[Vania Delivia] : Sebelum Perang

1510 Words
23 Maret 2029, kondisi dunia semakin kacau, banyak agen pemberontak yan bergerak. Sang Revolusi, Dragon mulai membuat dunia ketar-ketir dengan aksi yang dilakukannya. Lebih ganas daripada sebelumnya. Menghilangnya Night Angel dan Red Arctic mendapatkan efek yang lebih besar. Esterio maupun Regentria kehilangan jejak yang dilakukan oleh Red Arctic itu. Banyak kekacauan yang terjadi. Apalagi di negara Breshish. Kekalahan MI6 karena tidak bisa menangani Red Arctic menjadi aib bagi mereka sendiri. Banyak ketidakamanan yang terjadi, dimana Tentara Khusus Breshish, SAR sudah tidak berguna di hadapan Red Arctic, yang memberontak akibat alasan yang cukup rumit. Kekacauan itu tidak sampai di Breshish, sudah menyebar ke Euro Barat dan Tengah. Ini akan menjadi aib bagi Negara Reshan karena sudah memberikan rekrutan yang terburuk yang pernah ada. Sebuah kota yang masih damai, diamankan oleh tentara dan polisi negara Reshan. Banyak Tak yang berkeliaran demi melakukan patroli yang bertahap. Para penduduk bisa menjalankan aktivitas mereka. Memaklumi dengan serdadu yang berkeliaran di kota. Bukan berarti tidak ada kejahatan. Banyak pengangguran dan gelandangan yang tersedia di sana. Di hari sekolah menengah atas, seorang gadis yang mengenakan pakaian sekolah, tas yang cukup berat. Paras cantik yang tidak terelakkan. Cahaya musim semi, memperindah keberadaan gadis itu. Tubuh yang berisi untuk remaja gadis SMA di Reshan. Namun, perlu belajar giat agar bisa lulus dengan maksimal. Tidak dengan kelas akselerasi di Kerajaan Reshan. Langkah kaki yang cepat sekaligus panjang akan membawanya ke sekolah. Kondisi kota yang kurang kondusif membuat Vanya perlu hati-hati, mengurangi aktivitas yang tidak perlu dilakukan. Sesampainya di sekolah, Vanya bertemu dengan beberapa teman di kelas, membahas kondisi yang sama setiap harinya. "Hei. Vania. Apakah kamu melihat berita belakangan ini? Tentara Reshan semakin waspada. Sepertinya, mereka mau berperang." Teman sebangku Vania, Sevachy memperlihatkan berita melalui sebuah smartphone canggih. "Tentu saja tidak..aku sudah bosan dengan keadaan seperti ini. Kau tahu." Vania merespon, menatap ke luar jendela beberapa saat. Teman yang lain, Vasha memberikan topik dan mengarahkan ke arah yang cukup sensitif. Meskipun militer adalah pembahasan yang cukup umum, namun tidak semua orang bisa membicarakannya, apalagi membahas politik Reshan yang tidak kunjung selesai. "Hei! Bagaimana dengan siswa dan siswi di Akademi Spyxtria? Angkatan yang baru masih lengkap 8 orang. Beda dengan sebelumnya." "Tidak ada yang selamat. Mereka dikeluarkan pada akhirnya. Jadi, aku tidak ingin mendengar militer untuk saat ini." Vania protes, sedikit mengabaikan teman sebangkunya. "Lagipula, hanya Rivandy dan Richel yang menjadi Ace Spyxtria. Setelah itu, mereka malah menghilang begitu saja." Vania kembali menjelaskan, dengan sebuah pesimis dan keraguan. "Tapi, aku sangat menyukai Rivandy. Selain tampan, dia sangat cerdas dan jenius. Aku ingin meminangnya sebagai suami idaman." Vasha membuat harapan, agar mendapatkan pria idamannya meskipun tidak bisa. "Tidak usah berharap lebih jauh. Dia sudah tidak ada dan menghilang begitu saja." Vania memperingatkan, sudah tahu kondisi yang merugikan akibat insiden yang menghantuinya. "Eh?! Tidak mungkin." Mereka terus mengobrol, tiada hentinya. Memang setiap dua sampai tiga gadis berkumpul, butuh waktu yang cukup lama untuk mengakhiri dialog mereka. Bel berbunyi tak lama kemudian, memerintahkan para murid SMA untuk masuk ke kelas dan langsung belajar. Ini cukup