[Rein Stealth] : Alvin Stealer

1507 Words
Keesokan harinya, patroli markas militer dilakukan secara berkala, dari prajurit sampai sersan yang memantau wilayah dengan tank yang mereka miliki, mirip dengan Tank T-34 yang merupakan eksekusi untuk memenangkan Perang Dunia Kedua. Namun, sudah dikembangkan oleh Angkatan Darat Reshan selama 80 tahun. Aku sudah bangun dari awal, lebih baik daripada prajurit lainnya. Cuaca sejuk pada musim gugur, udara yang dingin setelah meninggalkan bangunan yang merupakan asrama dari tentara itu. Tentara dengan pangkat yang rendah tidur dengan sunyi, masih gelap. Masih sepi karena tidak ada seorangpun yang keluar dari bangunan markas itu. Ini namanya etika militer dimana mereka harus tidur cukup untuk meningkatkan kualitas mereka sebagai tentara yang kuat. Tapi, itu tidak berlaku padaku. Aku sering mengabaikan peraturan. Ini adalah markas di wilayah luas Negara Reshan, dimana wilayah baratnya terdiri banyak kota yang bersatu dengan Euro. Sedangkan Wilayah Timur Reshan dibatasi oleh Kawasan Tengah, dan Fen Yu, negara yang terdiri dari banyak penduduk yang padat dan unggul secara ekonomi daripada Negara Ilberia, saingannya. Masa bodoh dengan babi pemalas itu! Latihan sebelum matahari terbit memiliki sensasi tersendiri. Sebentar lagi alarm akan membangunkan mereka dan disuruh bekerja dengan giat. Kaos hitam dan celana militer, digunakan untuk menyimpan berbagai senjata. Molotov dan granat disimpan di saku celana. Mungkin ini lebih baik aku menggunakan pistol ketika keluar. Tapi, aku lebih ingin menyimpan senapan AK-47 di belakangku, sama seperti seorang pendekar yang menyimpan pedang di punggungnya atau seorang pemanah dengan anak panahnya. Aku berjalan santai, sambil meregangkan beberapa otot di bagian tanganku, sarung tangan setengah jari memudahkanku untuk melakukan manuver terhadap senapan. Selain itu, ini bisa mencegah kerusakan kulit akibat memegang senapan terlalu lama. Setengah perjalanan dari pemanasan, seseorang menyembunyikan diri dari kegelapan, beradaptasi di balik pohon. Sosok itu kabur dan muncul lagi, menimbulkan kecurigaan yang meningkat. Mataku melihat semuanya. Meskipun cukup gelap, aku merasakan keberadaannya, langsung mengambil pistol dari saku celana dan mengendap-endap, melangkah kaki dengan pelan dan memeriksa keadaan sekitar. Sosok itu kembali diam, beberapa langkah ke depan, membuatku semakin ingin membunuhnya. Kedua tanganku sudah siap menarik pelatuk, pisau yang sudah disiapkan. Ini menjadi alat tambahan untuk pengganti pistol. Begitu aku mendekat dan menodong pistol hitam kepadanya, sosok itu kembali jelas. Ternyata itu adalah Alvin, tentara proletar yang baru direkrut. Tidak sepertiku yang sudah mencapai tingkat sersan. Dia sedang santai di bawah pohon, terkesan kabur dan mengabaikan misi. Padahal dia tidak pernah mendapatkan perintah berupa patroli malam. Aku pernah berpatroli meskipun para atasan jarang memberikan perintah padaku. "Hoi! Apa yang kau lakukan disitu? Bukankah mereka menyuruhmu tidur?* Aku bertanya, curiga dengan gerak-gerik anak baru itu. Alvin setengah terbangun dan bersandar di batang pohon. Meskipun gelap, dia bisa merasakan keberadaan di sekitar. Mungkin beruang ganas tidak akan mendekati Alvin begitu saja. "Oh. Anak baru. Aku sedang bersantai di bawah pohon. Meskipun ini cukup liar dan di luar markas. Aku sudah terbiasa melakukannya." Alvin merespon, baru menjawab seadanya. Tidak banyak waktu, aku tidak bisa duduk bersamanya karena tidak mau membuang waktu hanya karena itu. Berdiri di depannya sudah cukup untuk menghemat tenaganya. "Bodoh