Pada tanggal 5 September 2029, tepatnya pukul 16:34, lima buah nuklir diluncurkan dari Kutub Utara dan mengenal 5 kota sekaligus. Nuklir itu menghancurkan banyak korban dan memperparah hubungan itu.
Diketahui, pemuda Reshan itu mengaktifkan nuklir dan tenggelam entah kemana. Yang pasti, dia menghilang begitu saja begitu nuklir diaktifkan. Tidak ada yang bisa menemukannya. Sebuah putus asa menariknya ke dalam air yang dingin itu.
Jam 19:00, nuklir itu meledak, menyisakan puing-puing yang menumpuk. Menghilangkan keberadaan kota dalam sekejap mata. Ini menyebabkan banyak konflik yang semakin membesar, mampu menimbulkan keretakan pada persatuan itu.
Tidak ada yang dilakukan oleh Uni Persatuan karena mereka tidak bisa menangani perselisihan yang semakin panjang. Semuanya jadi kacau dan banyak yang mengakhiri hubungan mereka seperti pasangan yang bercerai.
Keesokan harinya, sebuah pengumuman yang tersebar di seluruh dunia. Bahwa Ilberia, Fen Yu menyatakan perang pada Reshan, begitu juga dengan sebaliknya. Tidak hanya itu, Karinia Utara tidak mau diam, langsung bergerak cepat dan mengirimkan serdadu mereka untuk menyerang.
Nuklir dilarang digunakan oleh sejumlah negara. Namun, mereka menyimpannya secara diam-diam, agar mereka bisa menggunakan nuklir untuk penggunaan yang lain seperti pembangkit listrik, pembangunan energi, dan lain sebagainya.
Kelima negara kuat itu kehilangan ibukota mereka, memutuskan untuk memindahkan kota besar sebagai ibukota yang darurat misalnya Roskoria berpindah ke Kota Besar Zenit. Sudah menjadi biasa bahwa Reshan selalu memindahkan ibukota Zenit ke Roskoria lalu kembali lagi kepada Zenit.
Tiga hari kemudian, Hari Minggu, Vania kembali terbangun dan kembali bangkit dari tidurnya, terpaksa menjalani hari yang rapuh semenjak pengumuman perang itu. Kehidupannya rusak berkeping-keping. Tidak bisa berbuat banyak lagi.
Pemerintah Reshan memutuskan untuk menghentikan aktivitas sekolah sementara waktu, sampai waktu yang tidak ditentukan. Kekacauan ekonomi menjadi dampak yang nyata bagi Vania. Dia tidak bisa membeli barang secara sembarangan, perlu berpikir dua kali untuk membeli sebuah makanan.
Setelah mandi, Vania mengenakan kimono tanpa pakaian dalam, sendirian tanpa orang tua yang menemaninya. Sejak awal, mereka meninggalkan Vania demi karir mereka. Maka dari itu, Vania menjadi gadis yang mandiri.
Berita di TV, sosial media, gosip yang membludak dengan berita Perang Dunia Ketiga. Tidak ada habisnya dibicarakan, banyak rakyat publik yang cukup takut karena mereka akan dimusnahkan dengan sebuah nuklir.
Ini sama seperti nuklir yang cukup parah belakangan ini, nuklir Chernobyl, yang menghancurkan Priyat dan menjadikan tempat yang tidak layak huni. Jadi, mereka perlu berhati-hati untuk mengelola nuklir.
"Pemirsa yang Terhormat. Saat ini. Banyak kerusuhan yang terjadi di berbagai negara di Bagian Timur Euro. Presiden Reshan, Rankovic Ravaya, mengumumkan sebuah keputusan yang ….."
TV dimatikan, tidak tahan dengan laporan yang menyebar pesat. Perlu istirahat dari fakta yang terus menyerang mereka. Vania tampak kelelahan, tidak mandi terlebih dahulu karena tidak ingin melakukannya.
Vania menghela nafas, duduk di sofa sambil memandang pemandangan yang cukup kacau dari luar. Tidak ada aktivitas yang berjalan normal. Imbauan Pemerintah Reshan kepada masyarakat untuk tetap di rumah. Sama seperti Pandemi COVID-XIX yang melanda Reshan hampir satu dekade yang lalu.