sulit mengingat ada yang bolos pelajaran karena membosankan atau alasan yang lain. Mereka langsung duduk di tempat duduk masing-masing. Seorang guru dengan membawa laptop canggih untuk memeriksa absen maupun memulai pelajaran. Ia tidak Isa jauh dari genggaman laptop itu. "Baiklah. Anak-anak! Kelas akan dimulai hari ini." Semuanya langsung duduk, berhadapan langsung dengan guru yang ada di depannya. Teknologi yang cukup maju dan dikelola dengan baik. Jadi, mereka tidak perlu menggunakan buku sebagai pelajaran di Negara Reshan. "Selamat pagi, semuanya. Hari ini, kita akan mempelajari tentang pendidikan kewarganegaraan. Sebelum itu, ..." Vania cukup memperhatikan pelajaran tapi tidak sepenuhnya. Berniat bolos pelajaran untuk menenangkan dirinya. Ini cukup stres karena mereka perlu meningkatkan kualitas mereka sampai di jenjang perkuliahan. Setelah mengikuti pelajaran yang membosankan selama 8 jam, Vania memiliki untuk tidak melanjutkan pelajaran, memilih pulang dan istirahat di rumah. Sebelum pergi, ada dua siswi yang mengajaknya ke suatu tempat untuk menghilangkan stress mereka. Mereka ingin mengajak Vania untuk bersenang-senang setelah pelajaran. "Vania. Apakah kamu punya waktu? Kita akan ke bar." Mereka, Vasha dan Sevachy mengajak Vania untuk pergi ke bar. "Untuk apa kalian ke bar? Itu untuk orang dewasa, tahu." Vania bertanya balik, sambil mengemas barangnya lalu pulang. "Kita mencari jodoh. Banyak orang pintar dan kaya yang pergi ke sana. Jadi, kita bisa mendapatkan pasangan." Sevachy menjelaskan tujuan pergi ke bar, minum jus yang ringan. Vania menolak. Bukan berarti dia tidak mau. Itu hanya membuang waktu karena tenaga Vania sudah terkuras akibat aktivitas sekolah yang melelahkan itu. "Tidak. Terima kasih. Aku ingin pulang untuk memulihkan tenagaku." Vania sudah membereskan barangnya, langsung pulang dan memutuskan untuk tidak ikut dengan mereka berdua, temannya. Mereka memaklumi Vania. Gadis yang cukup malas atau cepat lelah. Mereka bisa mengajak Vania lain waktu, kondisi yang luang dan tidak ada halangan. "Baiklah. Kami akan pergi dan sampai jumpa besok." Mereka melambaikan tangan sebagai perpisahan dan langsung menghubungi dengan smartphone canggih mereka, bisa menggunakan fitur yang biasa mereka lakukan. Vania kembali berjalan meninggalkan kelas, langsung memasang earphone tanpa kabel dan menyalakan musiknya. Musik yang menenangkan dan nada yang pas. Lebih indah dengan membayangkan pemandangan di khayalannya. Gerbang sekolah Vania dipenuhi dengan siswa dan siswi. Mereka gerak cepat berlalu lalang dan berkeliaran ke sana kemari. Ada yang langsung pulang dan ada yang perpustakaan elektronik terlebih dahulu. Vania sudah mejauh dari wilayah sekolah, berjalan sendirian. Mengabaikan toko makanan yang sedang buka karena sudah membawa bekalnya sendiri. Menghemat pengeluaran adalah sebuah keharusan bagi gadis berkualitas seperti Vania. [***] Perjalanan yang cukup panjang, butuh 4 km untuk sampai di rumahnya. Langkah kaki yang cukup cepat, pikirannya sudah jatuh ke dalam ritme dan irama. Berjalan sendirian menjadi aman dan nyaman. Ada seseorang yang khawatir dengan kondisi Vania, berjalan sendirian dan tidak ada penjagaan yang ketat. Padahal, kejahatan Negara Reshan cukup meningkat. Jadi, Angkatan Darat Reshan harus mengadakan patroli secara bertahap. Seorang Mayor yang berada di atas Tank T-109 milik Reshan datang menghampiri Vania. Gerakan tank yang cukup lambat tapi bisa memberikan serangan dan menghancurkan mobil dengan rodanya. Mayor itu memanggil Vania beberapa kali. Tapi, tidak ada respon yang berarti. Panggilan