sekali. Mereka akan memarahimu begitu kau masuk ke dalam." Alvin tertawa kecil, rambut merah yang hampir menyatu dengan ranting. Masih mengenakan seragam prajurit, ban lengan berwarna kuning masih melekat di lengan bagian kiri. Aku sudah melepaskan ban lengan percobaan beberapa waktu yang lalu sebelum hukuman itu terjadi. "Tidak secepat itu. Aku tidak pernah dihukum karena tidak disiplin sepertimu. Malahan aku sering dipuji begitu mereka melihat kemampuanku." Aku sedikit kesal, membuang muka dan mengontrol emosi lebih baik. Tidak etis jika aku mengeluarkan amarah di depan orang lain kecuali mereka melakukan kesalahan yang fatal. "Kembali ke markas secepatnya! Aku memberikan perintah padamu! Kita akan bertemu di sesi latihan nanti." Belum sempat meninggalkan Alvin, Alvin mengeluarkan barang yang menarik perhatianku, memaksaku tidak pergi dan pemanasan seperti biasanya. "Kamu memberikan barang ini padaku. Kurasa aku perlu mengembalikannya." Alvin memberikan konfirmasi bahwa aku perlu mengambil kembali barang itu. Barang itu, sebuah spiritus. Entah kenapa aku melemparkan barangnya padaku. Mungkin ini adalah bukti pertemuan untuk tentara Reshan seperti kita. Sebuah refleksi yang bisa mempertemukan kami. Pilihan yang sulit. Mungkin aku menerimanya namun hubungan yang pendek dan tidak terlalu penting. Aku kembali membalikkan badan lalu bergerak untuk pemanasan sebelum matahari terbit. Meregangkan lengan agar bisa memperkuat otot. Meskipun gelap dan sejuk, ini terasa menyenangkan. "Baiklah. Kalau kau tidak ikut denganku, aku akan meninggalkanmu. Itu saja." Alvin kembali tersenyum, kembali mengikuti jejak seorang pemuda sepertiku. Kami berdua Ini pemandangan yang indah sebelum latihan serius dimulai. [*^*] Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Oktober 2028, Semua prajurit dikumpulkan oleh sirine darurat. Melupakan aktivitas yang mereka lakukan demi menaikkan level tentara Negara Reshan yang sedang konflik berat, melawan dua negara adidaya. Jumlahnya sekitar 1000 orang. Tidak terlalu banyak bagi militer yang kuat seperti kami. Semua senapan buatan Reshan telah dikumpulkan. Barisan yang rapi dan teratur, siap latihan dengan mengeluarkan darah mereka. Aku berada paling depan, terlalu menguntungkan karena aku berpisah dengan anak baru itu. Untung saja pangkatku cukup aman untuk pemuda sepertiku. Jika tidak, aku mendapatkan hadiah berupa teriakan yang tiada hentinya meskipun sudah berdampak tapi tidak separah prajurit pada umumnya. Tak lama kemudian, seorang atasan, memiliki pangkat yang lebih tinggi, menaiki podium dan memantau semua prajurit yang dibangun untuk melakukan pemeriksaan. "Ura! Ura! Всем доброе, утро! Saya atasan kalian, Mayor Jenderal Gazan Ekovic, berdiri di podium ini untuk memeriksa keadaan kalian sebagai prajurit. Kali ini, senior kalian akan melihat kemampuan kalian apakah kalian pantas menjadi pasukan Reshan yang kuat atau tidak." "Selain itu, aku mendapatkan laporan bahwa keadaan Negara Reshan semakin lebih buruk. Meskipun Ace Spyxtria Keenam, Rivandy Lex, atau Reinhardt Lexton, sudah direkrut oleh Agen Persatuan, Esterio, kami tidak bisa menggunakan lulusan Akademi Militer Spyxtria karena hanya satu orang yang selamat. Jadi, tujuh siswa dan siswi sudah dikatakan keluar dari akademi itu." "Sekarang, aku ingin kalian harus lebih kuat agar kalian bisa lebih kuat dan bisa menyamakan kekuatan Richel Renji, Ace Spyxtria yang berikutnya. Kita akan bertemu dengannya di liburan musim dingin nanti." Semuanya terdiam, cukup tahu bahwa mereka tidak bisa merekrut kedua nama itu karena mereka