Jika kota ini diserang, tidak tahu kemana Vania harus pergi. Vania tidak mempunyai persiapan yang cukup matang karena tidak ada tempat yang cocok untuk dijadikan persembunyian. Banker saja tidak punya.
"Menyebalkan. Kenapa Perang Dunia Ketiga malah meletus? Ini bisa jadi mengulang kembali sejarah yang bodoh itu."
Vania mengeluh, tidak ada yang bisa dia lakukan di tengah kondisi yang meresahkan itu. Sampai Vania tidak merasakan sesuatu. Mereka tidak menghubungi Vania akhir-akhir ini, rasanya sunyi.
"Apa yang harus kulakukan saat sekarang ini? Apakah aku perlu meninggalkan tempat ini dan mencari tempat yang aman?"
Vania berpikir dengan sesaat. Tidak peduli apa yang dipikirkan, ia ingin pergi dari kota ini begitu keamanan kota sudah tidak bisa dipercayakan lagi.
Rumah yang ditinggali Vania cukup besar. Namun, sebagian besar barang yang terdapat pada rumah itu tidak bisa dibawa Vania. Hanya dua tas yang bisa dibawa Vania untuk keluar dari sini.
Meskipun kota yang ditinggali Vania cukup alam untuk diserang tentara lawan, tidak menutup kemungkinan kota akan diserang oleh nuklir.
Keamanan kota ditingkatkan, tidak bisa meninggalkan kota secara sembarangan. Meskipun begitu, Vania tidak peduli dengan keamanan kota yang diperketat.
Setiap hari, Vania berada di sofa dan membuka handphone yang sudah memiliki fitur yang lebih canggih. Handphone miliknya bisa digunakan sebagai alat untuk mengakses Virtual Reality. Tinggal mengaktifkan fitur VR, dan bisa dijalankan tanpa halangan sekalipun.
Setelah menggunakan Handphone untuk beberapa saat, Vania langsung keluar dari dunia di dalam handphone itu, lalu berniat untuk menghabiskan waktu di dalam rumahnya. Mencari buku lalu membacanya dan memandang suasana dari luar jendela selama beberapa kali.
Bisa jadi, Vania membersihkan rumah yang cukup besar mengingat aktivitas itu bisa memakan waktu yang lama. Namun, tenaganya tidak mengizinkan,
Tak lama kemudian, Vania mendengar sebuah bunyi dari bel pintu. Tidak sekali, dua sampai tiga kali bel dibunyikan dengan jeda waktu 10 detik.
Vania terpancing, keluar dari kamarnya dan menuruni tangga rumah itu, bergegas ke pintu rumahnya.
"Siapa yang membunyikan bel itu? Aku sedang istirahat."
Vania membuka pintunya, wajahnya berubah total. Ingatan Vania terhadap orang itu masih ingat di dalam kepalanya.
Ternyata itu adalah seorang mayor tentara Reshan yang mengejeknya ketika pulang sekolah.
"Vania Delivia. Aku datang kesini untuk memberikan surat ini padamu. Para Atasan Reshan mengirimkan surat ini untuk memintamu agar bisa berkontraksi pada Negara Reshan."
"Karena perang Kau tidak bisa melanjutkan perjalanan pendidikanmu di jenjang kuliah. Ujian Universitas sedang ditunda dan masih menunggu keputusan final. Sebaiknya kaj
"Apa masalahmu? Kenapa kau malah mengunjungiku di saat kondisi buruk begini? Lagipula kenapa kau malah tahu apa yang kualami? Jangan-jangan kau menguntit ku?"
Mayor itu tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali. Seragam militer yang digunakan tidak kusut, membuat Vania semakin kesal dengan keberadaan Mayor itu.
"Aku ulangi. Aku datang kesini untuk memberikan surat ini padamu. Para Atasan Reshan mengirimkan surat ini untuk memintamu agar bisa berkontraksi pada Negara Reshan."
"Cari saja orang lain! Jangan pedulikan aku!" Vania menolak surat itu dan menutupi
Namun, Mayor itu menahan pintu. Tangannya memegang gagang pintu dan menarik keluar. Vania perlu menggunakan tenaga lebih, namun percuma saja. Mayor itu lebih kuat.
Vania kesal, menambahkan Tendi darah pada tubuhnya. Tida ada yang tahu bahwa Mayor itu lebih kuat dalam tenaga menarik pintu.