kedua maupun ketiga dilancarkan tapi sama saja. Vania tidak dipanggil sama sekali. Mayor itu frustasi. Karena Vania sudah mengenakan headset tanpa kabel, membuat ide busuk mayor itu semakin menjadi. Butuh rencana cemerlang agar gadis itu bisa mengabaikan kesenangan sementara. Mayor itu langsung mengambil AK-47 dan menembakkan di udara, menimbulkan suara yang bising sampai mengejutkan Vania. Dikira Vania akan diserang oleh seorang penjahat yang menggunakan senjata api. Tapi, bukan. Itu adalah senapan AK-47 milik tentara Reshan. Vania langsung berbalik badan, menaikkan tensi darahnya. Dia mematikan lagu yang diputar di smartphone canggih miliknya dan mengoceh sekaligus mengumpat kepada mayor itu. "Sialan kau! Apa yang kau lakukan?! Kau hampir merusak telingaku." Vania mengomel, tidak takut kepada Mayor tersebut. Mayor itu cukup tenang, menghadapi wanita yang kesal kepada suara tembakan itu. Dia duduk santai dan menghirup cuaca negara Reshan. "Hoi! Salah sendiri. Kenapa pualng sendiri?" Mayor itu membalas umpatan lawan bicara dengan tenang, masih bersandar di atas Tank, bisa melihat Vania. Mayor itu sengaja memperlambat laju tank sampai menyamai laju gerak manusia. Bahkan orang berlari bisa lebih cepat daripada tank yang bergerak. "Apa maksudmu? Jangan ganggu hidupku!" Mayor itu bersikeras, tidak membiarkan gadis itu berjalan sendirian. Jika dia diperkosa dan dihamili, akan mendapatkan pengurangan skor kepercayaan rakyat Reshan. "Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian sampai kamu tiba di rumahmu." Daripada masalah yang semakin tidak bisa diselesaikan, Vania memutuskan untuk ikut dengan Mayor itu, menaikki tank dan menumpang seperti seorang supir taksi. Tank itu otomatis berhenti, Roda yang terdapat di bawah tank langsung berubah jadi jet. Namun, tidak menjadi masalah bahwa tank kemampuan jet lebih baik daripada tidak sama sekali. Di tengah perjalanan, Vania hanya diam saja. Tidak bisa diajak bicara dan fokus berhadapan dengan kesibukan sendiri. Sementara itu, Mayor itu kembali memandang dan memantau keadaan sekitar apakah musuh akan menyerang atau tidak. Ini cukup bermasalah. "Kau sering menggunakan alat rupanya. Dasar lemah. Kau tidak akan bertahan jika kau adalah wanita bodoh dengan memperhatikan harga diri smartphone di depannya." Vania cukup tersinggung, tapi tidak sepenuhnya, menganggapnya angin lalu. Tapi, itu tidak berlaku pada kalangan tertentu dan kondisi tertentu. "Oh iya. Aku ingin kamu mendengar ini. Kau tidak bisa meneruskan jenjang kuliah. Cepat atau lambat, mereka akan menutup semua mimpimu dari dalam." Kutipan yang meresahkan. Namun, itu tidak didengar oleh Vania. Vania justru mengabaikan mayor itu. "Emangnya aku peduli?" Vania tampak meresahkan, tidak cukup mendengarkan kutipan mayor itu. "Kau tidak pernah berkembang, itulah kau menjadi seorang l***e di Negara Reshan ini." "Sialan kau! Apa masalahmu? Apa yang kau inginkan?" Setelah beradu mulut cukup lama, Vania sudah sampai di rumahnya dan langsung turun dari badan tank. Kesal seperti biasanya dan kembali melanjutkan aktivitas di rumah. Sementara itu, tank yang masih terbang rendah kembali berjalan seperti tank pada umumnya, lambat. "Sekarang, kita mau kemana? Sepertinya dia marah padamu." Operator tank tersebut bertanya, main-main. "Masa bodoh dengan blyat itu. Kita kembali patroli di sektor yang lain siapa tahu kita ketahui keberadaan mereka.* Mayor itu memerintahkan untuk maju dan mengecek sektor yang lain. Namun, kehidupan Vania akan berubah begitu mengalami kejadian yang cukup menekannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD