia.
"Ini perintah!" tegas Faiz dan membuat Sophia tak bisa menolak.
Sophia menerobos kerumunan orang-orang yang mengantri s**u dan mendapati seorang pria tua bernama Gana'an sedang kewalahan menghadapi pelanggannya.
"Apa Anda tidak bisa lebih cepat, Tuan?" tanya Sophia.
"Aku selalu disibukkan dengan masalah ini," jawab Gana'an dengan mata fokus pada botol-botol s**u yang sedang ia pindahkan dari Milkcan (kaleng besar penampung s**u).
Sophia memaksa untuk memasuki kawasan Gana'an dan membantu pria tua itu mengemas s**u-susunya. Gana'an terlihat ketakutan akan apa yang Sophia perbuat.
"Kau layani mereka, aku akan mengisi semua botolnya," ucap Sophia.
"Tidak tidak! Aku bisa mengerjakannya sendiri. Keluarlah dari tempat ini!" ucap Gana'an penuh ketakutan.
"Aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalah ini, Tuan," ucap Sophia.
"Tidaakk! Aku tidak membutuhkan bantuan! Keluarlah!"
Faiz mendengar keributan itu dari kejauhan dan ia ikut menghampiri kerumunan pelanggan Gana'an. Ia sangat terkejut akan apa yang Sophia perbuat. Dengan kasar pria itu menarik tangan Sophia keluar dari tempat itu. Hal tersebut cukup menyita perhatian para pelanggan dan orang-orang di pasar.
"KAU HAMBA SAHAYAKU! AKU YANG MEMBELIMU! KENAPA KAU BEKERJA PADA GANA'AN?!" teriak Faiz membuat Sophia terkejut dan terdiam.
Ya, tidak seharusnya Sophia berkerja pada orang lain selain majikannya dan Sophia tidak mengetahui hal itu.
"Aku hanya membantu—"
"KAU BUDAKKU. BAHKAN JIKA AKU MENYURUHMU MENJILAT LUDAHKU, KAU HARUS MELAKUKANNYA!" teriak Faiz memotong kalimat Sophia.
"Kau yang menyuruhku untuk menggunakan otakku agar kau mendapatkan s**u itu tanpa menunggu, Tuan. Lalu apa salahku?" ucap Sophia yang juga ikut tak terima diteriaki seperti itu di tengah keramaian pasar.
"APA SALAHMU? KAU BERTANYA, APA SALAHMU? KAU BUDAKKU DAN KAU BEKERJA UNTUK ORANG LAIN, BEGITU CARAMU MENGHORMATI MAJIKANMU INI?!! HARUSNYA AKU LANGSUNG MEMOTONG TANGANMU DI KEDAI GANA'AN!!" teriak Faiz lebih keras lagi.
Sophia terdiam, bahkan ia tak tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang b***k.
"Apa seperti ini seorang muslim diajarkan?" tanya Sophia menahan air matanya yang hendak jatuh. Ia benar-benar dipermalukan oleh majikannya itu.
Semua orang yang mendengar kalimat Sophia ikut terkejut akan pertanyaan itu. Tidak, seorang muslim tidak seperti itu. Faiz hanya merasa tidak dihargai oleh budaknya itu. Setidaknya Sophia harus meminta ijin pada majikannya.
"Seharusnya kau tidak membentak b***k perempuanmu, Tuan Faiz. Bagaimana pun dia juga seorang wanita," ucap salah seorang dari kerumunan itu.
Faiz menoleh pada mereka yang sedang memerhatikan dirinya dan Sophia. Lalu ia menatap wajah Sophia yang tertunduk sambil mengusap air matanya. Pria itu menghela napas. "Baiklah, lakukan apa yang bisa kau lakukan. Aku ingin mendapatkan s**u sebelum panas matahari menyengat tubuhku," ucap Faiz pelan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sophia menoleh padanya. "Cepatlah! Hari semakin siang. Masih banyak pekerjaan yang harus kau lakukan!" tegas pria itu lagi. Segera Sophia mengusap air matanya dan berlari memasuki kedai s**u milik Gana'an.
"Aku akan membantumu mengurus s**u-s**u ini," ucap Sophia begitu bersemangat. Gana'an menatap gadis itu penuh kebingungan. Ia tidak akan membayarnya. Sophia adalah b***k orang lain. Tapi mengapa gadis itu ingin bekerja di kedainya. Batin Gana'an terus bertanya. "Ku mohon padamu. Tuan Faiz akan marah jika dia belum mendapatkan s**u saat matahari telah terbit nanti," lanjut Sophia.
Tanpa sepatah kata Gana'an pun menurutinya. Mereka berdua melakukan semuanya dengan cepat. Sophia sangat mudah mempelajari sesuatu.
Saat tengah mengisi semua botol s**u yang kosong. Ada beberapa b***k yang berjalan di sekitar kedai tersebut. Mereka adalah b***k yang sempat tinggal bersama Sophia di tepi sungai. Mereka berteriak-teriak memanggil Sophia dengan sebutan 'Ibu' karena Sophialah yang mengajarkan mereka banyak hal. Sophia dan beberapa orang menoleh pada b***k yang meneriaki Sophia, termasuk juga Faiz.
"Kau akan beruntung, Tuan Faiz. Apapun yang Ibu kami sentuh akan menjadi sebuah kemudahan," ucap para b***k itu.
"Pergilah!" perintah Faiz pada mereka semua dan mereka menurutinya.
Satu per satu pelanggan Gana'an meninggalkan kedai dengan sebotol s**u. Bayang-bayang manusia mulai muncul dan langit sudah menampakkan awan-awan. Sophia dan Gana'an menyelesaikan semuanya. Gana'an menghadiahkan 2 botol s**u untuk Faiz karena telah mengizinkan Sophia untuk membantunya.
"Aku sangat berterima kasih atas apa yang kau lakukan hari ini, Tuan Faiz," ucap Gana'an.
"Aku tidak melakukan apapun, berterima kasihlah pada Sophia," jawab Faiz.
Belum sempat Gana'an mengucapkan terima kasih, Sophia langsung memotong kalimatnya. "Aku memikirkan sesuatu untuk mempermudah perniagaanmu, Tuan Gana'an," ucapnya.
"Katakanlah," ucap Gana'an.
"Kau bisa mengantarkan pesanan s**u ke rumah para pelangganmu di sore hari untuk mereka minum esoknya, agar mereka tak menunggu lebih lama untuk sarapan. Jika kau membuka kedai setelah sholat subuh. Malam sebelum tidur, kau bisa memasukkan semua s**u itu ke dalam botolnya. Sehingga akan menghemat waktu untuk transaksi jual beli di kedaimu. Terlebih lagi kau tidak memiliki b***k, kau harus pandai menghemat waktu," jelas Sophia membuat Faiz dan Gana'an saling menoleh.
"Itu benar," jawab Gana'an. "Aku bahkan tak memikirkan hal itu karena terlalu sibuk dengan pelanggan setiap harinya," lanjut pria tua itu.
"Hmm, kami akan pulang. Masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan, Assalamu'alaikum," ucap Faiz menarik tangan Sophia dan membawanya pulang.
Sophia begitu senang akan apa yang ia lakukan hari ini. Ia menyukai dirinya sendiri setiap kali ia berhasil membantu orang lain. Wanita itu berjalan sambil memeluk dua botol s**u berukuran 1 liter. Dia juga terus tersenyum sepanjang jalan.
Faiz yang sedari tadi memegangi tangannya juga bisa merasakan apa yang Sophia rasakan.
"Kenapa kau begitu senang?" tanya Faiz.
"Aku berharap, semoga Allah mempermudah pekerjaan pria tua itu dan semoga Allah alirkan rezeki yang halal untuknya sebagaimana keringat pria tua itu mengalir saat melayani pelanggan-pelanggannya," ucap Sophia sambil tersenyum penuh kepuasan.
"Jangan banyak bicara!" ketus Faiz membuat Sophia refleks menutup mulutnya dengan tangan kanan dan membuat tangan Faiz menghampiri wajah gadis itu.
"Anda juga harus banyak bersabar, Tuan. Jangan sering marah-marah. Buruk di matamu, belum tentu buruk di mata orang lain," ucap Sophia dengan tangan yang masih menutup mulutnya.
"Aku menyuruhmu untuk tidak banyak bicara," ucap Faiz.
"Mau bagaimana lagi? Wanita memang banyak bicara," bantah Sophia.