"Terima saja surat ini! Kau perlu memikirkan secara mendalam." Mayor itu bersikeras, tidak mau kalah dengan gadis itu, memaksa menerima surat itu karena pemerintah.
Kali ini, Vania menyerah, menerima surat itu secara terpaksa agar menyelamatkan pintu yang terancam rusak akibat tekanan dari dua arah yang berbeda.
Setelah menerima surat itu, Mayor itu langsung pergi, meninggalkan Vania sendirian. Surat yang dipegang tangan Vania menekan psikologi Vania, menambahkan durasi dilema. Apakah lanjut mengikuti kuliah ataupun tidak.
Pasalnya, Vania sudah mendapatkan seleksi universitas dan akan mengikuti pelajaran mata kuliah. Akan cukup sia-sia karena kondisi negara Reshan yang sudah tidak aman lagi.
Vania kembali masuk ke kamarnya dan mebaca surat itu, cukup jarang orang membaca surat secara langsung karena teknologi zaman ini sudah mendekati masa depan. Tapi, karena Perang Dunia Ketiga meletus, masa depan itu berubah menjadi suram.
Setelah membaca surat, Vania memegang surat cukup lama, mencari keputusan yang tepat.
Jika Vania ikut militer, Vania akan mendapatkan fasilitas berupa keamanan dan kehidupan lebih baik setelah perang. Sebaiknya, jika Vania tidak mengikuti militer, Vania dicap sebagai warga sipil,repot mencari tempat berlindung.
Pikiran Vania sangat tertuju pada isi surat itu, surat yang sudah dibuat oleh Pemerintahan Reshan. Banyak kelebihan dan kekurangan jika Vania memutuskan sesuatu.
Keputusan ada di tangan Vania.
"Apa yang harus kulakukan? Apakah aku perlu ikut militer agar aku bisa aman dan mendapatkan hidup yang lebih baik? Tapi, kan
Vania teringat bahwa ia pernah nonton film perang di bioskop. Resiko yang dihadapi tentara tidak sedikit. Banyak luka dan latihan yang keras adalah salah satu resiko menjadi tentara. Terbarunya, Shell Shock menyerang Tentara Breshish selama Perang Dunia Pertama.
Setelah memikirkan cukup lama, Vania memutuskan untuk ikut dengan penuh pertimbangan. ini juga sudah siang mengingat Vania berpikir cukup lama. Perutnya tidak menandakan untuk harus makan karena Vania tidak terlalu memikirkan hal itu.
Terdapat tempat dan waktu yang disediakan di dalam surat itu jika mau bergabung dengan militer Reshan.
[Di Lapangan Luas Dresya, Tanggal 6 September 2029 Jam 8:00]
Vania langsung membawa barang keperluan untuk menemaninya. Kartu identitas dan alat pribadi lainnya tidak ketinggalan juga. Barang yang tidak diperlukan ditinggalkan di rumah itu, termasuk koleksi perabotan rumah. Tidak ada yang penting dengan harta jika musibah sudah di depan mata.
Mungkin Vania tidak akan tinggal di ruang ini. Entah tentara Reshan atau tentara musuh yang menggunakan tempat ini untuk memenangkan pertempuran atau sebagainya.
Setelah menyiapkan beberapa barang; pakaian, kartu dentitas, handphone, dan peralatan darurat lainnya, Vania memutuskan untuk membersihkan rumah untuk terakhir kalinya.
Pagar dikunci dan semua pintu dikunci untuk keamanan. Namun, Vania sudah menyiapkan aksesnya sendiri untuk keluar dari rumah yang besar itu.
Rumah Vania cukup besar dari peninggalan orang tua. Bisa juga digunakan pasukan militer. Orang tua Vania telah meninggal akibat ledakan nuklir di Roskoria. Reaksi Vania tentang itu cukup tercengang namun tidak mengeluarkan air matanya.
Vania memilih untuk tidur di ruang tamu sebelum besok akan pergi ke tempat itu, berharap itu bukan tipuan semata. Urusan mandi dan sebagainya sudah dilakukan Vania sebelum matahari terbenam.
Jam 19:00, Vania bersandar di sofa, menggunakan beberapa lapisan pakaian agar tidak kedinginan. Musim gugur Negara Reshan cukup meresahkan dengan udara sejuk dan daun yang berguguran, sama seperti prajurit yang tewas pada pertempuran.
Ini hari pertama Vania akan mengikuti militer.