sudah berpihak pada sebuah perdamaian. Jadi, kita perlu menunggu lulusan akademi militer di Roskoria yang mau bekerja pada pihak militer. Nama kedua orang itu cukup terkenal di kalangan militer. Sayangnya, mereka tidak cukup puas karena mereka ingin menambah dua nama itu menjadi senjata rahasia mereka untuk meningkatkan prajurit mereka. "Sekarang, kami menunggu kalian di medan perang di perbatasan dengan konflik yang tidak kunjung selesai. Katakan saja bahwa kita akan menunjukkan pada dunia bahwa kami yang menjadi yang terbaik!" Semuanya bersorak, termakan oleh motivasi yang dikeluarkan oleh atasan itu. Aku tidak terlalu nafsu untuk menjadi yang terbaik. Setidaknya, aku bisa mengalahkan 2 Ace Spyxtria secara bersamaan. Ku sudah menjadi prestasi yang cukup baik. Latihan dimulai, para senior, letnan kolonel dan di sekitar melihat bagaimana kami menembak, berkelahi, dan menggunakan tank di keadaan sejuk ini. Aku yakin mereka akan puas. Seruan dan teriakan yang nyata, membakar semangat para prajurit untuk maju ke depan. Tembakan yang dilancarkan memberikan apresiasi pada atasan untuk memuji tapi tidak cukup. Perlu belajar lebih intens lagi biar menjadi prajurit yang luar biasa, seperti dua Ace Spyxtria itu. Aku sedang latihan bela diri, para senior mempertemukan anak buahnya dan anak buah yang lain. Demi menambah pengalaman dalam bela diri. Karate, Taekwondo, dan bela diri yang lainnya sudah difilter menjadi beladiri yang pantas bagi prajurit Reshan. Kali ini, aku berpasangan dengan anak baru itu, yang ramah dan tenang. Tidak terlalu penting apakah kami bisa bekerja sama layaknya dua proletar yang akur. "Yo! Kita bertemu lagi." Alvin mengucapkan halo dan melambaikan tangannya. Langsung pada intinya, tidak bahas sana bahas sini. Waktu akan terkuras begitu saja jika itu terjadi. Aku ingin tahu namanya dan potensinya seperti apa. "Sebelum itu, kita berkenalan terlebih dahulu. Namaku adalah Rein Stealth." "Alvin Stealer, dari Kota Zenit." "Zenit? Kau pasti bercanda." "Kau tidak perlu iri, Rein. Zenit cukup aman sekarang. Hanya mengatasi koruptor yang tersisa." Rein semakin bersemangat, latihan yang dilakukan selama ini akan menentukan segalanya. Jika gagal pun, ReIn tidak mempermasalahkan itu. Hanya sebuah uji coba. "Siap untuk bertarung?" "Aku siap kapan saja. Kemarilah!" Aku dan Alvin langsung memberikan perlawanan, menjadi tontonan yang lain seiring berjalannya waktu. Meskipun ini merupakan latihan, ini menarik ditonton, sama seperti pertandingan beladiri pada umumnya. Semuanya bersorak, berjudi seperti orang bodoh untuk pertarungan ini. Tidak ada manfaat sama sekali. Mereka hanya menghabiskan waktu untuk menonton, bukan latihan. Aku dan Alvin langsung bertukar serangan, tidak ada yang meleset. Semuanya kena. Ini cukup tergantung pada daya tahan tubuh. Siapa yang paling kuat, ialah yang menjadi pemenang. Pertarungan sampai di titik penghabisan. Sudah banyak waktu yang terkuras tapi tidak ada yang mengalah sama sekali. Sampai ada yang mendukung kontestan yang akan menjadi pemenang. Hingga pada akhirnya, kami tumbang. Semuanya puas, tidak ada yang tahu soal prediksi ini. Satu per satu penonton itu meninggalkan kami tumbang di tanah, kembali latihan setelah itu. Rasanya cukup menyenangkan namun melelahkan. Aku terkekeh, banyak luka akibat efek bela diri. Tidak apa. Aku sudah terbiasa mendapatkan luka ini. Nanti juga terbiasa dengan perang nanti. Alvin juga membalas dengan senyuman. Ini akan menjadi anugerah tersendiri bagi Alvin karena mendapatkan relasi yang lebih baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD